Jun 08, 2019 13:14 Asia/Jakarta
  • Rahbar Pimpin Shalat Idul Fitri di Tehran
    Rahbar Pimpin Shalat Idul Fitri di Tehran

Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, khutbah Rahbar bertepatan dengan Haul Imam Khomeini ke-30 dan khutbah Idul Fitri.

Ada juga isu mengenai kontradiksi statemen petinggi AS dan klaim Trump serta Mike Pompeo berunding dengan Iran tanpa syarat serta kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Tajikistan.

Rahbar:Ideologi dan Jalan Imam Khomeini semakin Mempesona bangsa Dunia

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Selasa sore (04/06) di depan warga yang hadir di komplek makam Imam Khomeini menyebut rahasia pesona menakjubkan Imam adalah spesifikasi kepribadian dan berkah Ilahi yang dimilikinya.

Seraya menjelaskan dimensi dan komponen jalan serta logika muqawama sebagai pelajaran besar Imam bagi rakyat dan pejabat, Rahbar menegaskan, ideologi dan jalan ini setiap hari semakin mempesona bangsa dunia.

Rahbar saat Haul Imam Khomeini

Menurut laporan kantor penerangan Rahbar, Ayatullah Khamenei menerima keputusan besar di percakapan ke-30 haul Imam Khomeini dan pawai akbar warga di hari ini.

"Hari Quds sedunia digelar di lebih dari 100 negara dunia baik dengan pawai juga acara lainnya, dan ini menunjukkan 40 tahun setelah langkah Imam Khomeini menentukan hari Jumat terakhir bulan Ramadhan sebagai hari Quds sedunia, pengaruh dan daya terik dia tetap menggerakkan berbagai bangsa," tambah Rahbar.

Ayatullah Khamenei menilai alasan sambutan bangsa dunia atas jalan Imam Khomeini yakni muqawama adalah daya tarik esensial jalan ini. “Di proses ini, Republik Islam Iran tidak pernah memaksakan kepada bangsa lain, sama seperti penyelenggaraan acara atau pawai hari Quds sedunia tahun ini di lebih dari 100 negara dunia juga digelar atas pilihan bangsa itu sendiri,” tambah Rahbar.

Rahbar menyebut muqawama sebagai kalimat umum dan diterima seluruh bangsa di Asia Barat dan mengingatkan, namun begitu sejumlah pihak tidak berani terlibat di lapangan, tapi ada juga yang dengan berani masuk ke medan.

Ayatullah Khamenei juga menyebut front muqawama saat ini semakin kuat dan menambahkan, kekalahan Amerika di Lebanon, Irak, Suriah dan Palestina mewakili kekuatan front muqawama.

Seraya mengisyaratkan data resmi yang mengindikasikan anjloknya ekonomi Amerika dan menurunnya pengaruh Washington di ekonomi global, Rahbar mengingatkan, kekuatan Amerika di bidang politik juga menurun di mana pemilihan sosok dengan karakteristik Donald Trump merupakan indikasi paling nyata dan terbaik bagi menurunnya politik Amerika.

“Penyerahan nasib lebih dari 300 juta warga Amerika kepada sosok yang sangat diragukan atas keseimbangan pikiran, kejiwaan dan moral merupakan bukti nyata bagi kemunduran politik dan moral Amerika,” papar Rahbar.

Rahbar juga menyebutkan alasan lain dari dekadensi moral pemerintah Amerika adalah dukungan pemerintah ini terhadap kejahatan rezim Zionis Israel di bumi pendudukan dan dukungannya atas kejahatan sejumlah pemerintah di Yaman serta pembantaian rakyat negara ini.

"Di bidang sosial, Amerika juga membahas soal pertambahan termasuk angka kemenangan, kriminalitas, mengatasi, kecanduan dan kekerasan, mana mana dalam kondisi seperti ini Presiden Amerika Serikat di luarnya tampak berbelas kasihan kepada bangsa Iran dan berharap bantuan mereka, juga harus dipertanyakan, pergilah Jika kamu mampu menyelesaikan kesulitanmu sendiri, ”tegas Rahbar.

Rahbar Apresiasi Negara Arab yang Tolak Kesepakatan Abad

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar mengatakan, proyek Kesepakatan Abad tidak akan pernah berhasil, dan ia berterimakasih kepada negara-negara Arab serta kelompok perlawanan Palestina yang sudah mengumumkan penentangannya atas proyek tersebut.

Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (5/6/2019) dalam khutbah Shalat Idul Fitri di Mushola Imam Khomeini Tehran, mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada umat Islam dan rakyat Iran.

Ayatullah Khamenei Pimpin Shalat Idul Fitri di Tehran

Dalam khutbahnya, Ayatullah Khamenei menyebut masalah Palestina dan pengkhianatan Amerika dalam kerangka proyek Kesepakatan Abad, sebagai prioritas pertama Dunia Islam.

Rahbar menuturkan, pengkhianatan sebagian negara Muslim seperti Bahrain dan Arab Saudi, telah membuka peluang bagi terlaksananya rencana jahat semacam ini.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung soal Bahrain sebagai tuan rumah konferensi ekonomi yang merupakan pendahuluan proyek Kesepakatan Abad.

Ia menjelaskan, konferensi ini adalah milik Amerika, tapi para penguasa Bahrain menjadi tuan rumahnya, karena mereka lemah, tidak berdaya, serta memiliki semangat anti-rakyat dan anti-Islam, para penguasa Bahrain dan Saudi harus menyadari bahwan mereka sudah terperosok ke dalam jurang yang dalam.

