Apr 06, 2020 16:11 Asia/Jakarta

Setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran pada 1979, Imam Khomeini ra mengusulkan pelaksanaan referendum untuk menentukan sistem negara dan pemilihan ini diselenggarakan di seluruh penjuru Iran pada tanggal 10-11 Farvardin 1358 Hijriyah Syamsiah (30-31 Maret 1979). Sebanyak 98,2 persen rakyat Iran menyetujui Republik Islam sebagai sistem pemerintahan mereka.

Hasil referendum itu diumumkan pada 12 Farvardin dan momen bersejarah tersebut dikenang setiap tahun sebagai Hari Republik Islam. Pelaksanaan referendum ini merupakan salah satu manifestasi demokrasi, yang terjadi hanya beberapa bulan pasca kemenangan Revolusi Islam Iran.

Keistimewaan sistem Republik Islam adalah memberikan perhatian serius dan menghormati suara dan kehendak rakyat sejak hari pertama berdiri. Di Republik Islam, suara rakyat memiliki tempat khusus dan sistem politik bergerak menuju pemenuhan kehendak rakyat. Sejak awal kemenangan revolusi, faktor yang telah mendekatkan republikanisme dan Islamisme adalah pemilu yang bebas dan hak untuk memilih.

Sebelum referendum, Bapak Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini dalam sebuah pesan menekankan pentingnya partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam pemilihan dan kebebasan mereka dalam memilih sistem politik negara.

"Referendum ini akan menentukan nasib bangsa kita. Referendum ini akan membawa kalian ke arah kebebasan dan independensi atau seperti masa silam, pengekangan dan ketergantungan pada asing. Ini adalah sebuah referendum yang harus diikuti oleh semua… kalian bebas menjatuhkan pilihan. Kalian berhak dan bebas menulis di surat suara, menulis republik demokratik, rezim monarki atau menulis apapun yang kalian inginkan. Kalian bebas dalam hal ini," ujar Imam.

Mengenai 12 Farvardin dan Hari Republik Islam, Direktur Kajian Sejarah Revolusi Islam di Tehran, Ali Kurdi menuturkan, "Imam Khomeini dalam penunjukan Perdana Menteri sementara, Mehdi Bazargan, telah menetapkan empat tugas penting bagi pemerintahan transisi dan salah satunya meminta pandangan rakyat dalam mengubah sistem politik negara. Meski rakyat Iran menyerukan pembentukan Republik Islam dalam puluhan demonstrasi yang berlangsung selama revolusi, namun Imam – demi menghapus segala keraguan – tetap memerintahkan pelaksanaan referendum untuk menentukan sistem politik mendatang."

Keputusan Imam Khomeini ini telah memberikan kedudukan dan kredibilitas yang tak tergoyahkan bagi Republik Islam. Lewat gerakan historis ini, beliau telah menghadiahkan kemuliaan, wibawa, dan independensi bagi bangsa Iran.

Referendum 12 Farvardin menjadi sejarah baru bagi Iran yang menegaskan prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat.

Seorang analis Arab, Nasser Kandil mengatakan, "Dalam setiap pemilihan, Iran dengan tenang dan hati-hati mengirimkan pelajaran dan pesannya. Republik Islam di Iran adalah contoh unik dari sebuah sistem yang mampu menjaga stabilitas, nilai-nilai, dan sumber kekuatannya, tetapi pada saat yang sama dapat menghasilkan formula yang fleksibel untuk peralihan kekuasaan di mana opini publik berperan dan prioritas mereka adalah mendistribusi kekuasaan di antara komunitas yang berbeda."

Referendum pembentukan Republik Islam menunjukkan bahwa Revolusi Islam dibangun dengan menghormati hak kedaulatan rakyat dalam menentukan nasibnya. Ini merupakan sebuah titik balik dalam sejarah politik Revolusi Islam Iran, yang telah mendorong semangat keterlibatan rakyat dalam mengelola negara. Pemilu dan partisipasi rakyat terus diperluas di tahun-tahun pasca kemenangan Revolusi Islam.

Sistem demokrasi religius di Iran telah memberikan sebuah model yang tidak pernah bertentangan dengan agama, nilai-nilai, dan prinsip-prinsipnya selama 40 tahun terakhir. Prinsip demokrasi religius tetap ditegakkan bahkan pada saat munculnya gangguan dari luar dan masalah dari dalam.

Di Iran, masyarakat secara bebas dan adil dapat berpartisipasi dalam pemilu. Terlepas dari propaganda asing yang menuding Iran merampas kebebasan, tetapi fakta mencatat bahwa rakyat Iran selalu bebas menentukan pilihan di setiap pemilu dan antusias mendatangi kotak suara bahkan di tengah krisis politik dan ekonomi.

Tudingan itu dilakukan ketika di negara-negara lain seperti, Belgia, Australia, dan Austria terdapat pemaksaan dalam pemilu. Masyarakat tidak punya pilihan dan mereka harus ikut dalam pemilu. Di negara-negara tersebut, jika warga tidak mengikuti pemilu, mereka tidak bisa menikmati hak-haknya sebagai warga negara dan harus menanggung biaya politik dan ekonomi yang berat.

Pemilihan presiden, parlemen, Dewan Ahli Kepemimpinan, dan pemilu-pemilu lain merupakan manifestasi dari suara dan kehendak rakyat. Partisipasi ini merupakan hak rakyat sekaligus kewajiban mereka.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Sistem merakyat yaitu memberikan peran kepada rakyat di pemerintah. Rakyat berperan dalam mengelola negara, membentuk pemerintah, memilih pemimpin, serta dalam menentukan sistem pemerintahan dan politik. Makna lain dari sistem merakyat adalah pemerintahan Islam hadir untuk mengabdi kepada masyarakat. Pemimpin harus memperhatikan kepentingan masyarakat umum, bukan segelintir orang atau kelompok tertentu."

Seorang pengamat politik dari Iran, Abbas Nikooye menuturkan, referendum 12 Farvardin adalah pemilu pertama pasca Revolusi Islam Iran. Menurutnya, tingginya partisipasi rakyat dalam referendum membuktikan antusias mereka dalam mengikuti pesta demokrasi dan hal ini telah membuat kubu anti-revolusi tidak bisa menciptakan keraguan sekecil apapun.

Jelas bahwa sejak awal kemenangan Revolusi Islam, Iran sangat menghargai suara rakyat, dan Undang-Undang Dasar juga mengakui rakyat sebagai pemilik asli kekuasaan dan menegaskan bahwa siapa pun tidak berhak mencabut kekuasaan dari rakyat.

Singkatnya, sistem Republik Islam Iran sejak kemunculannya telah dibangun dengan menghormati parameter sistem demokrasi, mulai dari menggelar referendum dan kemudian diikuti dengan berbagai pemilu selama 40 tahun terakhir. Ini semua membuktikan bahwa parameter dalam menjalankan kekuasaan di Republik Islam adalah suara rakyat. (RA)

Tags

Komentar