May 19, 2020 15:39 Asia/Jakarta

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai isu Palestina sebagai masalah utama dunia Islam. Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan peserta Konferensi Uni Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam ke-13 (PUIC) di Tehran, ibukota Republik Islam Iran, Selasa, 16 Januari 2018.

Ayatullah Khamenei menuturkan, keputusan Amerika Serikat untuk memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds (Jerusalem) adalah sebuah kesalahan besar dan mereka tidak akan mampu untuk merealisasikannya serta upaya mereka itu tidak akan membuahkan hasil.

Rahbar menilai pembelaan terhadap Palestina sebagai tugas semua dan tidak boleh berpikir bahwa melawan rezim Zionis adalah pekerjaan sia-sia, namun dengan izin dan pertolongan Allah Swt, perjuangan melawan rezim Zionis akan membuahkan hasil seperti halnya gerakan Muqawama (perlawanan) yang telah lebih maju dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam pidatonya, Ayatullah Khamenei juga menyinggung adanya perencanaan masalah Myanmar dan Kashmir dalam Konferensi PUIC, namun pada saat yang sama mengabaikan isu-isu penting di Yaman dan Bahrain.

Rahbar menuturkan, kita tidak boleh membiarkan imperium propaganda Barat yang berbahaya –dimana pada umumnya dikelola oleh Zionis– membuat isu-isu penting Dunia Islam menjadi terabaikan, dan dengan konspirasi yang senyap, mereka menghapus persoalan-persoalan utama umat Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga menyinggung tiga peristiwa bersejarah tentang Palestina, yaitu "pendudukan bumi Palestina," "pengusiran massal jutaan warga Palestina" dan "pembantaian massal dan kejahatan besar kemanusiaan" terhadap mereka, dimana kejahatan dan penindasan ini tidak ada padanannya dalam sejarah.

Ayatullah Khamenei  dalam pertemuan dengan ratusan dosen, anggota delegasi ilmiah dan peneliti dari berbagai universitas dan pusat-pusat  ilmiah di Iran pada Minggu sore, 10 Juni 2018 mengatakan, untuk menentukan jenis pemerintahan di negara bersejarah Palestina harus merujuk opini publik berdasarkan cara yang diterima oleh semua dunia, dan harus diselenggarakan referendum dan diambil pemungutan suara dari semua penduduk asli Palestina yang meliputi Muslim, Yahudi dan Kristen, di mana mereka telah tinggal di tanah ini paling tidak selama 80 tahun, baik itu mereka di dalam maupun di luar Palestina.

Dalam sebuah pidato lain di hadapan para pejabat pemerintah Iran, para tamu peserta Konferensi Persatuan Islam, duta besar negara Muslim dan berbagai lapisan masyarakat pada Jumat 15 November 2019, Rahbar mengatakan, terhapusnya Israel berarti terhapusnya rezim buatan Zionis, dan berkuasanya pemerintahan terpilih para pemilik asli Palestina baik dari Islam, Kristen maupun Yahudi.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei menuturkan, musuh Islam, yang dipimpin Amerika Serikat menentang prinsip agama Islam dan semua negara Muslim.

Rahbar menambahkan, senjata utama mereka di kawasan adalah infiltrasi di pusat-pusat sensitif dan pusat pengambilan keputusan, menciptakan perpecahan di antara bangsa-bangsa, dan mengajukan opsi menyerah di hadapan Amerika sebagai solusi masalah. Jalan keluar untuk menghadapi konspirasi ini adalah penyadaran dan perlawanan di jalan kebenaran.

Ayatullah Khamenei menjelaskan tahapan-tahapan persatuan, tahap paling rendah dan paling awal dalam menyatukan Dunia Islam adalah menghindari saling serang dan saling pukul di antara masyarakat, pemerintah, kaum dan mazhab Islam, dan bersatu melawan musuh bersama.

Dia menerangkan, pada tahap yang lebih tinggi, negara-negara Muslim harus bersinergi di bidang ilmu pengetahuan, kekayaan, keamanan dan kekuatan politik demi mencapai peradaban baru Islam, dan tujuan Iran juga sama yaitu mencapai peradaban baru Islam.

Menurut Rahbar, musibah-musibah yang menimpa Dunia Islam termasuk pendudukan Palestina dan perang berdarah di Yaman, Asia Barat dan Afrika Utara diakibatkan oleh tidak adanya komitmen atas prinsip menghindari konflik, dan tidak adanya persatuan melawan musuh bersama.

"Hari ini musibah terbesar Dunia Islam adalah pendudukan Palestina, sebuah bangsa yang terasing dari rumah dan tanah airnya sendiri," imbuhnya.

Terkait upaya musuh menyimpangkan makna penegasan Imam Khomeini ra dan pejabat pemerintah Islam tentang penghapusan Israel, Rahbar mengatakan, kami adalah pendukung Palestina, kemerdekaan dan keselamatannya, penghapusan Israel bukan berarti penghapusan rakyat Yahudi, karena kami tidak mempermasalahkan mereka, di negara kamipun tinggal sekelompok warga Yahudi dalam keamanan penuh.

