Mar 17, 2020 18:47 Asia/Jakarta
  • Bendera Iran
    Bendera Iran

Tahun 1398 Hs di Iran diwarnai sejumlah peristiwa penting, mulai dari permusuhan Amerika terhadap Tehran dengan represi maksimum hingga sanksi berat yang katanya hanya terbatas pada sektor minyak.

Namun ternyata sanksi ini juga menyasar kebutuhan primer dan mendasar rakyat seperti makanan dan obat-obatan.

Peristiwa penting lain di Iran selama tahun 1398 Hs adalah gugurnya Letjen Qasem Soleimani, komandan pasukan Quds Pasdaran di tangan militer Amerika, pemilu parlemen ke-11 dan wabah Corona.

Sanksi Ilegal AS terhadap Iran

Pasca pengumuman penarikan diri Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), Gedung Putih kembali menerapkan sanksi sepihak terhadap Iran dalam dua tahapan; bulan Agustus dan November 2018. Sanksi-sanksi ini melanggar hukum internasional termasuk resolusi bernomor 2231 Dewan Keamanan PBB.

Sanksi anti Iran

Sementara itu, pemerintah Trump juga menargetkan sanksi pada program nuklir damai Iran begitu juga pada kegiatan nuklir Iran yang diperbolehkan dalam JCPOA. Dalam langkah terbaru, Kementerian Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap sejumlah individu dan perusahaan baru karena punya hubungan dengan program nuklir Iran. Pada hari Kamis 18 Juli, Kementerian Keuangan AS mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa nama lima individu dan tujuh perusahaan telah ditambahkan ke dalam daftar sanksi terhadap Iran karena apa yang disebut ada hubungan dengan program nuklir Iran.

Kementerian Keuangan AS dalam pernyataannya telah mengklaim bahwa individu dan perusahaan ini telah terlibat dalam menyediakan komponen sensitif untuk program nuklir Iran. Menurut pernyataan itu, kelima individu yang ditambahkan ke daftar sanksi memiliki kewarganegaraan Iran. Sementara di antara perusahaan yang dikenai sanksi ada nama dua perusahaan Iran, empat perusahaan Cina dan perusahaan Belgia.

Sejak penarikan diri dari JCPOA pada Mei 2018 hingga sekarang, pemerintah Trump telah memberlakukan berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran untuk memaksa Tehran kembali terlibat dalam perjanjian baru yang, di samping masalah nuklir, dibicarakan sejumlah agenda lain yang diinginkan Washington, seperti rencana program rudal dan kebijakan regional Iran.

Terlepas dari sanksi sangat luas dan belum pernah terjadi sebelumnya yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, Tehran bersikeras bahwa mereka tidak akan pernah sudi untuk bernegosiasi dengan negara yang melanggar perjanjian internasional. Saluran berita Bloomberg, menunjukkan bahwa embargo AS terhadap Iran telah mencapai akhir garis seraya menulis, tidak banyak yang tersisa lagi untuk dijadikan terget Amerika Serikat karena sebagian besar ekonomi Iran berada di bawah sanksi keuangan.

Pemerintah AS pada hari Jumat (10/1/2020) kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran meskipun sanksi-sanksi itu terbukti tidak efektif. Trump mengumumkan sanksi baru terhadap Iran sebagai reaksi atas serangan rudal pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Departemen Keuangan AS dalam sebuah statemen pada Jumat kemarin, mengumumkan sanksi terhadap delapan pejabat tinggi Iran termasuk Sekjen Dewan Kebijaksanaan Negara Mohsen Rezaei, Sekjen Dewan Tinggi Keamanan Nasional Ali Shamkhani, dan Wakil Koordinator IRGC Mohammad Reza Naqdi.

Departemen Keuangan AS menambahkan bahwa 17 produsen utama logam dan perusahaan-perusahaan pertambangan di Iran – termasuk jaringan tiga entitas perusahaan yang bermarkas di Cina dan sebuah kapal yang terlibat pengiriman produk logam Iran – berada di bawah sanksi baru Washington.

