Feb 15, 2020 13:13 Asia/Jakarta
  • Presiden Hassan Rouhani berpidato di peringatan 41 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran
    Presiden Hassan Rouhani berpidato di peringatan 41 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran

Dinamika Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting dan yang terpenting adalah peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran ke-41 di seluruh negeri.

Sementara isu lainnya tentang pernyataan Mayjen Salami di peringatan 40 hari syahadah Letjen Qassem Solaemani, pesan Mayjen Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran menjelang peringatan ke-41 kemenangan Revolusi Islam Iran dan peluncuran satelit Zafar ke luar angkasa yang gagal sampai ke orbitnya.

Peringatan Kemenangan Revolusi Islam Iran Ke-41

Pada peringatan 401tahun kemenangan Revolusi Islam, jutaan warga Iran di berbagai kota melakukan pawai akbar pada 22 Februari sembari menegaskan kembali dukungan mereka kepada cita-cita revolusi dan perlawanan terhadap konspirasi arogansi global pimpinan AS.

Peserta pawai akbar 22 Bahman kemenangan Revolusi Islam

Partisipasi warga yang banyak dan bersatu pada hari-hari besar seperti 22 Februari dan begitu juga dalam pemilu yang telah diselenggarakan selama 41 tahun terakhir telah menunjukkan kepada musuh bahwa bangsa Iran tidak akan pernah kembali ke belakang.

Berpidato pada peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran pada 22 Februari, Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani mengatakan, ""Jalan kita adalah jalan menuju kemajuan dan keunggulan negeri ini dan dengan demikian Anda melihat permusuhan dan kedengkian ini telah muncul dalam bentuk yang berbeda selama 41 tahun terakhir, tetapi jalan revolusi adalah jalan dari hari pertama."

Presiden Republik Islam Iran telah menyatakan bahwa yang telah memperkuat revolusi adalah kehadiran rakyat dan suara rakyat.

Mengekspresikan pentingnya perlawanan bangsa Iran terhadap permusuhan dan tekanan, Presiden Rouhani mengatakan, "Amerika Serikat telah menarget semua perdagangan, ekspor, impor, dan kebutuhan bangsa selama dua tahun terakhir dengan segala tekanan terhadap rakyat Iran agar kesabaran mereka habis."

Apa yang menyebabkan salah dalam perhitungan mereka adalah bahwa Amerika tidak memahami kebesaran rakyat Iran.

Presiden Republik Islam Iran, dalam pertemuan dengan duta besar dan ketua-ketua perwakilan dan organisasi asing yang berada di Tehran, pada hari Senin, 11 Februari, juga menandai peringatan 41 tahun kemenangan Revolusi Islam di Tehran seraya mengatakan, "Mereka yang akrab dengan sejarah, peradaban, dan budaya Iran tahu bahwa orang-orang Iran tidak akan pernah menyerah pada intimidasi, ucapan yang tidak benar, salah dan tekanan yang tidak benar."

Apa yang tidak mampu dipahami oleh AS adalah bahwa ia belum menyadari posisi dan kebesaran bangsa Iran selama 41 tahun terakhir.

Mayjen Salami: Syahid Soleimani Persatukan Dunia Islam!

Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayjen Hossein Salami menyatakan Republik Islam akan membalas setiap manuver anti-Iran yang dilakukan AS dan rezim Zionis.

Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayjen Hossein Salami

Mayjen Salami dalam acara peringatan 40 hari kesyahidan Letjen Haji Qassem Soleimani dan rekan-rekannya  di Tehran hari Kamis (13/2/2020) menanggapi pernyataan terbaru pejabat rezim Zionis bahwa Israel dan Amerika bekerja sama untuk memukul Iran di Suriah dan Irak, dengan mengatakan bahwa Sepah Pasdaran Iran akan melancarkan balasan telak jika rezim Zionis dan Amerika Serikat melakukannya.

Mengenai aksi balasan Iran menembakkan sejumlah rudal ke pangkalan militer AS di Irak sebagai balasan terhadap aksi teroris pemerintah AS kepada Letjen Qassem Soleimani, Mayjen Salami mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menerima tamparan keras dari Iran, tapi pukulan besar Iran masih akan terus berlanjut, hingga tidak ada lagi tentara AS berada di negara-negara Muslim.

Panglima IRGC juga mengatakan, "Berkat Haji Qassem, semua bagian rezim Zionis saat ini berada dalam kondisi ketakutan terhadap potensi serangan dari Palestina,".

"Syahid Soleimani menyatukan dunia Islam dan menggagalkan kebijakan AS untuk menciptakan Timur Tengah baru," tegasnya.

Mayjen Bagheri: Iran Memperkuatan Pertahanan untuk Melawan Musuh

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Mayjen Mohammad Bagheri dalam pesannya menjelang peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran ke-41 menekankan berlanjutnya proses peningkatan kekuatan pertahanan dalam menghadapi musuh.