Ayatullah Khamenei menegaskan, rakyat Palestina baik Muslim, Kristen maupun Yahudi yang merupakan pemilik asli tanah air mereka, harus bisa memilih pemerintahannya sendiri, dan pihak asing, perusuh serta pengacau seperti Benjamin Netanyahu harus diusir, sehingga bangsa Palestina bisa mengelola negaranya sendiri, dan ini akan segera terwujud.

Rahbar menilai tanggung jawab para intelektual dan ulama Dunia Islam sangat penting dan mengatakan, kalian harus membela kebenaran dengan segenap kekuatan, jangan takut musuh, ketahuilah Dunia Islam dengan bantuan Ilahi tidak lama lagi akan menyaksikan cita-citanya terwujud.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan masyarakat Iran dari berbagai lapisan pada Rabu pagi, 5 Februari 2020, menyinggung peluncuran proyek "Kesepakatan Abad" oleh para pencuri dan penindas dari Amerika.

Rahbar menuturkan, Amerika menghibur hati sendiri dengan menyematkan nama besar, berharap proyeknya atas rakyat Palestina, berhasil padahal langkah mereka ini bodoh dan keji, dan sejak awal merugikan mereka sendiri.

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa proyek prakarsa Amerika Serikat, "Kesepakatan Abad" akan mati sebelum matinya Donald Trump. Menurutnya, jalan untuk menghadapi proyek ini adalah perlawanan, dan jihad penuh keberanian rakyat serta kelompok Palestina, juga dukungan Dunia Islam.

Rahbar menganggap Kesepakatan Abad sebagai bukti nyata kelicikan Amerika, dan Amerika melakukan transaksi dengan rezim Zionis Israel terkait sesuatu yang bukan milik mereka.

Ayatullah Khamenei menambahkan, sambutan dan tepukan tangan sejumlah pemimpin pengkhianat Arab yang tidak punya nilai dan kehormatan di mata rakyatnya sendiri, tidak penting, dan bertolak belakang dengan kebijakan permanen mesin imperialisme yaitu melupakan masalah Palestina, langkah mereka justru menghidupkan masalah Palestina, dan di seluruh dunia nama dan ketertindasan Palestina, serta organsasi-organisasi Palestina, dibicarakan semua orang.

Menurut Rahbar, upaya kubu imperialis untuk memajukan proyek Kesepakatan Abad bertumpu pada senjata dan uang. Ia menegaskan, kami yakin kelompok-kelompok bersenjata Palestina akan melawan, dan perjuangan akan berlanjut, dan Republik Islam Iran menyadari kewajibannya di hadapan kelompok-kelompok Palestina, maka dari itu segala bentuk dukungan sesuai batas kemampuan, adalah tuntutan pemerintahan Islam dan rakyat Iran.

Ayatullah Khamenei menilai solusi asli masalah Palestina adalah solusi mendasar yang diumumkan, dan terdokumentasi oleh Iran di organisasi-organisasi dunia yaitu referendum warga asli Palestina.

"Satu-satunya solusi perdamaian dan penyelesaian masalah Palestina adalah referendum rakyat Palestina asli apapun agamanya, Islam, Kristen atau Yahudi, sehingga dengan suara mereka terbentuk sebuah pemerintahan yang diinginkan di atas tanah Palestina, dan mereka memutuskan sendiri tentang Palestina dan orang-orang semacam Netanyahu dan yang lainnya," tegas Rahbar.

Rahbar menegaskan, Insyaallah tujuan ini akan terlaksana, dan Anda para pemuda zaman ini akan menyaksikan, atas bantuan Ilahi, kalian akan menunaikan shalat di Baitul Maqdis.

Masalah Palestina adalah sebuah proyek langkah demi langkah yang dimulai sejak penandatanganan Perjanjian Kompromi Camp David dan proses kompromi antara Mesir dan rezim Zionis Israel. Proyek tersebut berlanjut dalam Konferensi Oslo di Norwegia oleh gerakan kompromi sejumlah pendukung gerakan ini di Palestina.

Selama bertahun-tahun, AS dan rezim Zionis berusaha agar isu Palestina terlupakan dan mereka menyibukkan negara-negara Muslim dengan persoalan internal dan konflik di antara negara-negara ini. Washington dan Tel Aviv juga terus berupaya untuk melemahkan gerakan Muqawama (perlawanan).

Intifada rakyat Palestina telah melunturkan petisi rencana kompromi yang dimulai tahun 1978 di Camp David. Berlanjutnya perlawanan telah menjaga isu Palestina tetap menjadi masalah pertama dan utama bagi Dunia Islam dan tidak membiarkan cita-cita rakyat Palestina terpinggirkan oleh rencana kompromi dengan Israel.

Seperti yang telah dijelaskan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bahwa suatu ketika, rezim Zionis meneriakkan slogan "dari Sungai Nil sampai Eufrat (Furat)", namun hari ini mereka terpaksa membangun tembok di sekelilingnya untuk melindungi diri di wilayah yang mereka duduki. Tak diragukan lagi, Palestina adalah serangkaian sejarah "dari laut hingga sungai" dan al-Quds adalah ibu kotanya serta mereka mustahil untuk memutarbalikkan fakta tersebut. (RA)

Tags

Komentar