May 25, 2020 15:48 Asia/Jakarta
  • Bendera nasional Iran (kiri) dan bendera nasional Venezuela.
    Bendera nasional Iran (kiri) dan bendera nasional Venezuela.

Pemerintah AS di bawah pimpinan Donald Trump, mengadopsi kebijakan tekanan maksimum terhadap Venezuela dan penerapan sanksi besar-besaran dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro di Karakas.

Di pihak lain, sekutu-sekutu Venezuela termasuk Iran memilih membantu Karakas dan melawan kebijakan arogan Washington.

Iran mengirimkan lima kapal tanker berisi bensin ke Venezuela dan langkah ini ternyata memicu kemarahan pemerintahan Trump. AS mengerahkan beberapa kapal perangnya untuk menggertak Iran dan menghalangi pengiriman bahan bakar ke Venezuela.

Namun, tanker-tanker Iran dengan tenang melakukan pelayaran dan salah satu dari mereka telah memasuki perairan Venezuela dengan disambut oleh angkatan bersenjata negara itu. Kasus ini memperlihatkan kegagalan kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Iran dan Venezuela.

Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada di akun Twitternya menulis, "Sampainya bensin Iran ke tangan rakyat Venezuela merupakan sebuah titik balik dalam perang untuk kedaulatan, independensi, dan perdamaian. Trump dan antek-anteknya merencanakan serangan militer terhadap tanker-tanker ini di tengah pandemi Corona. Tetapi para penasihatnya menyarankan langkah lain."

Menurut laporan media-media Venezuela, kapal tanker Iran, Fortune telah memasuki perairan Venezuela dengan dikawal oleh angkatan bersenjata negara itu.

Kedutaan Besar Iran di Karakas dalam sebuah tweet menulis, "Hari ini ikatan persahabatan dan persaudaraan antara Iran dan Venezuela lebih kuat dan lebih dalam dari sebelumnya, tanker pertama telah tiba. Terimakasih atas pengawalan angkatan bersenjata, hidup untuk persahabatan Iran dan Venezuela."

Presiden Donald Trump.

Padahal, Washington sebelum ini mengancam akan mencegah pengiriman bahan bakar dari Iran untuk Venezuela. Media-media Barat menyatakan lima tanker Iran kemungkinan akan dihentikan agar tidak mencapai wilayah Venezuela.

Namun, Tehran bereaksi keras dan memperingatkan Washington mengenai tindakan balasan jika mereka mengambil aksi militer terhadap kapal tanker Iran. Ancaman ini cukup efektif untuk membuat Trump mundur.

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap kapal tankernya akan disikapi dengan tegas. Presiden Hassan Rouhani dalam pembicaraan telepon dengan Emir Qatar, mengatakan jika tanker Iran diganggu oleh pasukan AS di Laut Karibia, mereka pasti akan berada dalam masalah.

Pengiriman tanker bensin ke Venezuela mengindikasikan solidaritas kedua negara dan merupakan simbol dari kekompakan Tehran-Karakas dalam melawan ancaman dan konspirasi Washington.

Di sini jelas bahwa kebijakan destruktif Amerika terhadap Iran dan Venezuela telah gagal dan membuktikan kemandulan ancaman Trump terhadap kedua negara yang menentang hegemoni Amerika ini.

Fakta ini ternyata mengundang keprihatinan serius dari para politisi garis keras AS. Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton mengatakan langkah Iran berbahaya bagi AS dan kita harus mendukung Juan Guaido untuk melawan pengaruh Iran.

Meski demikian, Republik Islam Iran tetap melanjutkan perluasan hubungan dengan sekutunya termasuk Venezuela dan tidak mempedulikan bualan para pejabat AS. (RM)

Tags

Komentar