Pesan itu menekankan bahwa pasukan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkan musuh sekalipun hanya sesaat untuk merusak perdamaian dan stabilitas masyarakat dan keamanan berkelanjutan Iran yang tak tertandingi

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Mayjen Mohammad Bagheri

"Pasukan Angkatan Bersenjata Iran adalah lengan kuat dan hebat yang menciptakan pertahanan dan keamanan dari Revolusi dan negara Islam," ungkap pesan tersebut.

Pertahanan sebagai komponen keamanan adalah kepentingan strategis. Karenanya, Republik Islam Iran telah memberikan perhatian khusus pada prinsip ini dalam doktrin militernya.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan baru-baru ini dengan jajaran komandan, pilot dan personel Angkatan Udara Republik Islam Iran menekankan urgensi memperkuat Iran di segala bidang terutama pertahanan seraya mengatakan, "Supaya tidak terjadi perang, dan agar ancaman berakhir, Iran harus kuat."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa kelemahan akan mendorong musuh untuk bertindak. Rahbar menambahkan, "Kita tidak ingin mengancam negara atau bangsa manapun, kita berusaha menjaga keamanan negara dan mencegah ancaman."

Angkatan bersenjata Republik Islam Iran dengan kemajuan yang diraih di bidang pertahanan, sesuai dengan penilaian lembaga-lembaga penelitian militer disebut memiliki kekuatan di tingkat pencegahan.

"Selama sebagian pihak berbicara dengan bahasa ancaman, Iran akan terus memperkuat kekuatan pertahanannya," ungkap Amir Hatami, Menteri Pertahanan Iran.

Mayjen Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran dengan menekankan masalah ini menjelaskan:

"Berdasarkan ajaran Islam dan cita-cita Republik Islam, kami tidak bermaksud untuk menginvasi dan mengagresi serta bahkan tamak akan tanah negara mana pun, karena dalam strategi besar negara kita, strategi pertahanan berarti mempertahankan kemerdekaan, integritas wilayah, dan kepentingan nasional negara dan bangsa Iran, tetapi Ini tidak berarti dalam pendekatan di tingkat operasional dan taktik kita hanya defensif dan pasif. Jadi, dalam menjaga kepentingan kita sendiri, kita mungkin memiliki pendekatan ofensif sehingga pihak asing dengan melihat bukti dan implikasinya, dapat menghilangkan pemikiran untuk melanggar kepentingan negara kita."

Peluncuran Satelit Zafar ke Ruang Angkasa

Iran telah bergabung dengan negara-negara dengan kemampuan meluncurkan satelit yang ditandai dengan peluncuran satelit "Omid" (Harapan) yang sukses pada 7 Februari 2009. Dari 6 peluncuran satelit sejauh ini, empat telah berhasil dan 3 gagal.

Peluncuran satelit Zafar dengan roket pembawa satelit Simorgh

Satelit Zafar juga diluncurkan pekan lalu tetapi jatuh karena kurangnya kecepatan dan ketinggian. Tak lama setelah peluncuran, Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Republik Islam Iran Mohammad Javad Azari Jahromi mengumumkan bahwa satelit itu tidak berada di orbit. Jahromi mengatakan peluncuran satelit itu berhasil, tetapi karena kurangnya kecepatan yang dibutuhkan, satelit itu tidak berada di orbit dan terjatuh di Samudra Hindia.

Satelit itu bahkan telah melintasi orbit 530 km dan mencapai orbit 540 km, tetapi melambat dan berhenti dengan kecepatan 6.500 mil per jam.

Menariknya, Kementerian Luar Negeri Perancis mengklaim bahwa peluncuran satelit ini bertentangan dengan kewajiban internasional Iran dan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Brigadir Jenderal Amir Hatami, Menteri Pertahanan Iran menanggapi klaim AS dan Perancis bahwa peluncuran satelit oleh Iran melanggar kewajiban internasional Iran dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231 seraya menjelaskan, "Apa yang dilarang dalam masalah rudal itu adalah tentang rudal yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir, sementara Iran tidak memiliki rudal seperti itu."

Juru Bicara Tim Antariksa Kemenhan Iran Sayid Ahmad Hosseini menyatakan, "Roket pembawa satelit memiliki tujuan ilmiah dan sipil dan tidak boleh dibandingkan dengan rudal militer."

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Sayid Abbas Mousavi, ketika menolak pernyataan intervensionis Perancis tentang program dirgantara Iran, menyebutnya sebagai hak pasti Iran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, "Program pertahanan rudal Iran tidak ada hubungannya dengan resolusi 2231. Karena tidak dirancang untuk membawa senjata nuklir."

Tags

Komentar