Jul 23, 2022 15:32 Asia/Jakarta
  • Ayatulllah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden RII Sayid Ebrahim Raisi.
    Ayatulllah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden RII Sayid Ebrahim Raisi.

Sejumlah peristiwa menarik di berbagai bidang terjadi sepanjang sepekan terakhir di Republik Islam Iran, di antaranya adalah kunjungan Presiden Turki ke Tehran.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama delegasi tingkat tinggi ekonomi dan politik tiba di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada Senin malam, 18 Juli 2022.

Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi menyambut resmi kunjungan mitranya dari Turki itu di Istana Sa'dabad, Tehran pada Selasa (19/7/2022) pagi. Acara penyambutan ini diiringi dengan lagu kebangsaan kedua negara.

Di antara agenda Erdogan dalam lawatan dua hari ke Iran adalah menghadiri sidang ketujuh Dewan Tinggi Kerja Sama Iran dan Turki yang membahas hubungan kedua negara dan langkah-langkah untuk meningkatkan hubungan Tehran-Ankara.

Presiden Turki juga menghadiri pertemuan ketujuh Astana di Tehran yang dihadiri oleh Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan ini membahas transformasi terbaru Suriah dan perang melawan terorisme. Erdogan juga bertemu dengan Putin di sela-sela pertemuan Astana tersebut.

Penandatangan sejumlah dokumen kerja sama dan nota kesepahaman antara Iran dan Turki, disaksikan langsung oleh Presiden kedua negara di Tehran.

Dokumen-dokumen kerja sama yang ditandatangani Iran dan Turki hari ini, Selasa (19/7/2022) mencakup bidang transportasi, transit, pertukaran pengetahuan dan budaya, olahraga, energi, pertanian, transaksi perdagangan dan ekonomi.

Sebelum penandatanganan dokumen-dokumen kerja sama Iran dan Turki, Presiden kedua negara melakukan pembicaraan empat mata secara terbatas dan tertutup.

Erdogan juga menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketujuh Negara-Negara Penjamin Proses Astana yang berlangsung pada Selasa malam, 19 Juli 2022 di Aula Pertemuan Kepala Negara di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran.

KTT ini melibatkan Presiden Republik Islam Iran dan Presiden Rusia. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran, Rusia dan Turki telah menggunakan proses yang disebut sebagai "Proses Perdamaian Astana" untuk mengakhiri lebih dari 11 tahun konflik di Suriah. Iran dan Rusia mendukung pemerintah legal Bashar al-Assad, namun Turki mendukung beberapa kelompok penentang pemerintah Suriah.

Dalam jumpa pers tersebut KTT Astana, Presiden Turki mengatakann, kami telah memutuskan untuk melawan semua kelompok teroris.

"Kelompok teroris masih aktif di Suriah dan melakukan operasi terorisme. Setiap orang seharusnya tidak mengharapkan Turki untuk tetap diam terhadap kelompok teroris. Turki memahami kekhawatiran Anda yang jelas tentang Idlib dan sedang mencari solusi mendasar. Kami fokus pada solusi politik dan diplomatik untuk menyelesaikan krisis Suriah. Dalam situasi ini, kita harus bersama. Perdamaian di Idlib adalah hasil dari negosiasi yang terjadi di antara kami," ujar Erdogan.

Presien Turki juga bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Dalam pertemuan ini, Rahbar menekankan pentingnya penjagaan keutuhan atas wilayah Suriah dan mengatakan, setiap serangan militer ke Suriah utara pasti akan merugikan Turki, Suriah dan seluruh kawasan, dan langkah ini akan menguntungkan para teroris.

Ayatullah Khamenei mengatakan, Republik Islam Iran menganggap keamanan Turki dan perbatasannya sebagai keamanannya sendiri. Anda juga harus menganggap keamanan Suriah sebagai keamanan Anda. Masalah Suriah harus diselesaikan melalui negosiasi. Iran, Turki, Suriah, dan Rusia, lanjutnya, harus mengakhiri masalah ini melalui dialog.

Sementara itu, Erdogan menyatakan bahwa posisi Turki mengenai integritas wilayah Suriah sudah jelas. Dia mengatakan, kami mengharapkan pemerintah Suriah untuk memulai proses politik. Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Astana, masalah Suriah ada dalam agenda khusus, dan kami berharap dapat mencapai hasil yang baik.

