Sep 18, 2022 16:06 Asia/Jakarta
  • Drone Arash.
    Drone Arash.

Berita terbaru di Republik Islam Iran selama sepekan lalu diwarnai sejumlah peristiwa penting seperti peluncuran Drone canggih baru, Arash 2.

Komandan Angkatan Darat Republik Islam Iran menyatakan bahwa kemampuan UAV Arash 2 istimewa dan unik dengan berbagai kelebihannya.

Kemajuan drone Republik Islam Iran mencapai tahap luar biasa dalam tiga dekade terakhir yang menunjukkan nilai tinggi mereka di medan tempur, yang teruji dalam satu dekade terakhir di berbagai konflik regional.

Drone tempur Arash, yang disebut sebagai drone penghancur untuk menargetkan radar sistem pertahanan udara musuh, memiliki kemampuan untuk menyerang titik sensitif dan vital musuh secara tepat.

Brigadir Jenderal Kioumars Heydari, Komandan Angkatan Darat Republik Islam Iran hari Senin (12/9/2022) mengatakan, "UAV Arash 2 memiliki sistem pencarian dengan kemampuan unik dalam mengincar sasaran secara akurat,".

"Kami merancang drone ini khusus untuk serangan di Haifa dan Tel Aviv," tegasnya.

Jubir Kemlu Iran Tolak Klaim Albania tentang Serangan Siber

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran membantah klaim Albania yang menuduh Iran melakukan serangan siber terhadap negaranya.

Otoritas Albania, sejalan dengan kebijakan anti-Iran yang dijalankan Gedung Putih membuat klaim palsu tentang tindakan Iran melancarkan serangan siber.

Setelah pengusiran kelompok teroris MKO dari Irak, kelompok ini bermigrasi ke Albania atas perintah Amerika Serikat dan dengan koordinasi anggota lain dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam rangka untuk melanjutkan aksi mata-mata dan subversif terhadap orang-orang Iran.

Kelompok teroris MKO mengadakan pertemuan setiap tahun dengan mengundang tokoh-tokoh anti-Iran ke Tirana, tapi tahun ini pertemuan tersebut dibatalkan, karena alasan keamanan.

Nasser Kanani Chafi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam konferensi pers hari Senin (12/9/2022) mengatakan, "Iran adalah negara yang menjadi sasaran serangan dunia siber berkali-kali,".

"Ketika infrastruktur nuklir Iran diserang oleh serangan siber di masa lalu, kami tidak menerima tanggapan  dari negara mana pun," ujarnya.

80 Persen Perdagangan Iran dengan Negara Tetangga

Deputi Direktur Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran menyatakan lebih dari 80 persen perdagangan Iran adalah dengan negara-negara tetangga.

Sejak menjabat pada 3 Agustus 2021, pemerintah Iran ke-13 mengumumkan pembentukan keseimbangan dalam kebijakan luar negeri, perluasan kerja sama dengan tetangga dan negara-negara di kawasan sebagai prioritas program luar negerinya.

Kebijakan regionalisme, melihat ke timur, partisipasi dalam organisasi dan lembaga regional dan ekstra-regional seperti Perjanjian Shanghai dan Organisasi Kerja Sama Ekonomi (ECO) adalah contoh penyeimbangan kebijakan luar negeri Iran yang dijalankan saat ini.

Ahmadreza Alaei, Wakil Kepala Promosi Bisnis internasional Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran hari Minggu (12/9/2022) mengungkapkan alasan penurunan ekspor ke Irak dan Afghanistan yang tidak signifikan atau mengkhawatirkan.

Alaei menyebut alasan utama penurunan ekspor Iran ke Irak dan Afghanistan adalah perubahan politik di negara-negara ini dan kurangnya stabilitas politik.

Menurutnya, lebih dari 80 persen perdagangan Iran adalah dengan negara-negara tetangga.

Kepala Direktorat Pengembangan Perdagangan Iran mengatakan bahwa salah satu langkah untuk menyeimbangkan perdagangan dengan Afghanistan dan Irak dan meningkatkan ekspor ke negara-negara ini adalah membuat produksi bersama di negara-negara tersebut.

