Feb 13, 2020 19:03 Asia/Jakarta

Sebuah film animasi tentang serangan teror militer Amerika Serikat terhadap Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Letnan Jenderal Soleimani diluncurkan di Republik Islam Iran.

Film animasi tersebut juga mengisahkan tentang tasyi' jenazah Syahid Letjen Soleimani yang dihadiri oleh jutaan orang dan serangan balasan pasukan IRGC terhadap pangkalan militer AS, Ain al-Assad di Irak. 

Letjen Soleimani adalah pejabat tinggi militer Republik Islam Iran yang popularitasnya mulai meningkat setelah memimpin perang untuk menumpas kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) di Suriah dan Irak.

Letjen Soleimani adalah Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) untuk misi di luar perbatasan Iran. Dia sangat membantu Suriah sebagai penasihat militer pasukan negara Arab ini ketika Daesh meluncurkan serangan berdarah ke Suriah sejak tahun 2011.

Dia juga memainkan peran penting dalam membentuk Pasukan Relawan Irak yang dikenal sebagai Hashd al-Shaabi pada 2014 ketika Daesh mendeklarasikan kekhalifahannya di Irak dan menguasai beberapa provinsi di negara ini.

Hashd al-Shaabi kemudian berhasil mengalahkan Daesh dan mengusir kelompok teroris itu keluar dari Irak. Kemenangan bagi pasukan Suriah dan Irak ini semakin meningkatkan popularitas Letjen Soleimani di kalangan rakyat Irak, Suriah dan Iran.

Ketika Letjen Soleimani mendeklarasikan berakhirnya kekhalifahan Daesh pada tahun 2018, Amerika Serikat –yang menyebut dirinya sebagai penyelamat bagi rakyat Irak dan Suriah– menganggap Soleimani sebagai musuh bebuyutan dan rintangan bagi perdamaian di Asia Barat (Timur Tengah). Atas dalih itu, AS kemudian memberlakukan sanksi terhadap pejabat militer Iran ini. Rezim Zionis Israel juga memasukkan Soleimani ke dalam daftar yang disebut sebagai daftar teroris.

Pembunuhan terhadap Letjen Soleimani dalam serangan drone AS menimbulkan pertanyaan kunci: Apakah AS benar-benar memerangi Daesh? Atau, seperti kata Presiden AS Donald Trump sendiri bahwa Daesh diciptakan oleh pendahulunya Barack Obama. Yang pasti adalah AS telah membunuh seseorang yang memainkan peran terbesar dalam  menumpas Daesh dari kawasan.

Sejak kemunculan kelompok teroris Daesh buatan Amerika dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Irak dan Suriah, pemerintah kedua negara ini meminta secara resmi kepada Iran untuk membantu menumpasnya. Letjen Soleimani ditugaskan untuk misi tersebut hingga akhirnya, Daesh di Irak dan Suriah berhasil ditumpas.

Letjen Soleimani bersama dengan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Abu Mahdi al-Muhandis gugur syahid dalam serangan udara AS di  di Bandara Internasional Baghdad pada Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

Empat pasukan IRGC (Pasdaran) yang menyertai Letjen Soleimani dan empat anggota Hashd al-Shaabi yang menyertai Abu Mahdi al-Muhandis juga gugur syahid dalam serangan udara tersebut. Serangan pengecut ini dilakukan atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump.

Selain aktif membantu Irak dan Suriah dalam menumpas Daesh, Letjen Soleimani juga melakukan beragam kegiatan kemanusiaan seperti membantu para korban yang terkena dampak bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.

Peran aktif Letjen Soleimani dalam menumpas terorisme dan aktif di sektor bantuan kemanusiaan bukan rahasia lagi bagi rakyat dan bangsa di kawasan Asia Barat. Teror terhadap Soleimani kembali menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara pemerintah Amerika dan kelompok-kelompok teroris di kawasan. Sebab, pejabat senior militer Iran ini memiliki peran besar dalam menumpas kelompok-kelompok teroris terutama teroris takfiri Daesh.

Peran besar Soleimani dalam menumpas kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah tidak bisa dipungkiri, bahkan surat kabar The Guardian menyebutkan bahwa Soleimani masuk ke dalam daftar 10 tokoh di balik layar yang paling berpengaruh di dunia. Surat kabar itu menulis, Amerika dan Israel telah berulang kali berusaha untuk melenyapkannya.

Majalah Amerika Foreign Policy juga memasukkan Soleimani dalam daftar 10 pemikir terbaik di bidang pertahanan dan keamanan. Tak diragukan lagi bahwa hal itu dikarenakan peran khusus Komandan Pasukan al-Quds IRGC dalam menumpas terorisme, terutama di Irak dan Suriah.

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif  menyebut Soleimani sebagai orang yang paling efektif dalam menumpas Daesh, Front al-Nusra, al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lainnya, sehingga dia menjadi incaran terorisme internasional Amerika.

Soleimani memiliki peran penting dalam membentuk dan memperkuat Poros Muqawama di Asia Barat, di mana Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyebutnya sebagai "Wajah Internasional Perlawanan".

Kecintaan mereka kepada Letjen Soleimani tampak jelas setelah gugurnya pejabat tinggi militer Iran ini. Tasyi' jenazah Komandan Pasukan al-Quds Garda Revolusi Islam Iran yang diikuti oleh jutaan orang, berlangsung di beberapa kota dari Baghdad, Karbala dan Najaf Irak hingga kota Ahvaz, Mashhad, Tehran, Qom dan Kerman.