Teken Kontrak Jangka Panjang dengan Irak, Listrik Iran Terkuat di Kawasan

Menteri Energi Iran mengatakan, Iran adalah negara terkuat dalam produksi listrik di Asia Barat. Menurutnya, penandatanganan kontrak strategis jangka panjang di sektor listrik merupakan salah satu poros diplomasi dinamis regional Iran yang memiliki prospek cerah.

Ali Akbar Mehrabian, Selasa (19/7/2022) menuturkan, berdasarkan laporan internasional, Iran memiliki kapasitas produksi dan distribusi listrik terbesar di antara negara-negara Asia Barat.

Ia menambahkan, meski perkembangan industri listrik melambat dalam beberapa tahun terakhir, namun Iran tetap menjadi negara kawasan terkuat di sektor listrik, dan mencatat rekor peningkatan kapasitas pembangkit listrik tahun ini, sehingga mengindikasikan berlanjutnya proses tersebut.

Menurut Mehrabian, kekuatan Iran di bidang listrik tidak terbatas pada kapasitas terpasang di pembangkit-pembangkit tenaga listrik, dan berkat peningkatan pengetahuan dalam negeri, bukan hanya di bidang pembangunan, peningkatan, perbaikan dan pemeliharaan, yang menjadikan unit-unit pembangkit listrik Iran, termasuk di antara segelintir negara mandiri di dunia, bahkan Iran siap mengekspor berbagai layanan teknis di bidang listrik.

Menteri Energi Iran lebih lanjut menerangkan, gerakan ke arah penandatanganan kontrak-kontrak strategis jangka panjang di bidang listrik, merupakan salah satu poros diplomasi dinamis regional pemerintah Iran yang memiliki prospek cerah.

"Dalam hal ini, peluang kerja sama jangka panjang di bidang listrik dengan Irak, sudah terbuka, dan kontrak penting serta strategis dengan negara ini sudah kami tandatangani," imbuh Mehrabian.

Ia menjelaskan, sejumlah banyak bidang kerja sama Iran dan Irak sejak lama sudah ada, termasuk di antaranya kontrak-kontrak pembangunan dan pengembangan serta pemeliharaan unit-unit produksi listrik.

"Pada langkah pertama, kebutuhan energi dalam negeri dipenuhi, setelah itu kami akan membuka peluang kerja sama luas di bidang listrik dengan negara-negara tetangga," pungkasnya.

Gazprom Teken Kontrak Investasi 40 Miliar Dolar di Ladang Migas Iran

Nota kesepahaman investasi senilai 40 miliar dolar perusahaan energi Rusia, Gazprom, di ladang minyak dan gas Iran, baru saja ditandatangani.

Direktur eksekutif Perusahaan Minyak Nasional Iran, Mohsen Khazasteh Mehr, Selasa (19/7/2022) dalam jumpa persnya mengatakan, "Nota kesepahaman terbesar investasi bersejarah dalam industri minyak Iran, dengan perusahaan Gazprom senilai 40 miliar dolar, sudah ditandatangani."

Ia menambahkan, "Investasi 10 miliar dolar Gazprom yang diperuntukan bagi pengembangan ladang gas Pars Utara, dan Kish, pengembangan enam ladang minyak termasuk Mansouri, Ab Teimur, Karanj, Azar dan Changouleh, investasi senilai 15 miliar dolar Gazprom untuk mendongkrak kapasitas ladang gas Pars Selatan, tukar guling gas dan produk minyak dengan Rusia, serta investasi untuk merampungkan proyek Iran-LNG, di antara isi nota kesepahaman investasi tersebut."

Direktur eksekutif Perusahaan Minyak Nasional Iran menjelaskan, "Sebelumnya juga pada kondisi sanksi, kontrak senilai empat miliar dolar ditandatangani dengan Rusia, untuk mengembangkan tujuh ladang minyak Iran."

Khazasteh Mehr menegaskan bahwa minyak Iran tidak bisa dihapus dari pasar minyak dunia dan menuturkan, "Dunia membutuhkan minyak Iran, dan masalah ini membuktikan bahwa Iran adalah negara yang bisa dipercaya, dan stabil untuk memasok energi yang dibutuhkan dunia."