Umumkan Kebijakan Pembangunan Nasional, Rahbar Prioritaskan Ekonomi dan Keadilan

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menyampaikan kebijakan-kebijakan umum Rencana Pembangunan Nasional ke-7 yang memprioritaskan kemajuan ekonomi yang sejalan dengan keadilan, kepada tiga lembaga tinggi negara.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Senin (12/9/2022) dalam implementasi Pasal 110, Ayat 1 Undang-Undang Dasar Iran, menyampaikan kebijakan-kebijakan umum, Rencana Pembangunan Nasional ke-7 setelah melakukan konsultasi dengan Dewan Penentu Kebijakan Negara Iran, dan memprioritaskan kemajuan ekonomi yang berjalan bersama dengan penegakan keadilan, kepada tiga lembaga tinggi negara, Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran.

Rahbar juga mengapresiasi aktivitas padat para anggota dan Sekretaris Dewan Penentu Kebijakan Negara dalam bidang pengawasan, dan partisipasi aktif tiga lembaga tinggi negara serta seluruh instansi pemerintah, dan menganggap penyusunan serta pengesahan kebijakan Rencana Pembangunan Nasional ke-7 sebagai langkah lain dalam mewujudkan target pemerintah, dan menekankan pengawasan aktif terhadap realisasi kebijakan ini.

Kebijakan-kebijakan umum Rencana Umum Pembangunan Nasional ke-7 terangkum dalam tujuh tema utama yaitu ekonomi, infrastruktur, budaya dan sosial, ilmu pengetahuan, teknologi dan pendidikan, politik dan kebijakan luar negeri, pertahanan dan keamanan, administrasi pemerintahan, hukum dan peradilan, dan dijelaskan dalam 26 ayat.

Raisi: Perbatasan Iran-Armenia, Asas Keamanan Kawasan

Presiden Republik Islam Iran mengatakan, perbatasan bersejarah Iran dan Armenia adalah asas kesejahteraan, konvergensi, dan keamanan kawasan, dan Tehran bertekad untuk melanjutkan kerja sama di semua bidang demi kesejahteraan dan stabilitas kawasan.

Sayid Ebrahim Raisi, Selasa (13/9/2022) dalam kontak telepon dengan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan menyampaikan kekhawatiran terkait berlanjutnya ketegangan di kawasan.

Ia menuturkan, "Kawasan Kaukasus sedang berada dalam kondisi khusus, dan sungguh disesalkan sampai saat ini ketenangan belum pulih di kawasan ini."

Pada saat yang sama, Presiden Iran juga menyinggung infiltrasi Rezim Zionis Israel di kawasan, dan menyebut kehadiran Israel di kawasan mengancam keamanan seluruh kawasan termasuk negara-negara yang menampungnya.

Menurut Raisi, Republik Islam Iran terus memantau perkembangan di kawasan Kaukasus, dan ia percaya kawasan ini sudah tidak bisa menahan perang baru.

Raisi juga meminta para penandatangan kesepakatan gencatan senjata untuk memegang komitmennya, dan menghindari segala bentuk langkah yang dapat memicu ketegangan baru.

Di sisi lain, PM Armenia dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran mengatakan, Republik Islam Iran selalu memainkan peran konstruktif dan efektif dalam menurunkan ketegangan dan mengatasi krisis di kawasan.

"Armenia berusaha memperdalam hubungan dengan Republik Islam Iran di segala bidang," pungkasnya.

Upacara Keberangkatan Presiden Iran ke Uzbekistan

Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi dan delegasi tingkat tinggi yang mendampinginya berangkat ke Uzbekistan pada hari ini, Rabu (14/9/2022).

Kunjungan ke Samarkand tersebut atas undangan resmi Presiden Uzbekistan Shavkat Miromonovich Mirziyoyev untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-22 Organisasi Kerja Sama Shanghai.

Ini adalah kali kedua sejak menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, Sayid Raisi menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai.

Saat ini Iran sedang melalui proses untuk memperoleh keanggotaan penuh di organisasi tersebut. Sebelumnya India dan Pakistan telah ditetapkan menjadi anggota penuh Organisasi Kerja Sama Shanghai pada pertemuan 2017.