Pada saat yang sama Rahbar menyampaikan terimakasih sedalam-dalamnya kepada rakyat Iran karena partisipasi luas mereka pada pawai akbar memperingati Hari Quds Sedunia.

"Partisipasi luas dan kokoh rakyat Iran dalam pergerakan besar ini sangat berpengaruh pada konstelasi politik global dan tekad musuh bangsa Iran, dan pawai ini telah merusak kalkulasi mereka," imbuhnya.

Menurut Ayatullah Khamenei beberapa tradisi Islam termasuk membantu sesama, semakin membudaya di tengah rakyat Iran, terutama di bulan suci Ramadhan.

Ia menegaskan, budaya membantu sesama yang terus meningkat di tengah rakyat Iran tampak dari menjamurnya jamuan berbuka puasa sederhana di masjid-masjid, pusat keagamaan dan tempat-tempat umum, begitu juga bantuan untuk korban banjir di bulan Ramadhan yang merupakan perbuatan baik dan sarat nilai sosial.

Menlu AS: Kami Siap Berunding dengan Iran tanpa Syarat

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan statemen kontradiktif terkait Iran dan mengatakan, Washington siap melakukan perundingan tanpa syarat dengan Tehran.

Tasnim News (2/6/2019) melaporkan, Menlu Amerika, Mike Pompeo yang sebelumnya menetapkan 12 syarat untuk berunding dengan Iran, Ahad (2/6) dalam jumpa persnya di Bellinzona, Swiss mengatakan, Amerika siap berunding tanpa syarat dengan Iran tentang program nuklir negara ini, tapi perlu melihat Tehran berperilaku seperti "negara normal".

Menlu AS Mike Pompeo bersama sejawatnya dari Swiss Ignazio Cassis

Sebelumnya pada bulan Mei 2018, pasca keluarnya Washington dari kesepakatan nuklir JCPOA, Menlu Amerika menetapkan 12 syarat untuk melakukan perundingan nuklir baru dengan Iran.

Di antara syarat itu selain mencakup program nuklir Iran dan pengayaan uranium, juga penghentian program rudal dan pembatasan partisipasi regional Iran.

Sampai detik ini pemerintah Iran menolak melakukan perundingan apapun dengan Amerika.

Statemen Pompeo ini menuai respon keras dari Juru Bicaara Kemenlu Iran, Sayid Abbas Mousavi. Terkait hal ini, Mousavi mengatakan, bagi Republik Islam Iran permainan kata-kata dan penjelasan tujuan terselubung dalam bentuk kalimat baru bukan tolok ukur perbuatan, tapi perubhaan pendekatan menyeluruh dan perilaku Amerika Serikat terhadap bangsa Iran yang akan menjadi parameter, di mana penekanan Pompeo akan berlanjutnya represi lebih keras terhadap Iran menunjukkan berlanjutnya pendekatan keliru sebelumnya yang harus diperbaiki.

Senator AS Bernie Sanders saat merespon usulan presiden AS untuk berunding dengan Iran memintanya untuk kembali ke JCPOA sebagai indikasi keseriusan Trump sola diplomasi.

Sementara itu, Eropa sudah mulai menggulirkan isu-isu di luar JCPOA. Emmanuel Macron, Presiden Perancis dan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat hari Kamis (06/06) dalam konferensi pers bersama di kota Normandy, Perancis mengatakan, "Pembicaraan baru tentang program nuklir Iran harus dilakukan."

Sikap bersama Perancis dengan Amerika Serikat ini telah berulang kali terjadi dan bahkan Paris pernah memainkan peran polisi jahat selama pembicaraan nuklir yang mengakibatkan pembicaraan intensif nuklir antara Iran dan enam kekuatan besar dunia berkepanjangan.

JCPOA hanya mencakup masalah nuklir Iran dan diimplementasikan hanya untuk menunjukkan niat baik Iran yang tidak punya keinginan untuk membuat senjata nuklir. Ketika Donald Trump berkuasa, Amerika Serikat secara sepihak keluar dari JCPOA dengan alasan kesepakatan ini tidak komprehensif.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan, "Menggulirkan isu-isu di luar Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) tidak akan membantu mempertahankannya."

"Menggulirkan isu-isu di luar JCPOA, bukan hanya tidak membantu mempertahankan JCPOA, tapi juga memberikan dasar bagi ketidakpercayaan lebih besar bagi pihak-pihak yang masih ada di JCPOA," ungkap Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kemenlu Iran ketika mereaksi sikap presiden Perancis yang selaras dengan presiden Amerika Serikat, Jumat (07/06).

Zarif Bertemu Sejawatnya dari Tajikistan

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif dan sejawatnya dari Tajikistan, Sirodjidin Aslov hari ini (Sabtu 01/06) bertemu dan berunding di Tehran.

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif

IRNA melaporkan, Mohammad Javad Zarif dan Sirodjidin Aslov di pertemuan ini membicarakan hubungan bilateral dan transformasi internasional.

Menlu Tajikistan yang tiba di Tehran hari Jumat (31/05) juga bertemu dengan Menteri Energi Iran, Reza Ardakanian.

Hubungan Tehran- Dushanbe dimulai sejak tahun 1991 setelah pengakuan kemerdekaan negara ini oleh Republik Islam Iran.

 

Tags