Rahbar: Serangan ke Suriah Rugikan Turki dan Kawasan, Untungkan Teroris

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menegaskan integritas teritorial Suriah dan mengatakan, segala bentuk serangan militer ke utara Suriah, pasti merugikan Turki, dan seluruh kawasan, serta menguntungkan para teroris.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (19/7/2022) dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan delegasi yang menyertainya menekankan peningkatan kerja sama dua negara terutama di bidang perdagangan, dan menyebut Rezim Zionis sebagai faktor utama pemicu perpecahan di antara negara-negara Muslim.

Ia menambahkan, "Amerika Serikat dan Rezim Zionis penjajah, tidak akan bisa mencegah gerakan mendasar rakyat Palestina."

Rahbar menilai kemuliaan dan keagungan umat Islam, tergantung pada kemampuannya melewati perbedaan-perbedaan selera, dan kewaspadaan dalam menghadapi kebijakan-kebijakan yang memecah belah.

"Salah satu faktor terciptanya perpecahan dan pemusuhan di kawasan adalah Rezim Zionis penjajah yang didukung oleh Amerika Serikat," imbuhnya.

Rahbar menilai masalah Palestina sebagai masalah pertama Dunia Islam, dan menegaskan, "Di tengah sambutan beberapa pemerintahan terhadap Rezim Zionis, bangsa-bangsa dunia menentang keras rezim ini."

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kita tidak boleh bersandar pada Amerika Serikat, dan Rezim Zionis Israel, dan menuturkan, "Hari ini Rezim Zionis, AS, atau pihak lain tidak akan mampu mencegah gerakan mendasar rakyat Palestina, dan buah dari gerakan ini akan menguntungkan rakyat Palestina."

Menjawab ajakan Presiden Turki untuk bekerja sama memerangi kelompok-kelompok teroris, Rahbar mengatakan, "Republik Islam Iran dalam perang melawan terorisme dapat dipastikan akan bekerja sama dengan Turki."

Pada saat yang sama, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa keamanan Turki dan perbatasannya, adalah keamanan Iran. Ia menuturkan, "Turki juga harus menganggap keamanan Suriah sebagai keamanannya sendiri."

Di sisi lain Rahbar menilai kuantitas dan kualitas transaksi dan kerja sama ekonomi Iran dan Turki jauh lebih kecil dari kapasitas yang ada dan mengatakan, "Masalah ini harus diselesaikan dalam perundingan-perundingan Presiden dua negara."

Ayatullah Khamenei juga menganggap peningkatan kerja sama Iran dan Turki di semua masalah kawasan sebagai hal yang perlu dan penting.

"Republik Islam Iran selalu membela pemerintah Turki dalam masalah-masalah internal, dan dalam menghadapi intervensi-intervensi asing," pungkasnya.

Bertemu Putin, Rahbar Menegaskan Hal Ini!

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama delegasi tingkat tinggi tiba di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada Selasa sore, 19 Juli 2022.

Setelah bertemu dengan Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi, Putin bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Uzdma Sayid Ali Khamenei.

Dalam pertemuan tersebut, Rahbar menekankan sikap Republik Islam Iran terkait penolakan terhadap agresi militer ke Suriah. Ayatullah Khamenei kepada Putin mengatakan, Amerika Serikat (AS) harus diusir dari wilayah timur Efrat (Furat) di Suriah.

"Masalah penting di Suriah adalah pendudukan wilayah subur dan kaya minyak di sebelah timur Efrat oleh AS. Masalah ini harus diselesaikan dengan mengusir mereka dari daerah tersebut. Republik Islam juga tidak akan pernah mentolerir kebijakan dan program yang mengarah pada penutupan perbatasan antara Iran dan Armenia," kata Ayatullah Khamenei.

Rahbar lebih lanjut menyinggung kerja sama antara Republik Islam Iran dan Rusia, dan mengatakan, kerja sama jangka panjang antara Iran dan Rusia sangat bermanfaat bagi kedua negara.

"Yang Mulia dan presiden kami sama-sama berorientasi aksi dan tindak lanjut, sehingga kerja sama kedua negara harus mencapai puncaknya pada periode ini. Barat sepenuhnya menentang Rusia yang kuat dan merdeka. Dalam kasus Ukraina, jika Anda tidak mengambil inisiatif, pihak lain akan menyebabkan perang dengan inisiatifnya sendiri. Jika jalan terbuka untuk NATO, mereka tidak mengenal batas, dan jika tidak dihentikan di Ukraina, mereka akan memulai perang yang sama beberapa waktu kemudian dengan dalih Krimea (Crimea)," tambahnya.

