Aug 07, 2020 16:06 Asia/Jakarta

Para pejabat tinggi Amerika selama puluhan tahun melancarkan berbagai aksi destruktif terhadap Iran, tapi hingga kini tidak berhasil menundukkan Republik Islam supaya mengamini diktenya, bahkan ketika Gedung Putih sudah memberlakukan sanksi paling keras terhadap Tehran di era Trump saaat ini.

Presiden AS, Donald Trump mengerahkan segala cara untuk menundukkan Iran dari ancaman hingga berbagai sanksi ketat, tapi selalu gagal. Kini, ia mengusung perundingan dengan Iran setelah berbagai cara yang ditempuhnya gagal total.  

Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News baru-baru ini, jika pemilu presiden tidak gelar di Amerika Serikat, maka Iran akan mencapai negosiasi dengan Amerika Serikat dalam waktu 24 jam.

Terlepas dari manuver politik yang dilakukan Trump dengan statemennya ini, tapi bagaimanapun presiden AS ini terpaksa mengakui kegagalan langkahnya menekan Iran dengan cara-cara kekerasan.

Pasalnya, sebelum statemen Trump ini keluar, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan dialog dengan Iran tidak akan berhasil, dan hanya bahasa kekuasaan yang harus sampaikan ke Iran.

Sejak menjabat sebagai Presiden AS, Trump telah berusaha menggiring Iran supaya mengamini tuntutan Gedung Putih, tapi Tehran mengabaikannya. Keputusan Trump menarik AS keluar dari JCPOA, penerapan kebijakan tekanan maksimal, pengetatan sanksi, dan narasi tidak realistis tentang perilaku Tehran di kawasan untuk menghancurkan hubungan Iran dengan negara-negara regional telah menjadi bagian dari kebijakan AS untuk mengubah perilaku Iran. Bahkan Amerika Serikat telah mencoba membentuk koalisi melawan Iran, namun semuanya membentur dinding.

 

 

Sebuah negara yang komponen kekuatannya berasal dari dalam negeri yang independen dan tidak bergantung terhadap kekuatan asing secara natural merupakan kekuatan aktif yang efektif berperan di tingkat regional dan global di luar kehendak kekuatan besar dunia.

Selama empat dekade terakhir, Republik Islam Iran menjadi aktor penting dalam perimbangan kekuatan regional yang bertentangan dengan keinginan Amerika Serikat.

Pengaruh Iran di tingkat regional tidak dapat diabaikan, dan kini Iran menjadi salah satu negara yang terbukti serius dalam memerangi terorisme di kawasan Asia Barat demi mewujudkan perdamaian dan keamanan regional.

Begitu besar biaya yang telah dikeluarkan Iran dalam perang melawan terorisme. Oleh karena itu, narasi tidak realistis Amerika Serikat terhadap Iran tidak lebih dari kesalahan mereka menempatkan posisi antara algojo dan martir. Pembunuhan Syahid Letjen Qassem Soleimani, yang berperan besar dalam penumpasan terorisme di Asia Barat atas perintah Donald Trump, menunjukkan posisi sebenarnya Gedung Putih sebagai algojo.

Sebuah negara teroris dengan pendekatan seperti itu tidak dapat memaksa Iran untuk bermain sesuai keinginannya. Tapi Washington hingga kini terus memaksakan keinginan ilegalnya terhadap Tehran yang tidak pernah terwujud.

Dalam hal ini, Ali Rabiee, Juru Bicara pemerintah Iran Selasa lalu menekankan, selama Amerika Serikat melanjutkan perilaku ambisius, destruktif dan ekspansionisnya, tidak ada sanksi sebesar apapun yang dapat menghalangi Iran untuk melawan aksi pemaksaan ini. (PH) 

 

Tags

Komentar