Nov 04, 2020 20:50 Asia/Jakarta
  • Perawat di RS Booali Sina, Qazvin, Iran.
    Perawat di RS Booali Sina, Qazvin, Iran.

Jumlah kasus Virus Corona di Republik Islam Iran kian hari meningkat setelah penyebaran virus ini memasuki gelombang ketiga. Beberapa rumah sakit di negara ini telah penuh dengan pasien COVID-19.

Jumlah kasus COVID-19 di Iran meningkat meski masyarakat telah diwajibkan untuk memakai masker, terutama di kota Tehran dan kota-kota lainnya yang berstatus zona merah.

Para pakar mengaitkan meningkatnya jumlah kasus COVID-19 bersamaan dengan flu musiman yang dimulai hampir sebulan lalu. Kemenkes Iran mengatakan peningkatan kasus baru juga berkaitan dengan percepatan tes COVID-19 di negara tersebut.

Meningkatnya korban jiwa akibat Virus Corona dalam beberapa minggu terakhir mendorong Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengadakan sesi tatap muka pertama dengan pemerintah sejak awal menyebarnya COVID-19 di Iran dan meminta presiden dan Kemenkes untuk bertindak lebih serius.

Pemerintah memberlakukan pembatasan baru di Tehran dan 43 kota berisiko tinggi lainnya, berlaku hingga 21 November 2020. Berdasarkan langkah-langkah baru tersebut, 50 persen pegawai negeri diharuskan untuk bekerja dari rumah dan siapa pun yang tertangkap tanpa masker akan didenda. Perjalanan antarkota yang tidak perlu juga dibatasi hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Sima Sadat Lari mengatakan, sampai hari ini, Rabu (4/11/2020), 500.400 pasien COVID-19 di Iran dinyatakan sembuh.

"Dalam 24 jam terakhir, ditemukan 8.452 kasus baru positif Virus Corona di Iran,  2.852 orang dirawat di rumah sakit, dan sisanya menjalani rawat jalan dan karantina mandiri," ujarnya.

Dia menambahkan, dengan adanya penambahan kasus hari ini, total warga Iran yang terinfeksi Covid-19 menjadi 646.164 orang.

"Sungguh disayangkan dalam 24 jam terakhir 419 pasien Corona di Iran meninggal dunia, sehingga total korban jiwa mencapai 36.579 orang," pungkasnya. (RA)

 

Tags