Ayatullah Khamenei menandaskan, AS menggunakn pemaksaan dan juga licik, dan salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya Uni Soviet adalah tertipu oleh kebijakan Amerika. Tentu saja, Rusia telah mempertahankan independensi dan kemerdekaannya selama waktu pemerintahan Anda.

Sementara itu Presiden Rusia mengatakan, tidak ada yang mendukung perang, dan hilangnya nyawa warga sipil adalah tragedi besar, tetapi dalam kasus Ukraina, perilaku Barat membuat kami tidak punya pilihan selain bereaksi.

Putin menjelaskan, pejabat beberapa negara Eropa mengatakan bahwa kami menentang keanggotaan Ukraina di NATO, tetapi kami menyetujuinya di bawah tekanan Amerika. Sikap ini menunjukkan kurangnya kedaulatan dan kemerdekaan mereka.

Dia menyinggung penyalahgunaan Amerika atas dolar sebagai alat untuk menerapkan sanksi dan merampok kekayaan negara-negara lain. Menurutnya, hal ini pada akhirnya akan merugikan mereka dan melemahkan kepercayaan dunia terhadap mata uang ini serta mendorong berbagai negara ke arah penggunaan mata uang pengganti.

"Sanksi terhadap Rusia merugikan Barat dan hasilnya adalah masalah seperti kenaikan harga minyak dan krisis pasokan pangan. Rusia dan Iran sedang merancang cara baru untuk menggunakan mata uang nasional dalam hubungan antara kedua negara," ujarnya.

Putin menegaskan, posisi dan sikap kami berdua dalam masalah Suriah, termasuk penentangan terhadap serangan militer di utara negara ini, sangat cocok satu sama lain. Wilayah timur Efrat harus berada di bawah kendali pasukan militer Suriah.

Putin menilai kerja sama kedua negara di berbagai sektor dan proyek mulai mengalami kemajuan.

"Iran dan Rusia tengah melancarkan perang bersama melawan terorisme, dan di bidang militer, kami berusaha mengembangkan kerja sama kedua negara dan juga kerja sama serta manuver trilateral dengan Cina," pungkasnya.

Kunjungan Presiden Rusia ke Iran dan Agenda Lawatannya

Presiden Rusia Vladimir Putin bersama delegasi tingkat tinggi tiba di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada hari Selasa, 19 Juli 2022 dan disambut menteri perminyakan negara ini.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketujuh Negara-Negara Penjamin Proses Astana guna membahas konflik Suriah dalam KTT teresbut. KTT ini diadakan di Tehran pada Selasa malam dengan kehadiran presiden Iran, Rusia dan Turki.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran, Rusia dan Turki telah menggunakan proses yang disebut sebagai "Proses Perdamaian Astana" untuk mengakhiri lebih dari 11 tahun konflik di Suriah. Iran dan Rusia mendukung pemerintah legal Bashar al-Assad, namun Turki mendukung beberapa kelompok penentang Suriah.

Presiden Rusia juga bertemu dengan mitranya di Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi dan Mitranya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Dalam pertemuan Putin pada Selasa sore, Sayid Raisi mengatakan, pihak lain mengklaim memerangi terorisme, tetapi kerja sama kami dengan Rusia menunjukkan bahwa kami menepati janji kami.

"Setelah pertemuan di Moskow dan Ashgabat, proses kerjasama berkembang. Keinginan Iran dan Rusia untuk mengembangkan kerja sama sangat signifikan. Kerjasama dalam perang melawan terorisme telah mengarah pada keamanan kawasan. Yang lain mengaku memerangi terorisme, tetapi kerja sama kami dengan Rusia menunjukkan bahwa kami menepati janji kami," jelasnya.

Sementara itu Presiden Rusia mengatakan, saya sangat senang berada di "tanah ramah" Iran.

"Kerjasama kami berkembang di berbagai bidang. Kami dan Iran meningkatkan kerja sama kami di bidang keamanan internasional. Iran dan Rusia memiliki kontribusi besar dalam menyelesaikan krisis Suriah…," kata Putin.

Setelah bertemu dengan Presiden Iran, Putin bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Uzdma Sayid Ali Khamenei. Dalam pertemuan tersebut, Rahbar menekankan sikap Republik Islam Iran terkait penolakan terhadap agresi militer ke Suriah. Ayatullah Khamenei kepada Putin mengatakan, Amerika Serikat (AS) harus diusir dari wilayah timur Efrat (Furat) di Suriah.

