Sep 22, 2022 13:12 Asia/Jakarta

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi menegaskan sikap Iran terhadap kebijakan koersif dan intervensionis Amerika Serikat di kawasan, dengan mengatakan, "Iran akan mengejar penyelidikan yudisial yang adil atas kejahatan mantan presiden Amerika Serikat dalam pembunuhan Letnan Jenderal Qassem Soleimani yang syahid melalui pengadilan yang adil,".

Sayid Ebrahim Raisi, Presiden Republik Islam Iran dalam pidato yang disampaikan pada sidang tahunan ke-77 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa hari Rabu (21/9/2022) mengungkapkan bahwa keinginan untuk menegakkan keadilan sebagai amanat ilahi yang ada pada setiap orang.

"Iran mendukung globalisasi keadilan, karena keadilan mempersatukan, dan melawan kelaliman," ujar Raisi kemarin.

"Sebuah negara yang mengusung keadilan, tetapi mendukung teroris harus malu dengan kemanusiaan, kebebasan dan keadilan. Lebih tinggi dari HAM, hak bangsa-bangsa dengan mudah diinjak-injak oleh kekuatan besar," tegasnya.

Presiden Republik Islam Iran dalam pidatonya menunjukkan gambar syahid Letnan Jenderal Qassem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam, dan menekankan kepada mereka yang hadir di pertemuan Majelis Umum PBB mengenai peradilan yang adil dan penyelidikan kejahatan yang dilakukan mantan Presiden Amerika Serikat sebagai tuntutan kemanusiaan.

Di bagian lain statemennya, Raisi mengungkapkan daftar kemajuan ilmiah, ekonomi dan teknologi Iran dewasa ini. Menurutnya, hari ini dunia membutuhkan Iran yang kuat, dan menambahkan, "Dunia lama, unilateralisme, dominasi, pengabaian moralitas dan kebajikan yang menumbuhkan kemiskinan dan diskriminasi, penggunaan kekerasan dan organisasi internasional sebagai alat tekanan terhadap negara-negara independen menyebabkan tatanan yang tidak adil ini telah kehilangan legitimasinya, dan keruntuhan tatanan lama ini tidak terbantahkan lagi,".

"Kemerosotan etika politik dan pertumbuhan patologis tindakan unilateralisme yang tidak sah telah menciptakan tantangan besar di jalan kemuliaan manusia. Oleh karena itu, tidak ada pilihan selain solidaritas dalam kerangka multilateralisme dan berdasarkan prinsip-prinsip profetik dari para Nabi ilahi untuk menghadapi ancaman dunia modern," papar Presiden Iran dalam pidato di Majelis Umum PBB.

Ia juga menyatakan bahwa Republik Islam tidak mentolerir hubungan berdasarkan penindasan dan membela hak-hak rakyatnya. 

"Logika yang didasarkan pada keadilan menciptakan kekuatan dan keyakinan dalam hati, dan sebuah negara yang tidak memiliki logika ini, menggunakan cara-cara imperialisme, intervensi militer, pengerahan pasukan dan berbagai aksi represif lainnnya," ungkap Raisi.

 

 

Presiden Iran juga menyampaikan keprihatinannya mengenai hegemoni dan semangat Perang Dingin sedang meresahkan dunia dan mengancam era baru krisis di dunia. 

Raisi mengatakan, "Tuntutan bangsa-bangsa di dunia untuk mewujudkan keadilan semakin meningkat,".

"Keberhasilan doktrin perlawanan adalah manifestasi yang jelas dari tekad bangsa-bangsa untuk mencapai keadilan. Tetapi di sisi lain, unilateralisme berusaha untuk menahan negara-negara dari jalur langsung mereka," ungkapnya.

Raisi menjelaskan bahwa Amerika tidak membiarkan negara-negara dunia berdiri di atas kaki mereka sendiri. 

Menurutnya, apa yang terjadi di Eropa saat ini merupakan manifestasi dari apa yang terjadi di Asia dalam beberapa dekade terakhir.

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-77 diadakan dari 20 hingga 26 September 2022 di Manhattan, New York, markas besar organisasi internasional ini.

KTT Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini digelar untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 pada 2019, yang merupakan pertemuan diplomatik terbesar di dunia.(PH)

Tags