Apr 02, 2020 16:30 Asia/Jakarta
  • Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran
    Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran

"Bermain kata-kata, menyalahkan dan menuding pihak lain tidak akan menutupi kekalahan politik dan militer para agresor Yaman."

Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada hari Rabu (01/04/2020) menanggapi tuduhan yang tidak berdasar oleh juru bicara koalisi agresor Yaman bahwa para ahli Iran hadir di Yaman dan tuduhan salahnya terhadap Tehran. Menurutnya, "Kami merekomendasikan kepada koalisi agresor Yaman, daripada menjadikan ilusi dan fantasi lebih baik memperhatikan realitas yang ada, termasuk perlawanan rakyat Yaman menghadapi agresi ini dan kebencian komunitas internasional terhadap Arab Saudi."

Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran

Mousavi dengan memperhatikan usulan Sekjen PBB soal gencatan senjata untuk menghadapi penyakit Corona di Yaman dan diterimanya gencatan senjata ini oleh Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman, meminta para agresor terhadap negara ini untuk selain komitmen dengan kesepakatan Stockholm, juga segera menghentikan kejahatannya dan perang yang menghancurkan ini.

Tuduhan tidak berdasar juru bicara koalisi agresor militer terhadap Yaman atas Iran disampaikan ketika sebelumnya sejumlah tuduhan seperti ini juga terbukti tidak berdasar atas Iran. Tanggal 14 September 1999 ketika unit drone Militer dan Komite Rakyat Yaman menyerang dua kilang minyak Abqaiq dan Khurais yang terletak di bagian timur Arab Saudi, Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS mengklaim bahwa serangan itu dilakukan oleh Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menulis dalam pesan Twitter menanggapi klaim ini, "Amerika dan para pelanggannya terjebak di Yaman karena ilusi bahwa superioritas militer akan mengarah pada kemenangan militer. Menyalahkan Iran tidak akan mengakhiri bencana."

Arab Saudi melakukan kesalahan besar lima tahun yang lalu dan terjebak di Yaman dengan kesalahan perhitungan yang dilakukannya. Ini sejalan dengan kebijakan regional Trump yang menggunakan peran Arab Saudi dalam mengobarkan perang proksi dan menjual miliaran dolar senjata ke negara-negara yang sejalan dengan Arab Saudi. Faktanya, Arab Saudi dan sekutunya membuka jalan bagi perang yang menghancurkan di kawasan tanpa manfaat nyata yang dapat diraihnya dari krisis yang diciptakannya di kawasan itu. Sejauh ini, lebih dari 100.000 orang telah terbunuh dalam perang ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Mereka memulai perang dan mereka berpikir masalah ini akan berakhir dalam satu atau dua bulan, dan bangsa Yaman akan bertekuk lutut, tetapi sekarang sudah lebih dari lima tahun dan rakyat Yaman masih terus melawan. Selama masa ini, rakyat Yaman telah berhasil melengkapi dirinya dengan rudal dan drone," kata Mohammed Ali Mohtadi, seorang analis hubungan internasional terkait tuduhan Saudi dan para pejabat AS terhadap Iran atas apa yang terjadi di Yaman.

Hari Minggu lalu, unit rudal dan drone Yaman meluncurkan serangan rudal dan drone terbesar pada posisi pemerintah Arab Saudi sejak dimulainya perang Yaman. Sejumlah rudal dan drone berhasil menargetkan sejumlah tujuan sensitif di Riyadh, ibukota Arab Saudi dan begitu juga target ekonomi dan militer di daerah Jizan, Najran dan 'Asir.

Koalisi yang telah memicu perang terhadap Yaman kini telah menyadari bahwa semakin lama perang berlanjut, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan terhadap mereka sendiri.

The Hill

"Arab Saudi terhenti di Yaman dan kisah nyata Yaman adalah bahwa Arab Saudi mendapat masalah militer di negara ini," tulis The Hill dalam sebuah laporan tentang perkembangan Yaman.

Kelanjutan dari serangan agresif terhadap Yaman pasti tidak akan memiliki konsekuensi bagi perancang dan pelakunya setelah ini, dan Riyadh tidak akan mencapai salah satu dari tujuannya. Klaim-klaim yang disampaikan oleh koalisi agresor Saudi di Yaman terhadap Iran juga tidak akan pernah mengubah nasib perang ini.

Tags

Komentar