Organisasi Kerja Sama Shanghai didirikan pada tahun 2001 di Shanghai, Cina, oleh sejumlah negara termasuk Cina, Kazakhstan, Kirgistan, Rusia, Tajikistan dan Uzbekistan dengan tujuan melawan terorisme, ekstremisme dan kerja sama ekonomi.

KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai dijadwalkan akan diadakan di Samarkand pada 15-16 September 2022. Pertemuan ini akan menjadi pertemuan tatap muka pertama para kepala negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai sejak 2019, dan berakhirnya kepresidenan Uzbekistan dalam organisasi ini.

Istana presiden Kremlin Rusia mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan bertemu dengan Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Samarkand.

Ekspor Sektor Industri Iran ke Rusia Tumbuh 30 Persen

Kementerian Industri, Tambang dan Perdagangan Iran mengumumkan, ekspor sektor industri Iran ke Rusia mengalami pertumbuhan 30 persen.

Juru bicara Kementerian Industri Iran, Omid Ghalibaf, Rabu (14/9/2022) mengatakan, ekspor sektor industri Iran ke Rusia pada 5 bulan pertama tahun 1401 Hs (April-Agustus 2022) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, mengalami kenaikan 30 persen.

Ia menambahkan, komposisi ekspor Iran ke Rusia yang awalnya terpusat pada produk-produk pertanian, berubah menjadi produk-produk sektor industri.

Ghalibaf lebih lanjut menjelaskan, ekspor Iran ke Rusia tepatnya mengalami pertumbuhan 32 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dengan pertumbuhan 30 persen ekspor sektor industri Iran ke Rusia ini, maka neraca perdagangan sektor industri Iran ke negara itu untuk pertama kalinya positif," pungkasnya.

Sekjen SCO: Iran Negara Besar yang Bisa Wujudkan Keamanan Dunia

Presiden Republik Islam Iran dalam pertemuan dengan Sekjen Organisasi Kerja Sama Shanghai, SCO, mengumumkan kesiapan Tehran untuk bekerja sama dengan SCO dan seluruh negara anggotanya di berbagai bidang.

Sayid Ebrahim Raisi, Kamis (15/9/2022) di Uzbekistan bertemu dengan Sekjen SCO, Zhang Ming, dan menjelaskan langkah Republik Islam Iran untuk menjadi anggota SCO, serta kapasitas luas Iran di bidang politik, teknologi, ekonomi dan transit.

Sekjen SCO dalam pertemuan dengan Raisi menyinggung langkah organisasinya untuk menerima keanggotaan penuh Iran di SCO.

Ia menuturkan, sehari sebelumnya telah ditandatangani 40 dokumen perjanjian bergabungnya Iran dengan SCO, bersama Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian.

Zhang Ming menambahkan, Iran adalah negara besar dan berpengaruh yang bisa memainkan peran signifikan dalam mewujudkan keamanan kawasan dan dunia.

Menurutnya, Iran sebagai salah satu negara besar di kawasan, bersandar pada kesamaan-kesamaan sejarah dan peradaban luas dengan negara kawasan lain, hubungan politik dan perdagangan yang baik, dapat menjalin kerja sama dengan negara-negara anggota SCO.

Bertemu Putin, Raisi: Iran Tak Akui Sanksi atas Rusia

Presiden Republik Islam Iran dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Rusia, mengatakan, Iran tidak menerima sanksi terhadap Rusia dengan alasan apa pun, dan tidak mengakuinya.

Sayid Ebrahim Raisi, Kamis (15/9/2022) dalam pertemuan dengan Vladimir Putin di sela KTT Organsisasi Kerja Sama Shanghai, SCO, yang digelar di Samarkand, Uzbekistan, menyatakan bahwa Iran ingin mengembangkan kerja sama dagang dan ekonomi dengan Rusia.

Pada saat yang sama, Presiden Republik Islam Iran menyampaikan terimakasih kepada Rusia karena mendukung keanggotaan penuh Iran di SCO.

Raisi menuturkan, tekad Iran adalah mengembangkan hubungan strategis dengan Rusia, di semua bidang politik, ekonomi, perdagangan dan antariksa.

Ia menambahkan, "Amerika Serikat mengira dengan menyanksi sebuah negara, ia bisa menghentikan negara itu, tapi pemahaman mereka terkait hal ini keliru. Selama bertahun-tahun AS menyanksi Iran, tapi bangsa besar Iran menganggap sanksi dan ancaman sebagai peluang untuk tumbuh dan maju."

