Jan 18, 2020 16:32 Asia/Jakarta
  • Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran
    Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Dinamika Iran pekan ini didominasi oleh pelaksanaan shalat Jumat Tehran yang diimami oleh Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran.

Selain itu, pekan lalu Iran mereaksi tiga negara Eropa anggota JCPOA yang mengeluarkan pernyataan mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa JCPOA dan kunjungan Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran ke India.

Rahbar: Balasan Iran, Pukulan Telak bagi AS !

Pemimpin Besar Revolusi Islam pada bagian dari khotbah Jumatnya menjelaskan pelbagai masalah penting Iran dan k awasan tentang sejumlah peristiwa dua pekan lalu Iran dan menekankan sejumlah masalah penting.

Ayatullah Khamenei menyebut partisipasi luas bangsa Iran dalam prosesi duka perpisahan dan penghormatan terakhir dengan Syahid Qasem Soleimani, bersama sejumlah orang lainnya, dan balasan telak Sepah Pasdaran Iran dalam serangan rudal ke pangkalan militer Ain Al-Assad sebagai dua Yaumullah yang menjadi pelajaran dan penentu.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyampaikan penyesalan mendalam terkait peristiwa jatuhnya pesawat komersial Ukraina pekan lalu dan mengatakan, "Peristiwa yang sangat pahit ini benar-benar telah membakar hati kami dan merasakan sakit, tetapi sebagian orang yang mengikuti media-media Amerika dan Inggris berusaha untuk membuat peristiwa menyedihkan ini untuk melupakan prosesi duka agung dan serangan balasan Pasdaran yang menghancurkan, tentu saja sebagian pemuda emosional, tetapi ada juga orang yang tidak mau memahami kepentingan nasional dan berdiri tegak membelanya."

"Sedemikian kami dan bangsa Iran merasa sedih akan peristiwa ini, sebegitu juga para musuh bergembira. Karena mereka mendapat pegangan guna dapat mempertanyakan Pasdaran, pasukan angkatan bersenjata dan negara, tetapi makar ini tidak mempengaruhi kekuasaan Allah dan Yaumullah prosesi pemakanan dan Yaumullah penghancuran pangkalan militer AS tidak akan hilang dari ingatan dan dengan pertolongan ilahi justru setiap harinya akan semakin hidup," ungkap Rahbar.

Bangsa Iran sejak awal kemenangan Revolusi Islam sampai sekarang telah berkali-kali mengalami hari-hari sensitif dan menentukan. Setiap dari hari-hari besar ini menjadi titik bersejarah dengan dampak yang langgeng.

Hari ini, musuh-musuh Revolusi dan Republik Islam terdiri dari Amerika Serikat, rezim Zionis, para penjarah dan arogansi global yang permusuhannya terhadap prinsip Republik Islam Iran. Jalan untuk menghadapi konspirasi ini adalah mempertahankan persatuan nasional, kebijaksanaan, keberanian dan tidak takut akan ancaman musuh. Poin penting yang ditekankan dari khotbah Jumat Rahbar adalah bersandar pada kekuatan bangsa Iran dalam menghadapi musuh.

Bangsa Iran selama dua pekan lalu melakukan prosesi pemakaman agung dan luar biasa sembari menunjukkan persatuannya kepada musuh dan menunjukkan betapa Revolusi Islam tetap hidup dan dinamis serta akan melanjutkan jalan revolusi yang terang benderang di masa depan. Syahid Letjen Solaemani dan Abu Muhandis serta rombongannya memainkan peran penting di medan pertempuran dalam menghadapi musuh dan terorisme di kawasan dan menumpas teroris Daesh (ISIS) serta menggagalkan upaya disintegrasi kawasan oleh Amerika Serikat dan Zionis. Fakta ini menjadi bukti segala permusuhan dan kemarahan Amerika terhadap Iran dan bangsa-bangsa revolusioner serta poros Muqawama di kawasan.

Sekaitan dengan hal ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyinggung satu lagi dari Yaumullah di pekan terakhir adalah serangan balasan menghancurkan yang dilakukan Pasdaran terhadap Amerika Serikat seraya menekankan, "Pukulan keras reputasi ini tidak akan bisa ditebus dengan apapun dan peningkatan sanksi yang disampaikan AS beberapa hari ini juga tidak bisa mengembalikan harga diri mereka yang telah hilang."

Pengalaman membuktikan bahwa kehadiran Amerika Serikat di kawasan dan pengiriman pasukan AS ke negara-negara seperti Irak dan Afghanistan pada dasarnya sumber dari kebanyakan masalah kawasan dan Amerika Serikat masih terus bersikeras untuk melanjutkan proses in dan intervensifnya di kawasan.

Ayatullah Khamenei dalam hal ini menyinggung peran Pasukan Quds IRGC dan semua jajaran angkatan bersenjata baik Pasdaran, Militer dan Basij yang memiliki landasan berpikir dengan tujuan ilahi, seraya menjelaskan, "Pasukan Quds posisinya adalah pasukan tanpa teritorial. Di mana saja mereka dibutukan untuk membantu bangsa-bangsa regional dan melindungi martabat kaum lemah, mereka akan hadir dan dengan segala wujud dan kemampuannya akan menjadikan dirinya sebagai perisai hal-hal yang disucikan."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyebut pekerjaan paling penting Pasukan Quds adalah menjauhkan bayang-bayang perang, teror dan perusakan dari Iran yang mulia. Rahbar menekankan, "Bagian penting dari keamanan Iran adalah hasil dari usaha para pemuda mukmin yang berada di bawah komando Haji Qasem yang mulia dan selama bertahun-tahun sibuk melakukan jihad dan pengorbanan."

