Nov 16, 2019 10:46 Asia/Jakarta

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai sebab berbagai musibah yang menimpa Dunia Islam, khususnya kondisi yang menyedihkan Palestina adalah kelemahan persatuan Islam.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran hari Jumat, 15 November, saat bertemu pejabat pemerintah Iran, para tamu peserta Konferensi Persatuan Islam, duta besar negara Muslim dan berbagai lapisan masyarakat menilai musibah-musibah yang menimpa Dunia Islam termasuk pendudukan Palestina dan perang berdarah di Yaman, Asia Barat dan Afrika Utara diakibatkan oleh tidak adanya komitmen atas prinsip menghindari konflik, dan tidak adanya persatuan melawan musuh bersama.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Beliau mengingatkan, "Hari ini musibah terbesar Dunia Islam adalah pendudukan Palestina, sebuah bangsa yang terasing dari rumah dan tanah airnya sendiri."

Republik Islam Iran dengan menamakan Pekan Persatuan Islam (12-17 Rabiul Awal) menunjukkan bahwa langkah ini bukan gerakan politik, tetapi keyakinan nyata akan keefektifan persatuan umat Islamuntuk menyelesaikan masalah dan ini selalu menjadi perhatian pejabat tinggi Iran selama 40 tahun terakhir.

Pendekatan Republik Islam ini berakar pada sifat agama Islam yang sangat menolak penindasan, arogansi dan dominasi, dan alasan utama untuk permusuhan nyata dari kubu arogan terhadap Iran bukan hanya sebagai negara Islam, tetapi musuh menentang asal Islam itu sendiri dan semua negara Islam.

Sikap dan kebijakan tegas Republik Islam Iran dalam mendukung negara Palestina yang tertindas didasarkan pada prinsip Islam yang tidak memiliki batasan untuk menyelamatkan bangsa Palestina dari penindasan Zionis Israel.

Penutupan pusat Zionis di Tehran, pendirian kedutaan Palestina di jantung ibukota Iran, penunjukan Jumat terakhir setiap bulan Ramadhan sebagai Hari Quds Sedunia, dukungan materi, politik dan moral terhadap warga Palestina di lingkaran regional dan internasional, dan akhirnya para pejabat Republik Islam menekankan pada penghapusan rezim Zionis berakar dalam kebijakan prinsip Iran untuk melindungi yang tertindas dan menyelamatkan mereka dari penindasan.

Bangsa Palestina selalu ditindas oleh Zionis Israel selama 70 tahun terakhir dan Republik Islam Iran telah menyatakan satu-satunya jalan keluar dari hal ini adalah dengan mengarahkan langsung pemilik asli tanah Palestina menentukan nasibnya, dimana mengandung nilai-nilai demokratis dan sesuai dengan undang-undang.

Sementara itu, musuh berusaha menafsirkan makna "hapus Israel" dengan memusnahkan orang-orang Yahudi. Dengan demikian mereka berusaha mengarahkan opini publik bahwa Iran memiliki masalah dengan orang-orang Yahudi, sementara orang-orang Yahudi telah berada di Iran selama bertahun-tahun. Mereka hidup dalam kedamaian dan keamanan total.

Menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam, "hapus Israel" berarti penghancuran "rezim Zionis yang dipaksakan" dan orang-orang Palestina, apakah Muslim, Kristen atau Yahudi, memilih pemerintah yang mereka sukai dan mengusir orang asing dan preman seperti Netanyahu, lalu mengelola negara mereka sendiri, dimana hal ini pasti akan terjadi."

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Akhir dari penindasan musuh di sebuah negara Islam memiliki hubungan yang bermakna dengan persatuan yang sesungguhnya, dan ini tidak bermakna hanya dengan mengeluarkan pernyataan sikap dari negara-negara Islam. Realisasi objektif persatuan Islam memiliki peran penting dalam mengakhiri masalah saat ini di dunia Islam.

Berbagai kelompok, mazhab dan negara-negara Islam dapat mencapai persatuan Islam sejati dengan "menjauhi musuh dan saling memukul satu sama lain" dalam langkah pertama dan kemudian dalam langkah kedua "bersatu menghadapi musuh bersama" dapat merealisasikan secara nyata persatuan Islam. Sebagai hasilnya, mereka harus menghentikan kondisi saat yang yang terjadi di Palestina, Yaman dan Bahrain di Asia Barat hingga Afrika Utara.

Tags

Komentar