Raisi menegaskan, "Republik Islam Iran tidak menerima sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia dengan alasan apa pun, dan tidak mengakuinya. Di sisi lain Iran ingin meningkatkan hubungan dagang dan ekonominya dengan Rusia."

"Hubungan di antara negara-negara yang disanksi oleh AS, dapat menyelesaikan banyak masalah, dan bahkan dapat terus memperkuat negara-negara tersebut," pungkasnya.

Iran-Uzbekistan Menyusun Program Mengembangkan Hubungan Bilateral

Presiden Iran mengatakan, Hubungan Iran-Uzbekistan didasarkan pada hubungan historis, kepercayaan dan keyakinan bersama dua bangsa, dan kedua negara telah merencanakan untuk mengembangkan hubungan sebanyak mungkin.

Menurut laporan IRNA, Ayatullah Sayid Ebrahim Raisi, hadir di masjid Ahlul Bait Rasulullah as di kota Samarkand pada Kamis (15/09/2022) malam, menjelaskan pertemuannya dengan Presiden Uzbekistan hari sebelumnya, Hubungan Iran-Uzbekistan didasarkan pada hubungan sejarah, kepercayaan dan keyakinan dari dua bangsa dan kedua negara telah merencanakan untuk mengembangkan hubungan satu sama lain sebanyak mungkin.

Di tengah para jemaah shalat, Raisi menyampaikan belasungkawa hari Arbain Husein as dan menjelaskan berbagai dimensi komunitas global yang unik ini.

Ayatullah Raisi juga mendapat informasi tentang kegiatan budaya dan agama masjid Ahlul Bait as kota Samarkand.

Presiden Iran berbicara tentang perlunya persatuan di antara umat Islam dalam situasi global saat ini dan mencatat, seperti Ahlul Bait as yang merupakan simbol persatuan dan kohesi, Muslim harus bersimpati dan bersatu menghadapi mereka yang menentang Islam dan membunuh umat Islam.

Sayid Ebrahim Raisi, Presiden Republik Islam Iran melakukan perjalanan ke Uzbekistan pada hari Rabu (14/9) atas undangan resmi Presiden Republik Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev mengepalai delegasi politik dan ekonomi tingkat tinggi, untuk pejabat pertemuan bilateral dan juga untuk berpartisipasi dalam KTT ke-22 Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Raisi: Kami Bertekad untuk Membela Hak Rakyat Iran dengan Tegas

Presiden Republik Islam Iran Ayatullah Sayid Ebrahim Raisi menyatakan bahwa adalah tanggung jawab Amerika Serikat untuk membuat keputusan akhir untuk mencapai kesepakatan nuklir, seraya menekankan, Kami bertekad untuk dengan tegas membela hak-hak Iran dan rakyatnya.

Dalam perundingan babak baru di Wina yang berpusat pada pencabutan sanksi terhadap Iran yang dilaksanakan pada tanggal 4 hingga 8 Agustus 2022, beberapa usulan diajukan oleh Enrique Mora, koordinator Uni Eropa.

Pada tanggal 15 Agustus, Republik Islam Iran mempresentasikan jawaban tertulisnya terhadap teks yang diusulkan oleh Eropa, di mana jalan untuk melanjutkan implementasi penuh JCPOA dijelaskan dan diumumkan bahwa jika tanggapan Amerika realistis dan fleksibel, kesepakatan akan tercapai.

Pada 24 Agustus, Amerika Serikat menyampaikan pendapatnya kepada Uni Eropa.

Pada tanggal 2 September, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani mengkonfirmasikan bahwa Iran telah mengirim pendapatnya terkait tanggapan AS terhadap teks rancangan perjanjian tentang kemungkinan pencabutan sanksi dan mengatakan, teks yang dikirim memiliki pendekatan konstruktif dengan tujuan untuk menyelesaikan negosiasi.

Beberapa jam setelah pengiriman jawaban Iran ke Enrique Mora, Vedant Patel, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, mencoba melempar bola ke tanah Iran, dan mengklaim bahwa tanggapan Tehran tidak konstruktif.

