Jan 29, 2020 14:49 Asia/Jakarta
  • Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif.
    Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif mereaksi prakarsa Kesepakatan Abad yang dirancang oleh Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik Palestina dengan rezim Zionis Israel.

Zarif dalam tweetnya pada hari Senin  (27/1/2020) menyebut prakarsa Kesepakatan Abad sebagai "delusi" dan "mati pada saat kedatangan."

Dia menambahkan, dunia harus menghormati hak semua rakyat Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Zarif menjelaskan, akan lebih baik untuk menerima solusi demokratis Iran yang diusulkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei melalui referendum yang melibatkan seluruh rakyat Palestina: Muslim, Yahudi, dan Kristen guna memutuskan masa depan mereka.

Sebelumnya, Trump dijadwalkan akan meresmikan Kesepakatan Abad pada Selasa setelah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu dan dan seorang politisi senior rezim ini, Benny Gantz.

Berdasarkan Kesepakatan Abad, al-Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis, pengungsi Palestina di luar negeri tidak berhak kembali ke tanah airnya, dan Palestina hanya terdiri dari wilayah yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Kesepakatan Abad merupakan prakarsa pemerintah AS untuk menghapus hak-hak rakyat Palestina. Prakarsa ini dibuat melalui kerja sama dengan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Dalam kerangka Kesepakatan Abad, Trump pada 6 Desember 2017 mengumumkan al-Quds pendudukan sebagai ibu kota rezim Zionis.

AS kemudian memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds pada Senin, 14 Mei 2018. Al-Quds diduduki rezim Zionis sejak tahun 1967. (RA)

Tags

Komentar