Sep 15, 2020 08:48 Asia/Jakarta

Membahas tren hubungan Iran-Cina mengungkapkan fakta bahwa saat ini Cina adalah mitra dagang terbesar Iran dan Iran juga merupakan mitra strategis terbesar Cina di kawasan.

Hubungan antara kedua negara terus berlanjut meskipun ada sanksi dan tentangan AS, dan terlepas dari beberapa asumsi, bukan hanya tidak menurun, tetapi menyaksikan penguatan yang signifikan dari hubungan bilateral antara kedua negara, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam jenisnya. Dalam hal ini, sebuah memorandum tentang perluasan kerja sama industri dan perdagangan ditandatangani antara Organisasi Industri Kecil dan Kota Industri Iran dan Pameran Internasional Industri Kecil Cina.

Hassan Rouhani dan Xi Jinping

Wu Hong, Wakil Direktur Jenderal Organisasi Industri dan Teknologi Informasi Guangdong Cina menghadiri upacara tersebut, yang dihadiri juga oleh Mohsen Salehi Nia, Wakil Menteri dan Direktur Eksekutif Organisasi Industri Kecil dan Kota Industri Iran. Iran menyerukan pengembangan jangka panjang kerja sama dan bantuan bagi industri kecil dan menengah untuk pembangunan di pasar kedua negara, dan menyebut Iran sebagai mitra ekonomi dan perdagangan penting Beijing di Asia Barat.

Perkembangan hubungan ekonomi, politik dan budaya antara Iran dan Cina memiliki alasan dan tujuan yang jelas.

Hubungan ini memiliki sejarah yang panjang. Hubungan antara kedua negara menjadi lebih jelas selama era sanksi, yang diperparah oleh meningkatnya ketidakpercayaan Iran terhadap Barat dan langkah Amerika Serikat yang menciptakan ketegangan terkait JCPOA. Menurut statistik yang dirilis pada 2019, di puncak sanksi, perdagangan antara Iran dan Cina mencapai $ 24 miliar. Tentu saja, tidak ada keraguan bahwa geopolitik Iran penting bagi Cina.

Iran adalah penghubung stabil antara Laut Kaspia dan Teluk Persia, dan fitur ini telah membuat partisipasi dalam program perdagangan dan ekonomi dengan Iran menarik dan memotivasi investor asing, termasuk China. Jelas, dasar kerja sama Iran-Cina, yang didefinisikan dan diatur dalam kerangka kepentingan bersama dan seimbang, adalah duri di pihak musuh dan respon yang merusak unilateralisme dan sanksi AS.

Analis hubungan internasional dan jurnalis Rusia Ekaterina Blinova tentang hubungan ini di editorial Sputnik hari Ahad 14/09/2020) menulis, "Kemitraan Strategis Iran-Cina bisa menjadi paku terakhir di peti mati kebijakan 'tekanan maksimum' AS terhadap Iran."

Itulah mengapa langkah yang diambil Iran dan Cina di bidang kerja sama strategis membuat marah Washington. Majalah Foreign Policy yang berbasis di AS baru-baru ini menggambarkan kesepakatan itu sebagai "berita buruk bagi Barat," mengutip draf perjanjian strategis 25 tahun antara Iran dan Cina.

Dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga mencoba menggambarkan masuknya Cina ke Iran sebagai penyebab ketidakstabilan di kawasan. Namun terlepas dari kebohongan dan klaim ini, hubungan Iran-Cina adalah fakta yang telah lama menjadi dasar perdagangan dan kerja sama ekonomi.

Kerja sama strategis Cina dan Iran

“Cina dan Iran perlu meningkatkan level kerja samanya dalam bentuk pernyataan bersama tentang kemitraan strategis yang komprehensif, yang telah disetujui oleh presiden kedua negara di Tehran pada 2016, untuk meningkatkan dan memperkuat kerja sama kawasan dalam bentuk proyek Satu Sabuk, Satu Jalan,” kata Kamal Kharazi, Ketua Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri, merujuk pada berbagai kapasitas yang ada di antara kedua negara dan belum dimanfaatkan secara maksimal.

Hubungan masa lalu dan masa kini menunjukkan bahwa perluasan kerja sama antara Iran dan Cina akan bermanfaat tidak hanya bagi kedua negara tetapi juga bagi pembangunan perdamaian dan keamanan.

Tags