Mikhail Ulyanov, Wakil Rusia di organisasi internasional dalam menanggapi alasan Amerika, menulis di akun Twitter-nya, Pada kenyataannya, tidak ada tanggapan Iran yang dapat menjadi hambatan serius untuk mencapai kesepakatan dan mencapai hasil dalam Negosiasi Wina bergantung secara eksklusif pada kemauan politik negara-negara peserta.

Menurut laporan IRNA, dalam wawancara dengan televisi Qatar Aljazeera pada Kamis (15/09/2022) malam, Ayatullah Raisi menambahkan, Pencabutan sanksi terhadap Iran harus disertai dengan mendapatkan jaminan, dan masalah Safeguard harus diselesaikan untuk memajukan negosiasi nuklir.

Presiden Raisi mengatakan, Sebelum Barat meminta kita untuk menghentikan kegiatan nuklir, mereka harus bertanya kepada rezim Zionis, yang memiliki senjata pemusnah massal.

"Tidak ada gunanya bernegosiasi langsung dengan AS mengenai perjanjian nuklir, dan AS harus mengambil langkah-langkah membangun kepercayaan dengan pihak Iran," ungkap Presiden Raisi seraya menekankan bahwa kami bertekad untuk dengan tegas membela hak-hak Iran dan rakyatnya.

Lebih lanjut Presiden Iran mengatakan tentang sanksi baru yang dijatuhkan Amerika terhadap Iran, Jika Washington menginginkan kesepakatan, mengapa menjatuhkan sanksi baru selama negosiasi nuklir?

Sekaitan dengan keberlanjutan pembicaraan Tehran-Riyadh, Ayatullah Raisi mengatakan, Pembiucaraan dengan Arab Saudi sedang berlangsung dan kami telah mengadakan lima putaran pembicaraan dan akan terus melakukannya.

Presiden Iran juga mengomentari tentang kehadiran pasukan asing di kawasan, Jika pasukan asing tidak ikut campur, masalah di kawasan bisa diselesaikan.

Adapun mengenai perkembangan Irak, menurut Ayatullah Raisi, Kami senang melihat pemerintah yang kuat di Irak dan Irak seharusnya tidak lagi mengizinkan kehadiran Amerika.

"Negara-negara Eropa menghubungi kami tentang krisis Irak, dan kami memberi tahu mereka bahwa itu tentang Irak," jelasnya.

"Untuk mencapai gencatan senjata permanen dan negosiasi lanjutan, blokade Yaman harus dicabut," pungkas Raisi menjawab pertanyaan soal perkembangan Yaman.

Sayid Ebrahim Raisi Bertemu Presiden Cina

Presiden Iran dan Cina bertemu dan berbicara di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi, yang telah mengunjungi Samarkand atas undangan resmi timpalannya dari Uzbekistan, memulai perjalanan tiga hari ke Uzbekistan pada hari Rabu (14/09/2022), dan pada hari pertama pertemuan bilateral Tehran-Tashkent, 17 dokumen kerja sama dokumen telah ditandatangani antara kedua negara.

Dokumen keanggotaan Iran di Organisasi Kerja Sama Shanghai juga ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian pada hari pertama.

Pada hari kedua perjalanan ini, Presiden Raisi bertemu dan berbicara dengan Presiden Rusia, Pakistan, Tajikistan, Kirgistan dan Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Shanghai, dan menyebut pengembangan hubungan dengan negara-negara tetangga dan regional sebagai kebijakan dasar Republik Islam.

Menurut laporan IRNA, di sela-sela pertemuan Organisasi Kerja Sama Shanghai, Presiden Islam Iran juga bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping, dan membahas isu-isu yang diminati kedua pihak.

Presiden Iran dan Cina membahas perkembangan utama internasional dan regional dalam percakapan telepon satu jam bulan lalu dan menekankan pada penguatan kerja sama bilateral sebanyak mungkin.

Hari ini (Jumat, 16/09/2022), Presiden Republik Islam Iran akan meninggalkan Tashkent menuju Tehran setelah melakukan beberapa pertemuan.

Iran Resmi Jadi Anggota Penuh Organisasi Kerja Sama Shanghai

Keanggotaan penuh Republik Islam Iran di Organisasi Kerja Sama Shanghai, SCO diumumkan secara resmi oleh Presiden Uzbekistan.

KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai ke-22 yang dihadiri Presiden Iran, dan kepala negara anggota SCO lain di Samarkand, Uzbekistan dimulai hari ini, Jumat (16/9/2022).

Pada pertemuan ini, keanggotaan penuh Republik Islam Iran di SCO diumumkan secara resmi oleh Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, dan mendapat sambutan luas dari para hadirin.

Kepala negara Cina, Rusia, India, Iran, Uzbekistan, Kazakhstan, Belarus, Turki, Republik Azerbaijan, Kirgistan, Pakistan, Mongolia, Tajikistan dan Turkmenistan hadir dalam KTT SCO ke-22 ini.

KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai diselenggarakan setiap tahun dengan tema-tema strategis kerja sama multilateral dan bidang-bidang pembangunan yang diprioritaskan, penangangan masalah-masalah penting, serta penguatan kerja sama ekonomi dan politik seluruh anggota.

Khatib Jumat Tehran: Perlawanan Palestina dan Yaman Kelanjutan Asyura

Khatib Salat Jumat kota Tehran, Iran mengatakan, perlawanan yang berlangsung di Palestina, dan Yaman adalah kelanjutan dari kebangkitan Asyura.

Hujatulislam Sayid Mohammad Hassan Aboutorabi Fard, Jumat (16/9/2022) dalam khutbah Salat Jumatnya menjelaskan, tekad pasukan pejuang di Yaman dan Palestina serta negara-negara lain adalah kelanjutan jalan Imam Hussein as dalam melawan para penguasa zalim dan diktator.

Ia menambahkan, Lebanon adalah manifestasi gerakan besar para pejuang Asyura, dan Hashd Al Shaabi di Irak, terinspirasi dari madrasah-madrasah Asyura.

Pada saat yang sama, Aboutorabi Fard juga menyinggung tentang Irak yang menjadi tuan rumah para peziarah peringatan Arbain Imam Hussein as.

"Pelayanan yang baik terhadap para peziarah Imam Hussein as oleh rakyat dan pemerintah Irak, menyebabkan negara ini berada pada derajat tinggi yang agung dan membanggakan," ujarnya.

Menurut Khatib Jumat Tehran, Arbain adalah momen pertemuan para pecinta madrasah Asyura dan merupakan madrasah pembentuk manusia.

Lebih lanjut ia menerangkan, "Arbain adalah keyakinan yang membentuk budaya dan masyarakat, selayaknya sebuah manuver spiritual politik dan sosial yang menghimpun umat Islam dalam lingkaran tokoh agung Imam Hussein as, dan madrasah pembentuk manusia Asyura."

Raisi: Iran Siap Ekspor Komoditas ke Belarus

Presiden Republik Islam Iran dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Belarus mengatakan peta jalan peningkatan level kerja sama Tehran-Minsk sudah terbuka. Menurutnya, Iran punya kesiapan penuh untuk ekspor barang dan bekerja sama dengan Belarus.

Sayid Ebrahim Raisi, Jumat (16/9/2022) bertemu dengan Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, di sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai, SCO di Samarkand, Uzbekistan.

Dalam pertemuan itu, Presiden Republik Islam Iran menjelaskan kapasitas besar yang dimiliki negaranya di berbagai bidang terutama ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada saat yang sama, Raisi menilai kemudahan transaksi keuangan dan perbankan di antara Iran dan Belarus sebagai hal yang urgen.

"Tidak ada hambatan apa pun dari Iran, dalam pengembangan hubungan dengan Belarus, khususnya di bidang ekonomi dan perdagangan," ujarnya.

Di sisi lain, Presiden Belarus menekankan urgensi penyusunan peta jalan peningkatan level kerja sama dua negara.

Ia menuturkan, Belarus dan Republik Islam Iran menjalin hubungan yang sangat baik, dan dengan memperhatikan kapasitas dua negara, hubungan ini harus ditingkatkan.

"Iran, Belarus, Rusia dan negara-negara Asia Tengah harus saling membantu untuk meningkatkan pembangunan ekonomi masing-masing," pungkasnya.

