Sep 22, 2022 17:26 Asia/Jakarta
  • Presiden RII Ebrahim Raisi pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-77, Rabu (21/9/2022).
    Presiden RII Ebrahim Raisi pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-77, Rabu (21/9/2022).

Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi menyampaikan pidatonya dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-77 di New York pada hari Rabu, 21 September 2022.

Sidang Majelis Umum PBB tahun ini merupakan yang pertama kali digelar penuh secara fisik setelah dilakukan secara daring pada 2020 dan secara daring dan luring pada 2021 akibat pandemi Covid-19.

Dalam pidatonya, Sayid Raisi menegaskan sikap Republik Islam Iran terhadap kebijakan koersif dan intervensionis Amerika Serikat (AS) di kawasan.

"Republik Islam Iran akan mengejar penyelidikan yudisial yang adil atas kejahatan mantan presiden AS dalam pembunuhan Letnan Jenderal Qassem Soleimani yang syahid melalui pengadilan yang adil," ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa keinginan untuk menegakkan keadilan sebagai amanat ilahi yang ada pada setiap orang.

"Republik Islam Iran mendukung globalisasi keadilan, karena keadilan mempersatukan, dan melawan kelaliman. Sebuah negara yang mengusung keadilan, tetapi mendukung teroris harus malu dengan kemanusiaan, kebebasan dan keadilan. Lebih tinggi dari HAM, hak bangsa-bangsa dengan mudah diinjak-injak oleh kekuatan besar," tegasnya.

Presiden Republik Islam Iran kemudian menunjukkan gambar Syahid Letnan Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan alQuds Korps Garda Revolusi Islam yang gugur diserang militer teroris AS di Bandara Internasional Baghdad.

Sayid Raisi menekankan kepada mereka yang hadir dalam Sidang Majelis Umum PBB mengenai peradilan yang adil dan penyelidikan kejahatan yang dilakukan mantan Presiden AS sebagai tuntutan kemanusiaan.

Di bagian lain pidatonya, Sayid Raisi mengungkapkan daftar kemajuan ilmiah, ekonomi dan teknologi Iran dewasa ini. Menurutnya, hari ini dunia membutuhkan Iran yang kuat.

"Dunia lama, unilateralisme, dominasi, pengabaian moralitas dan kebajikan yang menumbuhkan kemiskinan dan diskriminasi, penggunaan kekerasan dan organisasi internasional sebagai alat tekanan terhadap negara-negara independen menyebabkan tatanan yang tidak adil ini telah kehilangan legitimasinya, dan keruntuhan tatanan lama ini tidak terbantahkan lagi," tuturnya.

Presiden Iran mengatakan, kemerosotan etika politik dan pertumbuhan patologis tindakan unilateralisme yang tidak sah telah menciptakan tantangan besar di jalan kemuliaan manusia. Oleh karena itu, tidak ada pilihan selain solidaritas dalam kerangka multilateralisme dan berdasarkan prinsip-prinsip profetik dari para Nabi ilahi untuk menghadapi ancaman dunia modern.

Sayid Raisi juga menyatakan bahwa Republik Islam tidak mentolerir hubungan berdasarkan penindasan dan membela hak-hak rakyatnya.

"Logika yang didasarkan pada keadilan menciptakan kekuatan dan keyakinan dalam hati, dan sebuah negara yang tidak memiliki logika ini, menggunakan cara-cara imperialisme, intervensi militer, pengerahan pasukan dan berbagai aksi represif lainnnya," ungkapnya.

Presiden Iran juga menyampaikan keprihatinannya mengenai hegemoni dan semangat Perang Dingin sedang meresahkan dunia dan mengancam era baru krisis di dunia.

Raisi mengatakan, tuntutan bangsa-bangsa di dunia untuk mewujudkan keadilan semakin meningkat.

"Keberhasilan doktrin perlawanan adalah manifestasi yang jelas dari tekad bangsa-bangsa untuk mencapai keadilan. Tetapi di sisi lain, unilateralisme berusaha untuk menahan negara-negara dari jalur langsung mereka," ungkapnya.

Raisi menjelaskan bahwa AS tidak membiarkan negara-negara dunia berdiri di atas kaki mereka sendiri. Menurutnya, apa yang terjadi di Eropa saat ini merupakan manifestasi dari apa yang terjadi di Asia dalam beberapa dekade terakhir. (RA)

 

Tags