Teror AS terhadap Letjen Soleimani

Amerika Serikat dalam sebuah tindakan keji dan ilegal, meneror Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, dalam serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020.

Serangan teror itu dilakukan dengan klaim bahwa Letjen Soleimani sedang menyusun sebuah rencana serangan ke Kedutaan AS di Irak.

Syahid Letjen Qasem Soleimani

Namun, fakta-fakta baru menunjukkan bahwa AS telah menyetujui pembunuhan Letjen Soleimani sejak tujuh bulan lalu dan menunggu momen yang tepat untuk menjalankan rencana keji ini.

Televisi NBC AS pada hari Senin (13/1/2020) melaporkan bahwa Presiden Donald Trump pada Juni 2019 telah mengeluarkan perintah bersyarat untuk meneror Letjen Soleimani.

Setelah drone Global Hawk AS ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, Trump memberikan perintah bahwa jika serangan pasukan Iran atau kelompok afiliasinya menyebabkan tentara atau warga Amerika tewas, maka Letjen Soleimani akan menjadi target tentara AS.

Pasca kejadian itu, Trump – tanpa memberikan bukti apapun – mengklaim bahwa Letjen Soleimani dibunuh karena menjadi ancaman segera bagi pasukan AS dan merencanakan serangan terhadap empat kedutaan AS.

Teror terhadap Soleimani kembali menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara pemerintah Amerika dan kelompok-kelompok teroris di kawasan. Sebab, pejabat senior militer Iran ini memiliki peran besar dan catatan cemerlang dalam menumpas kelompok-kelompok teroris terutama teroris takfiri Daesh (ISIS).

Soleimani tidak hanya memiliki peran besar dalam menumpas kelompok-kelompok teroris di Irak, namun juga di Suriah, di mana surat kabar The Guardian beberapa hari lalu menyebutkan bahwa  Soleimani masuk ke dalam daftar 10 tokoh di balik layar yang paling berpengaruh di dunia. Surat kabar itu menulis, Amerika dan Israel telah berulang kali berusaha untuk membunuhnya.

Majalah Amerika Foreign Policy tahun lalu juga memasukkan Soleimani dalam daftar 10 pemikir terbaik di bidang pertahanan dan keamanan. Tak diragukan lagi bahwa hal itu dikarenakan peran khusus Komandan Pasukan al-Quds IRGC (Pasdaran) dalam menumpas terorisme, terutama di Irak dan Suriah.

Pemilu Parlemen ke-11 di Iran

Jutaan warga Republik Islam Iran yang memiliki hak untuk memilih berbondong-bondong datang ke Tempat-tempat Pemungutan Suara (TPS) di berbagai lokasi untuk memberikan suara mereka dalam pemilu parlemen ke-11 dan pemilu Dewan Ahli Kepemimpinan yang berlangsung pada hari Jumat, 21 Februari 2020.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memberikan suaranya dalam kotak suara nomor 110 pada jam-jam awal pemungutan suara di TPS di Huseiniyah Imam Khomeini ra di Tehran.

Pemilu di Iran

Ketua Parlemen Republik Islam Iran Ali Larijani juga telah memberikan suaranya dalam pemilu parlemen yang dimulai pukul 08.00 waktu setempat itu.

Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani memberikan suaranya dalam pemilu parlemen ke-11 ini di TPS yang berada di Kementerian Dalam Negeri.

TPS di 207 daerah pemilu di Iran telah dibuka pada pukul 08.00 waktu setempat. Setelah pemungutan suara selesai, penghitungan suara segera dimulai.

Sekitar 58 juta orang memenuhi syarat untuk memilih, di mana tiga juta di antaranya menjadi pemilih pertama kali. Dari mereka yang memenuhi syarat untuk memberikan suara dalam pemilu ini, 50,13% adalah pria dan 49,87% adalah wanita.

