May 31, 2020 11:38 Asia/Jakarta

Langkah terbaru Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terkait kerja sama internasional nuklir dengan Republik Islam Iran merupakan pelanggaran nyata terhadap resolusi 2231 Dewan Keamanan dan Piagam PBB.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Sayid Abbas Mousavi Sabtu (30/05/2020) di statemennya seraya mengecam sanksi Amerika menjelaskan, langkah ini mengabaikan hak sejati Republik Islam Iran serta merusak ketertiban umum internasional.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo Kamis (28/05/2020) dini hari di akun Twitternya menulis, Amerika Serikat mencabut pengecualian sanksi yang berkaitan dengan JCPOA dan menjatuhkan saksi terhadap dua ilmuwan nuklir Iran.

Pengecualian nuklir Iran mencakup perubahan fungsional reaktor air berat Arak, konversi pusat pengayaan uranium Fordow, pertukaran bahan bakar di reaktor nuklir Bushehr serta reaktor riset Tehran.

Sejumlah sumber menyebutkan, di kondisi saat ini pencabutan pengecualian nuklir Iran tidak realistis dan jika Gedung Putih menyerah terhadap bisikan Mike Pompeo dan tidak memperpanjang pengecualian ini yang bakal berakhir awal Agustus mendatang, maka negara ini terpaksa harus menjatuhkan sanksi kepada Rusia, Cina dan Uni Eropa karena berpartisipasi di proyek yang diijinkan di bawah perjanjian nuklir (JCPOA).

Presiden AS Donald Trump seraya menekankan penerapan sanksi lebih keras terhadap Iran telah berhalusinasi bahwa dirinya mampu menyeret Iran ke meja perundingan untuk meraih kesepakatan baru.

Pencabutan pengecualian untuk kerja sama nuklir meski seperti sanksi-sanksi lainnya tidak memiliki dampak signifikan di proses aktivitas damai nuklir Iran, namun dari sudut pandang hukum internasional, ini sebuah gerakan pengabaian kredibilitas perjanjian internasional yang nantinya akan memiliki dampak buruk bagi kepentingan masyarakat internasional.

Dieter Kempf, ketua Asosiasi Federal Ekonomi Jerman saat diwawancarai kantor berita Jerman menyebut sangat mengkhawatirkan dampak dimulainya sanksi Amerika terhadap Iran. Ia mengatakan, langkah terbaru Amerika dapat disertai instabilitas, karena hubungan dan konstelasi internasional akan sangat terpengaruh oleh langkah ini.

Departemen Luar Negeri Rusia juga menyebut langkah ini berbahaya dan pukulan telak bagi Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Seraya merilis statemen, Deplu Rusia menyatakan, gelombang baru sanksi anti Iran yang diumumkan Amerika akan menekan upaya yang telah diambil oleh negara anggota JCPOA.

Statemen jubir Kemenlu Iran sejatinya sebuah isyarat atas poin ini. Oleh karena itu, prinsip Republik Islam Iran mengawasi dari dekat dampak teknis dan politik langkah tersebut dan jika nantinya menimbulkan dampak negatif terhadap hak nuklir Iran, maka sesuai dengan dokumen internasional dan isi JCPOA, Tehan akan mengambil langkah praktis dan hukum yang diperlukan. (MF)

 

Tags

Komentar