"Masalah penting di Suriah adalah pendudukan wilayah subur dan kaya minyak di sebelah timur Efrat oleh AS. Masalah ini harus diselesaikan dengan mengusir mereka dari daerah tersebut. Republik Islam juga tidak akan pernah mentolerir kebijakan dan program yang mengarah pada penutupan perbatasan antara Iran dan Armenia," kata Ayatullah Khamenei.

Rahbar lebih lanjut menyinggung kerja sama antara Republik Islam Iran dan Rusia, dan mengatakan, kerja sama jangka panjang antara Iran dan Rusia sangat bermanfaat bagi kedua negara.

"Yang Mulia dan presiden kami sama-sama berorientasi aksi dan tindak lanjut, sehingga kerja sama kedua negara harus mencapai puncaknya pada periode ini. Barat sepenuhnya menentang Rusia yang kuat dan merdeka. Dalam kasus Ukraina, jika Anda tidak mengambil inisiatif, pihak lain akan menyebabkan perang dengan inisiatifnya sendiri. Jika jalan terbuka untuk NATO, mereka tidak mengenal batas, dan jika tidak dihentikan di Ukraina, mereka akan memulai perang yang sama beberapa waktu kemudian dengan dalih Krimea (Crimea)," tambahnya.

Ayatullah Khamenei menandaskan, AS menggunakn pemaksaan dan juga licik, dan salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya Uni Soviet adalah tertipu oleh kebijakan Amerika. Tentu saja, Rusia telah mempertahankan independensi dan kemerdekaannya selama waktu pemerintahan Anda.

Sementara itu Presiden Rusia mengatakan, tidak ada yang mendukung perang, dan hilangnya nyawa warga sipil adalah tragedi besar, tetapi dalam kasus Ukraina, perilaku Barat membuat kami tidak punya pilihan selain bereaksi.

Putin menjelaskan, pejabat beberapa negara Eropa mengatakan bahwa kami menentang keanggotaan Ukraina di NATO, tetapi kami menyetujuinya di bawah tekanan Amerika. Sikap ini menunjukkan kurangnya kedaulatan dan kemerdekaan mereka.

Dia menyinggung penyalahgunaan Amerika atas dolar sebagai alat untuk menerapkan sanksi dan merampok kekayaan negara-negara lain. Menurutnya, hal ini pada akhirnya akan merugikan mereka dan melemahkan kepercayaan dunia terhadap mata uang ini serta mendorong berbagai negara ke arah penggunaan mata uang pengganti.

"Sanksi terhadap Rusia merugikan Barat dan hasilnya adalah masalah seperti kenaikan harga minyak dan krisis pasokan pangan. Rusia dan Iran sedang merancang cara baru untuk menggunakan mata uang nasional dalam hubungan antara kedua negara," ujarnya.

Putin menegaskan, posisi dan sikap kami berdua dalam masalah Suriah, termasuk penentangan terhadap serangan militer di utara negara ini, sangat cocok satu sama lain. Wilayah timur Efrat harus berada di bawah kendali pasukan militer Suriah.

Putin menilai kerja sama kedua negara di berbagai sektor dan proyek mulai mengalami kemajuan.

"Iran dan Rusia tengah melancarkan perang bersama melawan terorisme, dan di bidang militer, kami berusaha mengembangkan kerja sama kedua negara dan juga kerja sama serta manuver trilateral dengan Cina," pungkasnya.

Putin juga berpartisipasi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketujuh Negara-Negara Penjamin Proses Astana yang berlangsung pada Selasa malam, 19 Juli 2022 di Aula Pertemuan Kepala Negara di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran. 

Dalam jumpa pers pada KTT tersebut, Presiden Rusia mengatakan, dengan pertemuan ini, kami memiliki kesempatan untuk secara aktif bernegosiasi guna memastikan stabilitas di Suriah.

"Berkat kerja sama melalui proses Astana, tingkat kekerasan di Suriah telah menurun dan kami memiliki proses politik. Kami memiliki langkah-langkah untuk negosiasi politik bahwa Suriah dapat menentukan masa depannya tanpa campur tangan asing. Adalah penting bahwa Suriah siap untuk perjanjian ini. Kami prihatin dengan daerah-daerah yang berada di luar kendali pemerintah Suriah. Amerika mencuri sumber daya alam Suriah," kata Putin.

