Jun 26, 2022 10:22 Asia/Jakarta

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan kunjungan Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, ke Tehran.

Saeed Khatibzadeh mengatakan pada hari Jumat (24/06/2022) bahwa kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa akan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian dan pejabat Republik Islam Iran lainnya mengenai masalah Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan perkembangan regional dan internasional.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa juga mentweet saat mengkonfirmasi kunjungannya ke Iran, seraya menekankan bahwa diplomasi adalah satu-satunya cara untuk kembali ke implementasi penuh JCPOA.

Josep Borrell dan Hossein Amir-Abdollahian

"Sebagai koordinator pembicaraan Wina, saya akan melakukan perjalanan ke Tehran untuk bertemu dengan menteri luar negeri Iran dan pejabat Iran terkait lainnya," tulis Borrell dalam tweetnya.

Spekulasi tentang kemungkinan kehadiran Borrell di Tehran dimulai dengan konferensi pers antara Amir-Abdollahian dan Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia di Tehran pada hari Kamis (23/6).

Mengacu pada konsultasi yang sedang berlangsung antara Ali Bagheri, Kepala Negosiator Iran, dan Enrique Mora, Deputi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, serta kontaknya dengan Josep Borrell, menteri luar negeri Iran berjanji bahwa konsultasi tentang JCPOA akan segera diadakan.

Pembicaraan putaran kedelapan di Wina tentang pencabutan sanksi, yang dimulai pada 27 Desember 2021, memasuki masa jeda pada 11 Maret 2022, atas saran Josep Borrell dan para perunding kembali ke ibu kota mereka untuk konsultasi politik.

Sejak itu, proses negosiasi hampir menemui jalan buntu karena penundaan keputusan Amerika Serikat untuk mengkompensasi tindakan ilegalnya terhadap Iran dan JCPOA.

Sebenarnya, pembicaraan Wina terhenti karena pemerintahan Joe Biden, meskipun mengkritik kebijakan tekanan maksimum Trump yang gagal, telah menolak untuk mengubah kebijakannya dan belum menerima pencabutan sanksi yang efektif serta pemberian jaminan yang kredibel kepada Iran.

Sekarang, syarat untuk menghidupkan kembali JCPOA dan bergabung kembali Amerika Serikat dalam perjanjian ini adalah untuk menjamin kepentingan Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan kunjungan Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, ke Tehran.

Dalam pandangan Republik Islam Iran, yang dapat menentukan kesepakatan yang langgeng adalah pencabutan sanksi yang efektif dan perlindungan kepentingan Iran dalam kemungkinan kesepakatan. Atas dasar ini, Iran telah memberikan proposal dan inisiatif yang diperlukan agar perundingan dapat mencapai kesepakatan.

"Tehran selalu menyambut negosiasi yang rasional dan berbasis hasil, tetapi untuk mencapai kesepakatan yang baik dan langgeng, perlu bagi pihak lain untuk mengesampingkan perilaku standar ganda dan kontradiksinya," kata menteri luar negeri Iran dalam percakapan telepon dengan Josep Borrell pekan lalu sebagai tanggapan atas permintaan negosiasi lanjutan.

Contoh nyata dari perilaku ganda dan kontradiktif Barat dapat dilihat dalam tindakan tidak konstruktif Amerika Serikat dan Troika Eropa baru-baru ini dalam mengadopsi resolusi anti-Iran di Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional.

Langkah tersebut memicu reaksi keras dari Iran, yang mematikan 27 kamera IAEA yang mengawasi fasilitas nuklir.

Pemerintah AS juga telah memberlakukan sanksi baru terhadap individu dan entitas Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Kehadiran Josep Borrell di Tehran sekarang dapat membantu memecahkan kebuntuan dalam proses negosiasi, tetapi hanya jika pemerintah AS memiliki kemauan politik untuk kembali ke kesepakatan JCPOA.

Pada Jumat (24/6) pagi, Enrique Mora memposting foto makan malam kerjanya dengan Josep Borrell dan Robert Malley, Ketua Tim Perunding AS, dan mengumumkan bahwa pembicaraan untuk menghidupkan kembali JCPOA telah menjadi salah satu topik utama pertemuan tersebut.

Enrique Mora, Deputi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa

Mengutip Robert Malley, Enrique Mora juga menulis, "Amerika Serikat berkomitmen untuk kembali ke perjanjian JCPOA."

Jelas, jika kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa selama kunjungannya ke Tehran membawa pesan baru dari Washington, konsultasinya dengan pejabat Republik Islam Iran akan menentukan apakah Amerika Serikat benar-benar berkomitmen untuk kembali ke JCPOA dan mengubah kebijakan terhadap Iran dan kesepakatan JCPOA, atau Amerika Serikat akan terus menjadi penghambat utama penyelesaian negosiasi dengan bersikap tamak dan tidak mengambil keputusan politik.(sl)

Tags