Aug 04, 2020 13:21 Asia/Jakarta

Sistem hegemoni AS adalah sistem yang paling dibenci di dunia, yang memiliki tingkat kebencian paling tinggi di antara negara-negara.

Berbicara pada pertemuan Dewan Tinggi Pejabat Yudisial, merujuk pada pergerakan sistem hegemoni dalam menciptakan tantangan bagi Republik Islam Iran, Sayid Ebrahim Raeisi, Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran hari Senin (03/08/2020) mengatakan, "Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun telah menjadi pelaku ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia di dunia, sekarang terjebak dalam diri mereka sendiri, tetapi mereka terus memusuhi negara-negara bebas di dunia."

Sayid Ebrahim Raeisi, Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran

Raeisi juga mengucapkan terima kasih kepada pasukan keamanan Iran karena menangkap pemimpin kelompok teroris Tondar seraya menambahkan, "Negara-negara yang mengaku pembela hak asasi manusia telah menjadi tempat berlindung yang aman bagi para teroris, Amerika Serikat dan Eropa telah memelihara dan mendukung para pelaku pembunuhan orang tak bersalah di seluruh dunia."

Kondisi yang patut disesali setelah bertahun-tahun perang dan pertumpahan darah di Afghanistan, Irak, Yaman dan agresi rezim pembunuh anak-anak yang didukung AS di Palestina dan Yaman, serta penindasan AS terhadap negara-negara yang tertindas, semua ini adalah contoh nyata dari pelanggaran HAM yang meluas oleh sistem dominasi dunia. Penindasan terbesar abad terakhir telah terjadi di Palestina. Dalam kisah menyakitkan ini, tidak hanya tanah, tetapi juga identitas suatu bangsa telah diserang.

Ada banyak dilema tentang masalah hak asasi manusia di Barat. Bahkan di negara-negara ini, banyak orang menderita rasisme, korupsi dan ketidakadilan, dan suara protes mereka semakin keras setiap hari. Protes yang meluas tak lama setelah pembunuhan brutal terhadap seorang warga kulit hitam Amerika oleh seorang polisi kulit putih, meskipun ada tindakan keras terhadap pengunjuk rasa, tapi protes tetap berlanjut.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam menjelaskan dimensi dan tujuan perilaku anti kemanusiaan Amerika Serikat di bagian dari pesan terbarunya di momen haji menjelaskan, "Perlakuan Amerika terhadap negara-negara lemah adalah versi yang diperbesar dari perilaku polisi yang menempatkan lututnyadi leher seorang pria kulit hitam yang tidak berdaya dan menekannya hingga mati."

Skandal perilaku tidak manusiawi dari para pemimpin Gedung Putih sekarang terdengar di jalan-jalan Amerika Serikat.

Foad Izadi, pakar hubungan internasional menyebut hak asasi manusia telah digunakan sebagai alat tekanan oleh Amerika Serikat terhadap musuh dan saingannya selama lebih dari setengah abad.

Menurutnya, "Amerika Serikat, yang mengklaim melindungi hak asasi manusia, tidak hanya melakukan kegiatan anti-HAM terhadap orang-orang di negara lain, tetapi juga memiliki kebijakan yang sama terhadap rakyatnya sendiri. Bahkan, dapat dikatakan bahwa korban pertama HAM Amerika adalah rakyat Amerika. Di halaman-halaman sejarah kita melihat bagaimana orang Indian dibantai oleh orang Amerika dan orang kulit hitam diperbudak. Semua ini menunjukkan bahwa bahkan di Amerika Serikat, rakyatnya tidak kebal terhadap kebijakan HAM Amerika dan berada di bawah tekanan kuat dari kebijakan anti-HAM."

Amerika Serikat juga berusaha menyulitkan rakyat Iran dengan menjatuhkan sanksi obat-obatan selama masa sulit yang disebabkan oleh penyebaran virus Corona. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa yang mengklaim hak asasi manusia selama perang yang dipaksakan juga melengkapi dan mendukung rezim Saddam dalam serangan kimia terhadap Iran. Sebagai hasil dari dukungan ini, lebih dari seratus ribu orang di Iran menjadi korban senjata kimia yang disumbangkan oleh Barat.

Korban serangan senjata kimia pasokan Barat kepada rezim Saddam

Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa juga telah mendukung kelompok teroris Munafikin (MKO) dan kelompok teroris lainnya yang telah membunuh ribuan orang tak bersalah. Amerika Serikat memiliki stigma yang melekat pada kejahatannya di Teluk Guantanamo dan Abu Ghraib dalam catatan hak asasi manusianya.

Tetapi negara-negara yang sama ini menampilkan diri mereka sebagai pembela hak asasi manusia, sementara mereka adalah pelanggar hak asasi manusia terbesar dan harus bertanggung jawab dalam hal ini. Dengan demikian, klaim hak asasi manusia Amerika Serikat dan Eropa adalah sindiran politik yang pahit di era kontemporer, karena mereka adalah manifestasi nyata dari pelanggaran hak asasi manusia mereka sendiri.

Tags

Komentar