Jul 01, 2020 20:29 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS di Teluk Persia
    Pasukan AS di Teluk Persia

Selama empat dekade terakhir Amerika Serikat berulangkali mengancam Tehran dengan opsi pengerahan kekuatan militer terhadap Republik Islam Iran, sebagaimana yang diulangi kembali oleh pejabat senior AS baru-baru ini.

Brian Hook, Perwakilan Khusus AS Urusan Iran menegaskan kembali perpanjangan embargo senjata Iran di Dewan Keamanan PBB. Ia mengatakan, "Kami masih memiliki opsi militer terhadap fasilitas nuklir Iran di atas meja, dan Amerika Serikat berusaha untuk memperpanjang embargo senjata Iran. Iran mengacaukan Asia Barat, dan jika Rusia dan Cina mencari perdamaian di kawasan itu, maka mereka harus setuju untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Tehran di Dewan Keamanan,". 

Pembatasan senjata Iran di bawah resolusi Dewan Keamanan PBB no.2231 akan berakhir pada 18 Oktober 2020. Namun, Amerika Serikat berambisi untuk memperpanjang embargo senjata Iran tersebut.

Pangkalan militer AS, Ain Al Assad yang porak-poranda dihantam rudal Iran

 

Utusan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kelly Craft dan Brian Hook memberi penjelasan kepada Dewan Keamanan PBB beberapa hari lalu tentang resolusi yang diusulkan Washington untuk memperpanjang embargo senjata Iran. Pada pertemuan Dewan Keamanan yang berlangsung Selasa malam, Rusia dan Cina secara terbuka menentangnya. Negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB yang diharapkan Washington akan mengamini prakarsanya ini ternyata menentang embarogo senjata Iran tersebut.

Para pejabat pemerintahan Trump sekarang berpikir untuk meluncurkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Namun, Republik Islam berulangkali menekankan akan menanggapi dengan tegas setiap ancaman militer dan kemungkinan agresi oleh Amerika Serikat atau mitra regionalnya.

Selama masa kepresidenan Presiden Donald Trump yang kontroversial, pendekatan Washington untuk melemahkan dan menggulingkan Republik Islam Iran dilancarkan secara agresif. Keluarnya Amerika Serikat dari JCPOA dan dimulainya kembali sanksi nuklir terhadap Iran sejalan dengan kebijakan tekanan maksimum Gedung Putih kepada Tehran.

Namun, Iran tidak hanya merespon ancaman AS, bahkan saat ini mampu meningkatkan kekuatan nasionalnya dalam berbagai dimensi. Masalah ini diakui sendiri oleh pejabat AS, sebagaimana disampaikan senator Chris Murphy pada Maret 2020 di akun Twitternya, "Kebijakan Trump terhadap Iran tidak memiliki efek selain membuat Iran lebih kuat, dan sebaliknya AS menjadi lebih lemah,". 

Kehadiran militer Iran yang kuat di Teluk Persia, serta kemampuan pertahanan penangkalnya, terutama dalam hal kemampuan rudalnya, menunjukkan bahwa Iran bukan hanya tidak takut menghadapi ancaman Washington, tetapi Tehran akan menanggapi dengan keras setiap seranggan Amerika Serikat dan sekutu regionalnya, terutama rezim Zionis.(PH) 

Tags

Komentar