KTT Ketujuh Tiga Kepala Negara Penjamin Proses Astana

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketujuh Tiga Kepala Negara Penjamin Proses Astana berlangsung pada Selasa malam, 19 Juli 2022 di Aula Pertemuan Kepala Negara di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran.

KTT ini melibatkan Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran, Rusia dan Turki telah menggunakan proses yang disebut sebagai "Proses Perdamaian Astana" untuk mengakhiri lebih dari 11 tahun konflik di Suriah. Iran dan Rusia mendukung pemerintah legal Bashar al-Assad, namun Turki mendukung beberapa kelompok penentang pemerintah Suriah.

KTT tersebut dilanjutkan dengan jumpa pers besama. Dalam konferensi pers ini, Presiden Iran mengatakan, kedaulatan Suriah adalah garis merah. Kehadiran ilegal Amerika Serikat (AS) di Suriah adalah penyebab ketidakstabilan di negara ini.

"Kami menyatakan dukungan kami untuk solusi politik di Suriah dan perang melawan terorisme. Tekanan ekonomi dan sanksi telah membuat situasi di Suriah semakin rumit. Mengirim bantuan ke Suriah untuk menekan pemerintah negara itu tidak akan menjamin stabilitas Suriah," tegasnya.

Sementara Presiden Rusia Putin mengatakan, dengan pertemuan ini, kami memiliki kesempatan untuk secara aktif bernegosiasi guna memastikan stabilitas di Suriah.

"Berkat kerja sama melalui proses Astana, tingkat kekerasan di Suriah telah menurun dan kami memiliki proses politik. Kami memiliki langkah-langkah untuk negosiasi politik bahwa Suriah dapat menentukan masa depannya tanpa campur tangan asing. Adalah penting bahwa Suriah siap untuk perjanjian ini. Kami prihatin dengan daerah-daerah yang berada di luar kendali pemerintah Suriah. Amerika mencuri sumber daya alam Suriah," kata Putin.

Dalam jumpa pers tersebut, Presiden Turki mengatakann, kami telah memutuskan untuk melawan semua kelompok teroris.

"Kelompok teroris masih aktif di Suriah dan melakukan operasi terorisme. Setiap orang seharusnya tidak mengharapkan Turki untuk tetap diam terhadap kelompok teroris. Turki memahami kekhawatiran Anda yang jelas tentang Idlib dan sedang mencari solusi mendasar. Kami fokus pada solusi politik dan diplomatik untuk menyelesaikan krisis Suriah. Dalam situasi ini, kita harus bersama. Perdamaian di Idlib adalah hasil dari negosiasi yang terjadi di antara kami," ujar Erdogan.

Tingkatkan Perdagangan, Ini yang Dilakukan Iran dan Turki

Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyaksikan penandatanganan beberapa dokumen kerja sama di berbagai bidang untuk meningkatkan hubungan bilateral yang menguntungkan kedua belah pihak.

Penandatanganan beberapa dokumen kerja sama itu berlangsung di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran pada hari Selasa, 19 Juli 2022 yang melibatkan para pejabat tinggi kedua negara. Pemerintah Tehran dan Ankara bertekad untuk meningkatkan hubungan perdagangan hingga tiga kali lipat.

Sayid Raisi mengatakan, tingkat hubungan perdagangan antara Iran dan Turki belum cukup, dan level hubungan perdagangan antara kedua negara dapat ditingkatkan menjadi 30 miliar dolar, yaitu sekitar 3 kali lipat dari jumlah saat ini.

"Hari ini juga ditegaskan perpanjangan kontrak transmisi gas selama 25 tahun," kata Raisi.

Sementara Erdogan mengatakan, tujuan Iran dan Turki adalah untuk mencapai volume pertukaran perdagangan hingga 30 miliar dolar. Dia menambahkan, saya yakin bahwa konsultasi kami akan menyebabkan lompatan dalam hubungan kami.

Dokumen-dokumen kerja sama yang ditandatangani Iran dan Turki mencakup bidang transportasi, transit, pertukaran pengetahuan dan budaya, olahraga, energi, pertanian, transaksi perdagangan dan ekonomi.

