Jun 26, 2022 12:27 Asia/Jakarta
  • Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi
    Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi

Presiden Republik Islam Iran mengatakan, Iran tidakakan meninggalkan meja perundingan pencabutan sanksi.

Putaran kedelapan perundingan di Wina terkait pencabutan sanksi yang dimulai sejak 27 Desember 2021 memasuki masa jeda atas usulan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell dan para juru runding kembali ke negara masing-masing untuk melakukan konsultasi politik.

Pemerintah Joe Biden di AS yang mengklaim pendekatan diplomasi terhadap Iran dan mengaku berusaha kembali ke JCPOA, sampai kini belum mengambil langkah untuk menunjukkan niat baiknya.

Hampir seluruh peserta perundingan menghendaki konklusi cepat perundingan, tapi mencapai kesepakatan final masih menunggu keputusan politik Amerika terkait sejumlah isu tersisa yang penting dan vital.

Oleh karena itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell Sabtu (25/6/2022) tiba di Tehran dan setelah berkonsultasi dengan Menlu Iran, Hossein Amir-Abdollahian menyatakan misi utama kunjungannya ke Iran adalah upaya untuk menghapus kebuntuan dan memulai kembali perundingan untuk mencabut sanksi di Wina.

Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi di wawancara televisi keenamnya dengan rakyat setelah menjabat sebagai presiden, terkait kunjungan Borrell ke Tehran seraya menjelaskan bahwa Iran tidak berencana menghentikan perundingan, tapi tidak akan mundur dari tuntutannya, mengatakan, "Kebijakan kami adalah mencabut sanksi dan sanksi ini harus secepatnya dicabut, karena sangat zalim."

Presiden Raisi seraya menekankan bahwa pihak seberang harus kembali ke komitmennya menambahkan, selain jalur negosiasi, kami akan menempuh jalur untuk mematahkan sanksi.

Raisi menyebut resolusi anti-Iran di Dewan Gubernur IAEA dan selama proses perundingan pencabutan sanksi sebagai langkah keliru. "Badan Energi Atom Internasional (IAEA) lima belas kali membenarkan bahwa tidak ada penyimpangan di aktivitas nuklir Iran." (MF)

 

 

Tags