Sep 23, 2022 16:43 Asia/Jakarta

Presiden Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raisi saat menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-77 mengatakan, "Saat ini kita berkumpul ketika kita menyaksikan sebuah fakta penting, yakni "rotasi dan perubahan dunia" dan tibanya masa dan tatanan baru.

Sayid Ebrahim Raisi Rabu (21/9/2022) pagi waktu setempat saat menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-77 seraya merujuk pada bahaya dan ancaman tatanan dunia saat ini dan dunia yang kian memburuk, ia menekankan pada upaya padat dan terus menerus dari bangsa Iran untuk membentuk tatanan yang adil di dunia.

Presiden Iran mengatakan, "Hari ini kita berkumpul di saat menyaksikan sebuah fakta penting yakni "rotasi dan perubahan dunia" dan memasuki "era dan sistem baru". Dunia lama, unilateralisme, dominasi, pengabaian moralitas dan kebajikan yang menumbuhkan kemiskinan dan diskriminasi, penggunaan kekerasan dan organisasi internasional sebagai alat tekanan terhadap negara-negara independen menyebabkan tatanan yang tidak adil ini telah kehilangan legitimasinya, dan keruntuhan tatanan lama ini tidak terbantahkan lagi,".

Mengingat bahwa pidato di tribun PBB termasuk peluang bagi dunia untuk mendengarkan suara negara-negara independen, presiden Iran tahun ini dikehadiran pertamanya di Sidang Majelis Umum PBB menarik simpati dan perhatian organisasi ini atas hasil merusak dan negatif unilateralisme terhadap perdamaian, keadilan dan keamanan di berbagai wilayah dunia.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi

Ketidakadilan dan kekacauan adalah realitas dunia saat ini, yang merupakan produk langsung dari unilateralisme dan khususnya kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya. Melihat kebijakan Amerika dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa negara ini, terutama setelah insiden 11 September, mengintensifkan tindakan sepihaknya di dunia dan menyerang Afghanistan setelah beberapa bulan.

Di awal serangan ini, Amerika bahkan menolak usulan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk memanfaatkan fasilitas dan kerja sama. Amerika dengan dalih seperti perang melawan terorisme, juga memulai perang di Irak dan Suriah yang menewaskan ribuan orang, serta membuat negara-negara ini selama bertahun-tahun dilanda instabilitas, ketidakamanan dan maraknya teroris.

Sekaitan dengan ini, Amerika Serikat di era pemerintahan Presiden Donald Trump juga memulai proses keluar dari berbagai lembaga dan kesepakatan regional serta internasional, di mana keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA, keluar dari UNESCO dan perjanjian iklim Paris, perjanjian Trans-Pasifik (TPPA) dan perjanjian langit terbuka adalah contoh nyata dalam hal ini.

Jelas bahwa langkah unilateralisme Amerika yang dilakukan dengan menerapkan sanksi keras ekonomi dan dengan tujuan memaksakan tuntutan ilegalnya, bukan saja melemahkan keamanan internasional, bahkan juga memperluas ketidakadilan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Sementara itu, Republik Islam Iran adalah korban terbesar dari ketidakadilan ini, dan rakyat Iran serta seluruh negara yang menolak mengiringi kebijakan Amerika, selama bertahun-tahun menderita akibat unilateralisme dan sanksi ekonomi Washington. Hal ini kian menguak urgensi perhatian terhadap perubahan di sistem saat ini dan pentingnya menerapkan keseimbangan global berdasarkan multilateralisme. Oleh karena itu, Iran dan negara-negara besar dan berpengaruh lain di Asia, selama beberapa tahun terakhir dalambentuk perjanjian seperti SCO, tengah memperkuat hubungan dan konvergensi serta memainkan peran di struktur multilateralisme.

Jelas bahwa kebijakan luar negeri Iran senantiasa bertumpu pada penentangan terhadap unilateralisme dan berpartisipasi aktif di berbagai organisasi internasional serta multilateralisme dan bertumpu pada keadilan. Dari sudut pandang Republik Islam Iran, unilateralisme sebagai faktor kezaliman merupakan ancaman terpenting bagi komunitas dunia serta tidak ada keamanan di dunia yang akan langgeng tanpa sebuah sistem yang bertumpu pada keadilan.

Presiden Iran seraya mengisyaratkan bahwa dunia saat ini dari segala sisi tidak adil, menekankan, "Sistem yang tidak adil ini telah kehilangan legalitasnya di opini publik dunia dan telah terbentuk tekad kuat untuk mengubahnya. Kehancuran sistem lama ini tidak dapat diragukan lagi. Wilayah kita, yakni Asia Barat, mulai dari Afghanistan hingga Irak, Lebanon, Palestina dan Iran adalah museum besar kehancuran sistem lama ini." (MF)

 

Tags