Nov 12, 2020 19:03 Asia/Jakarta

Para pejabat Republik Islam Iran mengomentari berakhirnya masa jabatan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat setelah Joe Biden terpilih sebagai Presiden ke-46 negara itu.

Wakil Presiden Republik Islam Iran Eshaq Jahangiri mengatakan, era Trump dan "tim petualangnya" telah berakhir dan bahwa Iran tidak akan melupakan kampanye "tekanan maksimum" dari sanksi ekonomi dan pembunuhan terhadap Letnan Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan al-Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

"Saya berharap kita akan menyaksikan perubahan dalam kebijakan destruktif AS dan kembali ke hukum dan komitmen internasional serta rasa hormat kepada bangsa-bangsa," tulis Jahangiri dalam tweetnya, seperti dimuat Irandaily, Minggu, 8 November 2020.

Wapres Iran menambahkan, pelanggaran terhadap perjanjian-perjanjian internasional, dari perjanjian terkait lingkungan hingga sanksi ekonomi dan tidak manusiawi terhadap bangsa Iran, dan dukungan untuk terorisme dan rasisme membentuk dasar kebijakan Trump.

Jahangiri menuturkan, bangsa Iran menentang kebijakan "tekanan maksimum" Trump, dan tidak akan melupakan rasa sakit yang disebabkan oleh "gangguan besar-besaran atas mata pencahariannya, kurangnya akses pasien ke obat-obatan, dan pembunuhan terhadap Jenderal Soleimani yang sangat dicintai.

Ketegangan antara Iran dan AS memburuk sejak 2018, ketika Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA yang ditandatangani pada 2015 antara Tehran dan kekuatan-kekuatan dunia dan pemberlakuan kembali sanksi maksimum.

Trump juga memerintahkan pembunuhan Jenderal Soleimani di Irak melalui serangan pesawat tak berawak, di mana Iran telah berjanji untuk membalasnya dengan keras.

Terpilihnya Biden bisa menciptakan peluang bagi negosiasi baru antara Iran dan AS. Wapres di bawah Presiden Barack Obama ketika perjanjian JCPOA ditandatangani itu telah berjanji untuk bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir tersebut.

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional (SNSC) Iran Ali Shamkhani mengatakan, berakhirnya kepresidenan Trump adalah "keputusan sejarah yang ditakdirkan".

"Akhir dari #Trump bukanlah kejutan, ini adalah keputusan sejarah yang telah ditakdirkan. Kebanyakan orang #America menolak catatan semua kegagalan dalam berpikir bahwa intimidasi dan pemaksaan adalah solusi untuk masalah. Apakah pemerintah terpilih memahami bahwa di bawah bingkai putih fotonya di Gedung Putih, alih-alih kata-kata 'presiden empat puluh lima', dia harus menulis: 'Pelajaran untuk masa depan,'" tulis Shamkhani.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memposting sebuah ayat Al-Qur'an dan video pendek dari sebagian pidato Sayid Hassan Nasrullah, Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon.

Dalam video tersebut, Sayid Nasrullah memprediksikan bahwa Trump akan kalah dalam pemilu dan kehilangan wilayah Asia Barat.

"Ketika AS meninggalkan wilayah kami, Zionis ini akan berkemas dan pergi. Kami bahkan mungkin tidak harus berperang melawan Israel," kata Sayid Nasrullah.

Selanjutnya, Duta Besar Iran untuk Inggris Hamid Baeidinejad mengatakan bahwa kehidupan politik seorang pria "yang hanya menyebarkan kebencian" itu telah "berakhir".

"Trump tidak dapat membuat Iran menyerah dan sekarang kehidupan politiknya telah berakhir sambil mengharapkan panggilan telepon dari Iran," tulisnya di Twitter.

Baeidinejad juga melampirkan meme berdasarkan foto terkenal 1979, beberapa hari sebelum revolusi yang melahirkan Republik Islam Iran. Foto asli menunjukkan dua pria bersepeda, salah satunya memegang koran dengan judul: "Shah (Pahlevi) telah pergi". Meme itu memiliki judul yang diubah menjadi: "Trump telah pergi ".

Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran Sayid Abbas Salehi mengatakan Trump telah pergi sementara Iran tetap berdiri.

"Besok dan hari-hari lain juga akan sama!" tulis Sayid Salehi dalam tweetnya.

Penasihat Presiden Hassan Rouhani, Hesameddin Ashena, men-tweet bahwa Iran menolak untuk tunduk pada tekanan AS, dan Biden harus belajar dari itu.

"Rakyat Iran berdiri teguh dengan berani sampai pengecut itu pergi," tulisnya.

Ashena menjelaskan, kami menentang Trump's America dan menolak untuk tunduk melalui tekad nasional dan semangat Islam. Jika Biden datang (ke kantor), lanjutnya, kami akan memberitahunya juga, bahwa tidak pernah menguji apa yang telah diuji.

Tetapi beberapa anggota Parlemen menyatakan skeptisisme bahwa kepresidenan Biden menjadi pertanda jauh lebih baik bagi Iran.

"Tampaknya, dunia sedang menyingkirkan Trump, tetapi kejahatan imperialisme Amerika tetap ada," tulis perwakilan Tehran Nezameddin Mousavi di Twitter. (RA)

Tags