Jan 24, 2020 18:20 Asia/Jakarta
  • Lemahnya Eropa di Hadapan Tekanan AS terkait JCPOA

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Sayid Abbas Mousavi menilai pemunculan istilah "Perjanjian dan Kesepakatan Trump" ketimbang perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) sebagai langkah dalam konteks ilusi para pejabat Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Mousavi dalam tweetnya pada Kamis (23/1/2020) sore ketika mereaksi pemunculan istilah "Perjanjian Trump" oleh Wakil Khusus AS untuk Iran Brian Hook.

Jubir Kemlu Iran menulis, istilah "Perjanjian Trump" hanyalah refleksi dari khayalan lama para pejabat Amerika, yang berasal dari arogansi mereka yang merasa besar.

Pembicaraan tentang "Perjanjian Trump" mengemuka bersamaan dengan pengaktifan kembali mekanisme penyelesaian sengketa perjanjian nuklir JCPOA oleh negara-negara Eropa, di mana tiga hal yang tidak ada hubungannya dengan perjanjian tersebut juga diungkap kembali.

Apa yang meliputi istilah "Perjanjian Trump" yang dimaksud adalah Iran tidak memiliki hak untuk melakukan pengayaan uranium, program rudal negara ini harus masuk ke dalam bagian perundingan dan kebijakan Iran di kawasan harus diubah.

Sebelumnya, hal-hal tersebut juga dilontarkan oleh sejumlah negara Eropa yang terlibat dalam perjanjian nuklir JCPOA seperti Inggris. Tindakan ini menunjukkan bahwa Eropa telah berkoordinasi dengan AS terkait JCPOA dan mereka tidak mampu memainkan perannya secara independen.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohamad Javad Zarif dalam tweetnya pada hari Rabu, 22 Januari 2020 memprotes pendekatan baru Eropa terhadap JCPOA setelah ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump.

Zarif menulis, ketika tiga negara Eropa ( Inggris, Perancis dan Jerman) menjual sisa-sisa JCPOA untuk menghindari tarif Trump pekan lalu, saya memperingatkan bahwa itu hanya akan membangkitkan selera makannya.

Setelah menjual integritas mereka dan kehilangan dasar moral/hukum karena ancaman tarif lain, Uni Eropa lebih baik mengerahkan dan menjalankan kedaulatannya.

Sebelumnya, Trump mengancam untuk mengenakan tarif 25 persen pada impor mobil Eropa jika Inggris, Perancis dan Jerman tidak secara resmi menuduh Iran melanggar perjanjian nuklir JCPOA.

Posisi baru yang diambil Inggris, Perancis dan Jerman di hadapan ancaman Trump menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki kedaulatan yang independen. Ancaman Trump juga telah mengungkap betapa ekonomi dan politik Eropa bergantung pada AS sehingga klaim tentang pentingnya kedaulatan Eropa menjadi dipertanyakan.

Eropa yang menyebut JCPOA sebagai hasil dari diplomasi dunia dan peran hebat enam kekuatan dunia, hari ini tidak mampu melakukan perannya secara independen terkait perjanjian internasional itu, alih-alih akan menyelamatkan JCPOA. Mereka justru mengamini dikte AS.

Tunduknya Eropa atas tekanan Presiden AS telah mengguncang pondasi kekuatan negara-negara Eropa. Dan yang pasti, penjualan sisa-sisa JCPOA akibat tekanan Trump tidak akan menjadi langkah terakhir dari tekanan Presiden AS ini.

Perubahan global terjadi setelah Trump berkuasa di Amerika. Keluarnya AS dari perjanjian-perjanjian dan kesepakatan internasional menunjukkan dengan jelas bahwa nafsu Trump yang keluar dari hukum tidak akan berhenti di situ, dan ini juga tak terlepas dari lemahnya Eropa dalam merespon tekanan AS.

Ancaman, intimidasi dan kebijakan Trump tersebut demi memajukan tujuan-tujuan Amerika, dan jika Eropa mengikuti terus kemauan Trump maka tidak akan dapat dibayangkan mengenai perspektif sejarah yang jelas tentang kekuatan dan kedaulatan Eropa.

Kebijakan yang diambil Eropa saat ini menunjukkan adanya perpecahan di antara mereka.  Posisi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson terhadap JCPOA dan kebijakannya yang mengikuti langkah AS membuktikan bahwa pemikiran Trump telah merasuk dalam struktur kekuatan Eropa.

Dalam kondisi seperti ini, perjanjian nuklir JCPOA akan selamat jika negara-negara Eropa yang terlibat dalam perjanjian internasional ini melaksanakan komitmen dan kewajibannya dalam JCPOA.

Memunculkan masalah baru dan kesepakatan baru hanyalah ilusi, sebab Iran sebagai negara independen tidak akan merundingkan komponen-komponen pencegahan dan lingkup pengaruhnya. Program rudal Iran untuk pencegahan dan program nuklir untuk tujuan damai adalah hak legal bangsa negara ini yang tidak bisa ditawar-tawar. (RA)

Tags

Komentar