Des 16, 2020 10:40 Asia/Jakarta

Berupaya untuk memiliki hubungan terbaik dengan tetangganya, Republik Islam Iran berusaha memprioritaskan hubungan luar negerinya berdasarkan perluasan hubungan yang seimbang dan penguatan multilateralisme.

Sehubungan dengan itu, digelar pertemuan ketujuh Komite Konsultasi Strategis Republik Islam Iran dan Oman, yang diketuai oleh "Seyed Abbas Aragchi", Wakil Menteri Luar Negeri Iran dan Khalifa bin Ali al-Harithi, Wakil Menteri Luar Negeri Oman, di Muscat, Senin (14/12/2020).

Dalam pertemuan tersebut, cara-cara untuk mengembangkan hubungan bilateral di berbagai bidang dibahas dan kedua belah pihak menyampaikan pandangan mereka tentang perkembangan di kawasan dan menekankan perlunya menyelesaikan perselisihan melalui dialog.

Oman dan Republik Islam Iran

Pengalaman menunjukkan bahwa kepentingan kolektif hanya dapat dicapai melalui kerja sama dan pemahaman.

Karena ketegangan antara negara-negara di wilayah ini tetap ada melalui permusuhan dan konflik, dan ini hanya menguntungkan pihak yang mengintervensi dan kekuatan asing. Amerika Serikat telah menjual miliaran dolar dalam senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terutama dalam empat tahun terakhir, dengan menunjukkan Iran sebagai ancaman. Dengan menciptakan perpecahan dan ketegangan di antara negara-negara Teluk Persia, Amerika Serikat berusaha mengamankan kepentingan ilegalnya.

Hasil dari kebijakan ini menunjukkan tujuan strategis dari kehadiran militer AS dan menciptakan ketegangan di kawasan, adalah mencegah pembentukan kerja sama keamanan antara negara-negara di wilayah ini dan membuat mereka tergantung pada kehadiran militer AS dengan proyek bernama "menciptakan keamanan". Sayangnya, beberapa aktor regional juga telah menyebabkan ketidakamanan, ketidakstabilan, perang dan ekstremisme di kawasan melalui kebijakan munafik dan dukungan bagi terorisme.

Ghasem Mohebali, mantan diplomat dan analis politik Iran, menunjuk pada pembentukan koalisi Zionis-Arab melawan Iran mengatakan, "Rezim Zionis, Arab Saudi dan beberapa elemen pemerintahan Trump, seperti Pompeo, tertarik untuk menciptakan krisis atau ketegangan baru di kawasan. Mereka khawatir Washington akan kembali ke JCPOA atau bahwa Iran dan Amerika Serikat akan mencapai kesepakatan baru. Oleh karena itu, mereka telah membentuk koalisi yang tujuannya menghancurkan JCPOA dan melanjutkan ketegangan di kawasan. Karena kelanjutan situasi ini akan memenuhi tuntutan dan kepentingan mereka."

Namun situasi kawasan sedang menuju perubahan mendasar. Perubahan ini telah memperkuat ruang lingkup multilateralisme.

Republik Islam Iran percaya bahwa mencapai keamanan berkelanjutan dan pembangunan regional hanya akan mungkin melalui kerja sama dan partisipasi kolektif dari negara-negara tetangganya.

Presiden Republik Islam mempresentasikan rencana "Hormoz Peace" pada sesi Sidang Umum PBB 2019, dan rincian rencana ini telah dikirim ke enam negara di Teluk Persia dan Irak. Tujuan dari rencana ini adalah untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas, kemajuan dan untuk membangun saling pengertian dan hubungan damai dan bersahabat antara negara-negara Teluk Persia dan Selat Hormuz. Proposal tersebut menunjukkan bahwa Tehran memiliki gagasan multilateral dengan pendekatan regional untuk mempromosikan stabilitas dan keamanan di Teluk Persia.

Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran

Menekankan prinsip strategis ini, Iran dan Oman sepakat bahwa dialog dan konsultasi tentang masalah regional dalam konteks baru internasional dapat membantu untuk membangun pemahaman di antara negara-negara di kawasan. Oman telah memainkan peran yang efektif dan konstruktif dalam mengurangi perbedaan regional dalam kebijakan luar negerinya, dan peran ini telah berulang kali dipuji oleh Iran.

Mengadakan pertemuan Komite Konsultasi Strategis Iran-Oman, yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat negosiasi, pengambilan keputusan dan roadmap untuk semua sektor hubungan kedua negara, juga penting dari sudut pandang ini. (SL)

Tags