Peringatan Arbain Bersama Rahbar

Tanggal 20 Safar, yang tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 17 September 2022 diperingati sebagai Hari Arbain Imam Husein as oleh Umat Muslim dan pecinta Ahlul Bait as di seluruh dunia.

Ratusan Warga Republik Islam Iran menghadiri acara Arbain di Huseniyah Imam Khomeini ra, yang dihadiri oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei pada hari Sabtu (17/9/2022).

Dalam ceramah singkat, Ayatullah Khamenei menyebut peristiwa pawai Arbain yang menakjubkan itu, telah menunjukan kehendak Allah Swt untuk semakin meninggikan panji Islam Ahlul Bait as.

"Perisitwa menakjubkan pawai Arbain tidak mungkin terlaksana dengan kebijakan dan perencanaan manusia, tangan Tuhanlah yang dengan pemandangan agung ini memberi kabar gembira bahwa jalan di hadapan kita terang dan bisa dilalui," kata Rahbar dalam ceramah singkatnya.

Ayatullah Khamenei menilai hati-hati yang bersih dan mukmin para pemuda telah memberikan kualitas kepada doa dan nasihat, serta menambah hidayah Ilahi.

"Peringatan Arbain yang merupakan bendera Imam Hussein as, tahun ini diselenggarakan lebih meriah dan lebih agung dibanding masa-masa sebelumnya dalam sejarah," tuturnya.

Ayatullah Khamenei mengimbau para pemuda untuk tidak menyia-nyiakan masa muda mereka, dan menaruh perhatian khusus pada kelompok-kelompok keagamaan Husseini.

"Kelompok-kelompok keagamaan Husseini selain harus menghidupkan teladan Ahlul Bait as, juga menjadi pusat dan pangkalan untuk menjelaskan hakikat," ujarnya.

Rahbar juga menyinggung kerja keras tak kenal lelah musuh dan bandit-bandit kebenaran terhadap peristiwa penting semacam pawai Arbain yang menakjubkan, dan mengajak semua pihak untuk mengenal tanggung jawabnya.

"Dua kalimat asasi dan abadi Al Quran yaitu anjuran untuk selalu mengikuti kebenaran dan bersabar, terutama bagi kita hari ini, keduanya merupakan sebuah instruksi mendasar," jelasnya.

Ayatullah Khamenei menilai sabar sebagai resistensi, keteguhan, tak kenal lelah, dan tidak menganggap diri berada di jalan buntu.

Kepada para pemuda yang aktif dalam kelompok-kelompok keagamaan Hussein dan Qurani, ia mengatakan, "Pergilah ke jalan kebenaran, dan berusahalah lewat cara menerangi lingkungan sekitar termasuk universitas dengan warna Ilahi, mengajak orang lain ke jalan ini."

Di awal acara, para pemuda yang hadir dalam peringatan Arbain Imam Hussein as, di hadapan Rahbar, senada dengan para peziarah di Karbala, serentak meneriakan "Labaik Ya Hussein".

Arbain adalah peringatan mengenang 40 hari Kesyahidan Imam Husein as, Cucu tercinta Baginda Nabi Muhammad Saw yang dibantai bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya oleh pasukan Yazid di padang Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H.

Imam Hussein as, keluarga dan para sahabatnya gugur syahid pada 10 Muharam 61 Hijriah di Karbala atau yang dikenal dengan Tragedi Asyura.

Meski telah berlalu berabad-abad, namun peristiwa heorik itu tidak pernah berkurang urgensi dan kedudukannya, bahkan semakin berlalu, pesan Asyura justru semakin tersebar luas.

Kebangkitan Imam Hussein as melawan pemerintahan tiran Yazid bertujuan untuk menjaga kelangsungan agama Islam yang terkena erosi kerusakan di berbagai sendi kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, motivasi perjuangan Imam Husein demi menjaga kesucian Islam dari berbagai penyimpangan yang dilakukan penguasa lalim di masanya.

Imam Husein as bangkit melawan Yazid bin Muawiyah bukan karena menghendaki kekuasaan, tapi karena ketulusannya membela ajaran agama Islam dan mengembalikan umat kakeknya dari berbagai penyimpangan ke arah Islam murni, yaitu Islam Muhammadi Saw.

Tags