Aug 10, 2019 16:26 Asia/Jakarta
  • Myajen Salami, komandan IRGC
    Myajen Salami, komandan IRGC

Ancaman dan realita yang ada di kawasan Asia Barat mengharuskan perbatasan Republik Islam Iran semakin diperkuat.

Komandan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen. Hossein Salami hari Jumat (09/08) di depan para komandan angkatan darat IRGC di Kermanshah seraya menjelaskan poin ini menekankan kesiapan angkatan bersenjata Iran melawan setiap ancaman musuh.

Pengokohan keamanan di perbatasan geografi merupakan salah satu elemen utama bagi keamanan internal dan regional, karena setiap pergerakan provokatif dan melawan keamanan kolektif di kawasan dapat menjadi sumber peristiwa besar maupun kecil.

Di kondisi saat ini, salah satu ancaman terbesar kawasan adalah kehadiran intervensif dan pengobaran krisis Amerika dan Israel di kawasan. Amerika dengan melanjutkan kehadirannya di kawasan dan sikap keras kepalannya untuk membentuk koalisi militer destruktif, berencana mengobarkan krisis dan instabilitas di kawasan.

Oleh karena itu, mengingat perubahan mendalam dan yang berlaku saat ini di kawasan sensitif Teluk Persia dan Selat Hormuz, serta mengingat transformasi beberapa dekade terakhir dan meletusnya perang merusak di kawasan dengan peran langsung Washington, maka harus ada perhatian serius terkait keamanan perbatasan serta mengambil keputusan yang efektif dan pada akhirnya tindakan yang nyata.

Statemen Deplu Iran hari Jumat saat merespon potensi kehadiran militer Israel di koalisi militer Amerika di Teluk Persia juga menyinggung poin penting ini.

Juru bicara Kemenlu Iran, Sayid Abbas Mousavi Jumat (09/08) saat merespon statemen akan kesiapan Israel terlibat di koalisi militer Amerika untuk apa yang diklaim sebagai menjaga keamanan pelayaran di Teluk Persia, menilai partisipasi ini sebagai ancaman nyata terhadap keamanan nasional Iran dan mengatakan, melawan ancaman kehadiran Zionis di Teluk Persia merupakan hak Iran.

Seraya menjelaskan bahwa pembentukan koalisi militer Amerika di Teluk Persia akan mengobarkan tensi dan sebuah makar, Mousavi mengatakan, Iran mengumumkan penentangannya atas pembentukan koalisi seperti ini dan menilai penyelenggara, pembentuk dan anggota kaolisi ini sebagai pelaku pengobaran tensi dan krisis potensial mendatang di kawasan serta tanggung jawab seluruh dampak dari langkah berbahaya ini berada di pundak Amerika dan rezim Zionis Israel.

Strategi Amerika di kawasan terhadap Iran bertumpu pada pengobaran instabilitas di kawasan sekitar dan perbatasan Iran serta menghapus Tehran dari konstelasi keamanan di kawasan. Strategi ini sangat strategis bagi posisi Israel yang rentan.

Nasser Qandil, penulis dan pengamat politik asal Lebanon seraya mengisyaratkan ancaman Amerika terhadap Iran dan petualangan Israel di kawasan menyinggung poin ini bahwa Israel mengalami krisis politik akibat kekalahan beruntun dan musnahnya kekuatan rezim ilegal ini.

Qandil menjelaskan, masalahnya adalah Israel sejak awal perang selalu lemah dan di sisi lain, kekuatan muqawama semakin meningkat. Dengan demikian isu kemusnahan Israel bukan harapan tanpa dasar, tapi sebuah jalur sempurna di mana peluangnya telah terbentuk dan hakikatnya adalah Israel berada dalam kondisi kehancuran.

Wajar jika Iran sebagai salah satu negara kawasan Teluk Persia dan mengingat negara ini memiliki jalur pantai sepanjang 1500 mil di kawasan ini dan berdasarkan tanggung jawab bersejarah, Teluk Persia senantiasa menjadi wilayahnya dan Tehran komitmen untuk menjamin keamanannya serta keamanan pelayaran di kawasan ini.

Sejatinya keamanan di perbatasan darat, laut dan udara tergantung pada keamanan perbatasan yang terjamin dan terkontrol. Menurut perspektif ini, kehadiran pasukan transregional di Teluk Persia dengan nama dan bentuk apapun, bukan saja tidak membantu memperkokoh keamanan di kawasan ini, tapi menjadi peluang meningkatnya tensi dan krisis di kawasan sensitif Teluk Persia. (MF)

 

Tags