May 30, 2020 16:58 Asia/Jakarta
  • Pesan Rahbar
    Pesan Rahbar

Dinamika Iran selama beberapa hari terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai pesan Rahbar untuk parlemen baru Iran.

Isu lainnya tentang AS kembali memasukkan dua nama ilmuan nuklir Iran dalam daftar sanksi.

Pesan Rahbar untuk Parlemen Baru Iran

Parlemen Iran periode ke-11 secara resmi memulai kegiatannya sejak Rabu, 27 Mei 2020 yang ditandai dengan pembacaan pesan dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran

Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan, ekonomi dan budaya merupakan prioritas utama negara, dan beliau mengajurkan agar para wakil rakyat memprioritaskan masalah-masalah seperti kehidupan lapisan masyarakat yang lemah, reformasi komponen asli ekonomi seperti lapangan kerja, produksi dan inflasi, juga nilai ketakwaan dan keadilan dalam menjalankan tanggung jawab pengawasan, sikap revolusioner dalam peristiwa-peristiwa penting, dan interaksi bersahabat dengan lembaga eksekutif dan yudikatif.

Menurut Rahbar, istilah Imam Khomeini bahwa parlemen ada di atas semua urusan merupakan konsep paling komprehensif bagi kedudukan dan tanggung jawab parlemen.

Ia menambahkan, jika kita menganggap undang-undang adalah jalan negara menuju puncak dan tujuan yang telah ditetapkan konstitusi, maka parlemen yang berkomitmen pada jalur ini, merupakan hal yang urgen.

Dalam situasi saat ini, mempertimbangkan perlunya menggunakan kemampuan internal untuk mengatasi kondisi ini dan memperhatikan mata pencaharian dan ekonomi serta menciptakan harapan dan memperkuat solidaritas adalah salah satu prioritas terpenting dari parlemen ke-11.

Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran, mengatakan bahwa pembukaan sesi ke-11 Majelis Permusyawaratan Islam adalah dasar untuk kerja sama antara pemerintah dan parlemen dalam kerangka UUD. Rouhani mengatakan, "Parlemen adalah simbol demokrasi yang paling penting di dunia, dan Majelis Syura Islami Iran juga merupakan simbol demokrasi Islam dan demokrasi agama."

Parlemen Kesebelas kini telah memulai tanggung jawabnya, dan anggota terpilih dari Dewan Kesebelas diharapkan untuk mengambil tanggung jawab serius ini dengan keyakinan dan upaya yang berlipat ganda.

"Mohammad Bagher Ghalibaf", yang kini telah terpilih sebagai Ketua Majelis Kesebelas melalui pemungutan suara yang menentukan dari perwakilan rakyat yang terpilih, memiliki pengalaman berharga dalam bidang administrasi dan manajemen.

AS Memasukkan Dua Nama Ilmuan Nuklir Iran Dalam Daftar Sanksi

Amerika Serikat pekan lalu dalam kelanjutan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran memasukkan dua nama ilmuan nuklir Iran dalam daftar sanksi.

Badan Energi Atom Iran (AEOI) mereaksi langkah pemerintah ini dengan mengeluarkan pernyataan, "Keputusan Gedung Putih untuk memasukkan dua ilmuwan nuklir dalam daftar sanksi baru Washington adalah bukti permusuhan berkelanjutan pemerintah terhadap mereka yang berusaha keras untuk meninggikan Iran Islami."

Badan Energi Atom Iran (AEOI)

Bangsa Iran selalu mengambil tindakan seperti itu sebagai peluang dan tidak membiarkan gangguan terhadap tekad nasional untuk memajukan kemajuan dalam sains dan teknologi.

Melakukan tindakan seperti itu, yang bertentangan dengan prinsip dan standar hukum internasional dengan bangsa Iran, memperkuat moral para aktivis dan peneliti Iran dan melemahkan posisi dan martabat musuh-musuh Iran di panggung dunia.

Behrouz Kamalvandi, Juru Bicara Organisasi Energi Atom Iran mengatakan, pembatalan pengecualian nuklir adalah upaya putus asa Amerika Serikat untuk mengalihkan opini publik dan dunia dari kekalahan beruntun terhadap Iran.

Kamalvandi mencatat bahwa pencabutan pengecualian untuk kerja sama nuklir, menurut JCPOA, tidak berpengaruh pada proses kerja Iran, seraya mengingatkan,  "Amerika Serikat menginginkan tindakannya untuk menekan Iran, tetapi dalam praktiknya tidak ada yang terjadi."

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi di Twitter-nya pada Kamis (28/05/2020) malam dalam menanggapi klaim Hook menulis, "Iran telah mematahkan tekanan maksimum Amerika Serikat dengan resisteni maksimum, kemauan baja dan bersandar pada kemampuan domestik."

Amerika Serikat bahkan telah melakukan tindakan teroris di bidang medis untuk menekan Iran. Dalam sepucuk surat kepada Sekretaris Jenderal PBB pekan lalu, ketua Asosiasi Medis Iran menyerukan perhatian khusus untuk diberikan pada petisi online komunitas medis Iran dalam menanggapi sanksi AS yang tidak adil.

Dalam sepucuk surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Mohammad Reza Zafarghandi, Direktur Jenderal Asosiasi Medis Iran, menekankan bahwa akses ke layanan medis adalah hak mendasar untuk kesehatan. Ia menjelaskan, "Sanksi AS yang membuat akses ke obat-obatan dan peralatan medis menjadi terbatas, itu melanggar Piagam Hak Asasi Manusia dan bertentangan dengan semua prinsip moral.

Menurut juru bicara kementerian luar negeri Iran, pemerintah AS telah melanggar semua kewajiban internasionalnya selama tiga setengah tahun terakhir dan melanggar semua norma, aturan, dan hak internasional.

Menurut informasi yang tersedia, sejak 1960-an, Amerika Serikat telah mendukung setidaknya delapan kelompok teroris utama dengan catatan berat dan berdarah di Asia Barat, Eropa, dan Amerika Latin, termasuk dukungan komprehensif untuk organisasi teroris Munafikin yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan 17.000 warga dan pejabat Iran selama empat dekade terakhir.

Dalam sejarah singkatnya, Amerika Serikat telah mencatat 135 perang besar dalam sejarahnya hanya kurang dari 16 tahun sejarah perangnya selama 243 tahun; membunuh, menumpahkan darah, dan menggunakan semua senjata konvensional dan tidak konvensional. Mengingat semua fakta ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan; Amerika Serikat tidak memiliki otoritas politik, hukum, atau moral untuk menghakimi negara lain, dan lebih baik memperhatikan catatan kotor dan hitamnya.

Tags

Komentar