Hari ini, hasil dari usaha ini adalah perubahan kondisi kawasan dan konstelasi politik dan militer, dimana bangsa dan negara yang dipilih rakyat tidak lagi dapat menerima kehadiran intervensif Amerika Serikat. Ini berarti perubahan penting dan strategis di kawasan dan bahkan di tingkat internasional.

Di akhir khotbahnya, kepada semua bangsa muslim di kawasan, Rahbar menekankan, "Dunia Islam harus membuka lembaran baru dan membangkitkan kesadaran, juga hati nuraninya, kepercayaan diri sendiri untuk bangkit, dan semua tahu bahwa jalan untuk menyelamatkan bangsa-bangsa dengan kebijaksanaan, perlawanan dan keberanian menghadapi musuh."

Reaksi Iran atas Sikap Troika Eropa Mengaktifkan Mekanisme Penyelesaian Sengketa JCPOA

Pekan lalu, tiga negara Jerman, Inggris dan Perancis yang disebut Troika Eropa dan termasuk pihak yang masih tetap berada dalam Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) (kelompok 4 + 1) merilis pernyataan di Brussel dan mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa JCPOA.

Pemerintah Amerika Serikat pada bulan Mei 2018 secara sepihak dan melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan menerapkan kembali sanksi terhadap rakyat Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Mousavi

Sejak itu  pula, pihak Eropa yang berada dalam perundingan nuklir ini dan memiliki sejumlah kewajiban dalam kesekpakatan ini serta secara transparan mengaku secara resmi bertanggung jawab pada sidang-sidang Komisi Bersama JCPOA pasca keluarnya AS dari perjanjian ini ternyata tidak mampu melakukan langkah-langkah nyata dan serius untuk melaksanakan komitmennya.

Pengumuman dimulainya proses penyelesaian sengketa dan mengaktifkan pasal 36 JCPOA oleh pihak Eropa disampaikan dalam kondisi ketika pasal ini telah menjadi rujukan Republik Islam Iran sejak beberapa waktu lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Mousavi saat merespon statemen Jerman, Inggris dan Perancis terkait pengaktifan mekanisme penyelesaian sengketa di JCPOA menekankan, "Proses penyelesaian sengketa di JCPOA telah dimulai sejak satu tahun lalu dengan mengirim surat resmi kepada koordinator komisi bersama JCPOA dan saat ini dari sisi proses dan bukan praktis, tidak ada hal baru yang terjadi."

Nasib JCPOA sekarang setelah lebih dari dua tahun berada dalam kondisi tidak seimbang. Karenanya, Republik Islam Iran berdasarkan pasal 26 dan 36 JCPOA menghentikan sebagian komitmen nuklirnya dalam lima tahap.

Dalam pasal 36 JCPOA disebutkan, "Jika Iran percaya bahwa masing-masing atau semua kelompok 5 + 1 telah gagal memenuhi kewajiban mereka, Iran dapat merujuk masalah tersebut kepada Komisi Bersama untuk penyelesaian. Dengan demikian, bila setiap anggota 5 + 1 percaya bahwa Iran belum memenuhi komitmennya, kelompok 5 +1 pun dapat melakukan hal yang sama."

Komisi bersama memiliki mekanisme yang jelas untuk menindaklanjuti permintah kedua pihak dan dalam kondisi tertentu dapat berujung pada pengembalian sanksi internasional terhadap Iran secara otomatis. Pihak Eropa mengklaim bahwa tujuan dari keputusan mereka untuk melindungi kesepakatan nuklir lewat pembahasan dan lobi dengan Iran untuk kembali pada komitmennya sesuai JCPOA, bukannya penerapan kembali sanksi PBB.

Sejauh ini, Iran tidak melihat sikap yang jelas dari Eropa, sementara JCPOA menurut mereka sendiri sangat penting. Mereka sekarang justru mengingkan adanya kesepakatan JCPOA yang baru, sehingga JCPOA akan diubah menjadi perjanjian yang tidak efektif. Alih-alih mengeluarkan pernyataan, pihak Eropa harus membuktikan punya kehendak independen untuk melindungi satu kesepakatan multilateralisme.

Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran di bagian lain dari khotbah Jumatnya di Tehran mengatakan, "Sejak awal saya sudah mengatakan tidak percaya dengan ucapan pihak Eropa pasca JCPOA dan mereka tidak melakukan apa-apa dan hanya melayani Amerika Serikat. Sekarang sudah jelas bahwa mereka benar-benar hina kaki tangan AS yang berkhayal dapat menundukkan bangsaIran. Tentu saja tuannya yang lebih besar, yakni AS, tidak dapat melakukan hal ini, lalu bagaimana mereka!"

Kunjungan Menlu Iran ke India

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif melakukan kunjungan ke India untuk menghadiri sidang tahunan The Raisina Dialogue di New Delhi dan melakukan pertemuan dengan sejumlah petinggi dari berbagai negara peserta dan membicarakan transformasi terpenting regional serta dunia.

Mohammad Javad Zarif dan Narendra Modi

Selama kunjungannya ke India, Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri India dan membahas perluasan kerjasama ekonomi antara kedua negara dan beberapa masalah.

Dalam pertemuannya dengan Narendra Modi, Perdana Menteri India, Menlu Zarif membicarakan hubungan bilateral, kerja sama perdagangan dan ekonomi, khususnya di sektor energi, kerja sama di pelabuhan Chabahar yang terletak di tenggara Iran serta bertukar pikiran soal berbagai masalah regional dan internasional.

Sementara ketika bertemu dengan timpalannya dari India, Subrahmanyam Jaishankar, keduanya membahas hubungan bilateral, khususnya di bidang ekonomi dan kondisi kawasan.

Tags

Komentar