Sebanyak 7.148 kandidat, termasuk puluhan warga Iran dari agama minoritas, mencalonkan diri dalam pemilu parlemen untuk memperebutkan 290 kursi.

Wabah Corona di Iran

Di tengah penyelenggaraan pemilu parlemen ke-11, Iran mendapat musibah dengan ditemukannya kasus kematian akibat wabah Corona.

Ketua bidang Humas dan Penerangan Depkes Iran mengkonfirmasi meninggalnya dua warga negara ini akibat virus Corona di kota Qom.

Seperti dilaporkan IRNA, Kianoush Jahanpour Rabu (18/02) menyatakan,"Menyusul meningkatnya penyakit pernafasan akut selama beberapa hari terakhir di kota Qom, dilaporkan dua kasus penderita virus Corona di tes awal laboratorium."

"Sangat disesalkan bahwa kedua pasien mengingat usia lanjut dan menurunnya imun badan akhirnya meninggal dunia selama perawatan di rumah sakit," paparnya.

Perawatan Pasien Corona di Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Mousavi mengatakan Kemenlu telah mengambil langkah-langkah untuk membantu Kementerian Kesehatan meminimalkan dampak negatif dari wabah virus corona.

Mousavi dalam konferensi pers di Tehran, Selasa (3/3/2020) menuturkan bahwa setelah kasus corona terkonfirmasi di Iran, Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif langsung menyusun kerangka kerja yang bertujuan meminimalkan dampak ekonomi, sosial dan politik dari wabah ini.

"Kemenlu Iran telah mengadakan rapat pengarahan dengan semua duta besar asing di Tehran dan juga organisasi-organisasi internasional seperti Badan Kesehatan Dunia (WHO)," tambahnya.

Mousavi menjelaskan bahwa Kemenlu dalam memenuhi kebutuhan Kementerian Kesehatan Iran, telah menyerahkan daftar barang yang diperlukan untuk pencegahan wabah corona kepada WHO, badan-badan internasional, para dubes asing, dan misi diplomatik Iran di luar negeri.

Iran saat ini tengah giat memberantas penyebaran virus Corona di wilayahnya. Berbagai lembaga telah turun tangan untuk terlibat dalam perjuangan ini mulai dari staf medis hingga angkatan bersenjata mulai dari militer hingga Sepah Pasdaran dan Basij.

Iran benar-benar harus berjuang melawan virus ini di tengah sanksi keras Amerika yang katanya hanya menyasar sektor minyak tapi pada kenyataannya juga menarget sektor pangan dan obat-obatan.

Meski mendapat tekanan ekonomi dan banyak pembatasan di sektor perdagangan serta impor barang akibat sanksi keras dan ilegal pemerintah Amerika, namun Iran dengan tekad nasional bangkit melawan virus Corona. Amerika melalui sanksi zalimnya terhadap Iran yang merupakan bukti dari terorisme ekonomi dan kesehatan, telah mensabotase pengiriman peralatan medis dan kesehatan serta obat-obatan ke Iran.

Republik Islam Iran di kondisi sulit ini mengerahkan segenap upayanya untuk menjamin kebutuhan hidup dan memberi pelayanan kesehatan serta dukungan terhadap lapangan kerja yang terdampak wabah ini. Sementara di berbagai negara Eropa serta Amerika, tampak kelemahan dalam menangani krisis Corona baik dari sisi suplai kebutuhan medis hingga kebutuhan darurat warga.

Di tengah kondisi sulit akibat sanksi ilegal AS, ternyata masih ada negara yang bersedia memberi bantuan kepada Iran untuk melawan virus Corona. Cina, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Turki, Jerman, Prancis, Inggris, Jepang, Qatar, Azerbaijan dan Rusia, serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan bantuan kemanusiaan ke Iran untuk melawan penyebaran corona. Sementara itu, UNICEF juga dilaporkan telah mengirim bantuan kepada Iran untuk melawan Corona.

 

 

Tags

Komentar