Tasyi' jenazah Syahd Soleimani  di Tehran berlangsung pada Senin pagi, 6 Januari 2020. Jutaan warga Tehran, ibu kota Republik Islam Iran tumpah ruah ke jalan untuk mengikuti tasyi' jenazah Letjen Soleimani. Acara dimulai dengan pembacaan al-Quran sejak pukul 08.00 waktu setempat hingga selesai.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memimpin shalat jenazah yang berlangsung di Universitas Tehran. Jenazah Komandan Pasukan al-Quds IRGC kemudian dibawa ke Qom dan setelah itu dimakamkan di Kerman, tempat kelahirannya pada hari Selasa, 7 Januari 2020.

Rakyat Iran menuntut angkatan bersenjata negara ini untuk membalas dengan tegas teror militer Amerika terhadap Letjen Soleimani. Dalam pidato singkat pada acara pemakaman Letjen Soleimani di Kerman, Selasa, 7 Januari 2020, Komandan Pasukan IRGC Mayor Jenderal Hossein Salami mengatakan, Iran akan memberikan balasan tegas, keras, melumpuhkan dan pasti, kepada para pelaku pembunuhan Letjen Soleimani.

Selang beberapa jam pidato tersebut,  pasukan IRGC pada Rabu dini hari, 8 Januari 2020, menghujani pangkalan militer AS, Ayn al-Asad di Provinsi al-Anbar, Irak dengan 13 rudal balistik.  Balasan keras Iran terhadap tindakan terorisme AS adalah sebuah hak yang sah dan merupakan sebuah langkah mendesak demi menjamin keamanan kawasan.

Serangan balasan dengan sandi "Ya Zahra" tersebut dilancarkan setelah sistem radar pangkalan militer AS di Irak itu dilumpuhkan sehingga tidak bisa mendeteksi rudal Iran.

Mendengar berita tersebut, masyarakat Iran di berbagai kota negara ini bergembira dan saling mengucapkan selamat atas serangan balasan itu. Mereka juga meneriakkan Takbir dan slogan-slogan anti-Amerika dan berterimakasih kepada pasukan IRGC.

Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya di hadapan ribuan warga kota Qom pada Rabu siang, 8 Januari 2020 menyinggung serangan balasan IRGC terhadap pangkalan udara Amerika di Irak.

Rahbar mengatakan, pasukan AS harus meninggalkan kawasan Asia Barat (Timur Tengah) karena rakyat di kawasan tidak menginginkan mereka.  

"Mengenai masalah pembalasan, tadi malam kita telah menampar mereka. Tapi Langkah militer tidak cukup sampai di situ. Sebab kehadiran destruktif AS di kawasan harus diakhiri secara total. Mereka di kawasan menyulut perang, fitnah, kerusakan dan kehancuran infrastruktur," ujar Ayatullah Khamenei.

Di bagian lain pidanya Rahbar menekankan bahwa di manapun Amerika datang senantiasa menimbulkan kerusakan.

"Mereka memaksakan supaya kerusakaan tersebut dituduhkan kepada Iran yang kita cintai bersama, dan Republik Islam. Mereka memaksa berunding dan duduk di meja perundingan, tapi ini menjadi pembuka untuk kehadiran dan intervensinya. Kehadiran AS yang seperti ini tidak bisa kita terima. Bangsa-bangsa kawasan tidak bisa menerimanya," paparnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menjelaskan, "Apa yang menjadi tugas seluruh lapisan masyarakat dan pejabat rakyat Republik Islam adalah memahami musuh. Jangan sampai kita salah dalam mengenali musuh. Jangan katakan, 'kita semua tahu musuh kita adalah AS, dan rezim Zionis'.  Musuh kita adalah Amerika, rezim Zionis dan semua perangkat yang menguatkan musuh dari korporasi, perusahaan dan lainnya."

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam khutbah Jumat pada tanggal 17 Januari 2020 juga menyebut hari penghancuran pangkalan militer AS di Irak oleh rudal-rudal IRGC sebagai salah satu dari "Ayyamullah".

Ayatullah Khamenei mengatakan, sebuah  bangsa dengan kemampuan dan kekuatan spiritual seperti ini telah menampar sebuah kekuatan arogan dan pengganggu dunia, di mana ini menunjukkan kekuatan Ilahi, oleh karena itu, hari yang besar ini juga merupakan bagian dari "Ayyamullah".

Rahbar menyebut pukulan pasukan IRGC tersebut telah memalukan Amerika, dan mengatakan, pukulan kuat ini tidak akan terkompensasi oleh apapun, dan penambahan sanksi terhadap Iran yang dikatakan oleh para pejabat Amerika akhir-akhir ini, tidak akan mampu mengembalikan wibawa mereka yang telah hilang.

"Pukulan keras yang membanggakan ini tidak akan bisa ditebus dengan apapun, dan peningkatan sanksi yang disampaikan AS beberapa hari ini juga tidak bisa mengembalikan harga diri mereka yang telah hilang," tegas Ayatullah Khamenei dalam khutbah Jumat yang dihadiri oleh jutaaan warga Tehran itu. (RA)

Tags

Komentar