Sebelum penandatanganan dokumen-dokumen kerja sama Iran dan Turki, Presiden kedua negara melakukan pembicaraan empat mata secara terbatas dan tertutup.

Iran Panggil Pulang Duta Besarnya dari Swedia

Duta Besar Republik Islam Iran di Swedia dipanggil pulang ke Tehran, sebagai bentuk protes atas vonis ilegal yang dijatuhkan terhadap Hamid Nouri.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Naser Kanaani, Rabu (20/7/2022) mengatakan, "Republik Islam Iran memprotes vonis yang dijatuhkan terhadap Hamid Nouri di Swedia atas tuduhan-tuduhan tidak berdasar, ambigu dan rekayasa, dan memutuskan untuk memanggil pulang Dubes Iran di Swedia untuk berkonsultasi."

Sebuah pengadilan di Swedia menjatuhkan vonis hukuman penjara seumur hidup atas Hamid Nouri. Merespon keputusan ini, Kuasa Usaha Swedia di Tehran, dipanggil ke Kemenlu Iran, dan menerima nota protes resmi dari Republik Islam Iran.

Hamid Nouri, warga Iran, ditangkap aparat keamanan Swedia pada 9 November 2019 saat tiba di negara itu, dan sampai vonis pengadilan keluar, ia ditahan sekitar 32 bulan.

Pengadilan Swedia menuduh Hamid Nouri terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi 34 tahun lalu di Iran, dan para penggugat adalah anggota kelompok teroris Mujahedin-e Khalq, MKO yang telah membunuh ribuan warga sipil Iran.

Khatib Salat Jumat Tehran: AS harus Benar-Benar Keluar dari Kawasan

Khatib Salat Jumat Kota Tehran Hujjatul Islam Sayid Mohammad Hassan Abu-Torabifard menyinggung perkembangan di kawasan Asia Barat. Dia menyatakan bahwa kehadiran politik dan militer Amerika Serikat (AS) telah sampai pada titik nol.

"Amerika Serikat harus meninggalkan kawasan sebelum mereka menghadapi insiden lain seperti insiden di Afghanistan," kata Sayid Hassan Abu-Torabifard dalam khutbah Jumat kedua di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Jumat (22/7/2022).

Dia menambahkan, hari ini dunia sedang menghadapi perubahan serius. Milenium ketiga pasti milenium Asia, dan Iran yang Islami di wilayah barat daya Asia memainkan peran mendasar dan menentukan dalam perubahan ini.

Khatib Salat Jumat Kota Tehran lebih lanjut menyinggung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ketujuh Tiga Kepala Negara Penjamin Proses Astana di Tehran, pada Selasa malam, 19 Juli 2022.

"Republik Islam Iran telah menjadi koridor politik kawasan dalam beberapa hari terakhir. Pertemuan bilateral dengan kehadiran presiden Rusia dan Turki di Iran dan KTT tripartit Astana di Tehran serta pernyataan inspiratif Pemimpin Besar Revolusi Islam (Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei) dalam menjelaskan kondisi politik di kawasan dan dunia Islam, untuk Umat ​​Islam, dan bangsa-bangsa di kawasan dan dunia, adalah pesan pembentukan kekuatan-kekuatan baru di dunia ke depan," ujarnya.

Sayid Hassan Abu-Torabifard juga merujuk pada pernyataan Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Selama 4 dekade terakhir, pandangan Iran adalah untuk menciptakan kekuatan bagi bangsa-bangsa Muslim, terutama Turki. Harapan Iran adalah bahwa keamanan perbatasan Turki dan Suriah menjadi perhatian pemerintah Ankara," jelasnya.

Khatib Salat Jumat Kota Tehran mengatakan, dukungan AS dan sekutunya kepada kelompok-kelompok teroris menyebabkan ketidakamanan Turki, dan untuk mengembalikan keamanan ke kawasan, kita harus menyingkirkan kehadiran AS.

Sayid Hassan Abu Torabifard menuturkan, isu bahwa seiring dengan dialog yang efektif di bidang ekonomi dan politik, hubungan Iran dengan negara-negara Islam dan Muslim lainnya selalu menjadi agenda.

"Negara-negara tetangga harus tahu bahwa Iran peduli dengan integritas teritorial negara-negara tetangganya, dan kekuatan Iran, bersama dengan kekuatan bangsa-bangsa di kawasan, adalah strategi definitif dan pasti Republik Islam Iran," pungkasnya.

Tags