Jan 20, 2021 16:26 Asia/Jakarta
  • Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York
    Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York

Dengan penolakan Republik Islam Iran, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab gagal mendapatkan keanggotaan peninjau dalam Konferensi Perlucutan Senjata Jenewa pada 2021.

Esmaeil Baghaei Hamaneh, Duta Besar dan Wakil Tetap Republik Islam Iran untuk PBB di Jenewa, pada hari Selasa (19/01/2021) berbicara tentang alasan penentangan Iran terhadap keanggotaan kedua negara dalam konferensi perlucutan senjata. Menurutnya, kedua negara memiliki rekam jejak sebagai pemicu instabilitas dan memainkan peran destruktif di kawasan. Selain itu, aktivitas nuklir rahasia Arab Saudi, membuat kehadirannya justru merusak sebagai negara peninjau di keanggotaan Konferensi Perlucutan Senjata Jenewa.

Esmaeil Baghaei Hamaneh, Duta Besar dan Wakil Tetap Republik Islam Iran untuk PBB di Jenewa

Penolakan Iran terhadap kehadiran Arab Saudi dan UEA sebagai anggota peninjau dalam Konferensi Perlucutan Senjata patut dicermati dalam dua hal:

Aspek pertama adalah rekam jejak negatif dan citra terdistorsi Arab Saudi di bidang perlucutan senjata dan kegiatan nuklir.

Memperhatikan jejak rekam ini menunjukkan bahwa meskipun Arab Saudi menandatangani dan meratifikasi NPT pada tahun 1998, tapi baru hanya menandatangani sebuah protokol pada tahun 2005 yang disebut protokol "Kuantitas Kecil" yang berarti berhak memiliki jumlah uranium dan plutonium yang terbatas. Kegiatan dan inspeksi IAEA diatur atas dasar ini, di mana tidak sesuai dengan keadaan program nuklir negara saat ini.

Selain itu, masalah lainnya adalah para pejabat Riyadh telah mengumumkan pendekatan Arab Saudi terkait senjata nuklir yang justru menimbulkan ancaman nuklir di kawasan.

"Arab Saudi belum menunjukkan transparansi nuklir. Selain penentuan sejumlah reaktor nuklir yang akan dibangun, kami tidak menyaksikan program energi nuklir yang jelas dari Riyadh," kata Olli Heinonen, mantan Wakil Direktur dan Kepala Inspektur Senjata dan Nuklir Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Aspek kedua dari pentingnya suara openolakan Iran dalam Konferensi Perlucutan Senjata tentang Arab Saudi adalah perhatian pada peran destruktif Arab Saudi dalam merusak stabilitas dan keamanan.

Duta besar dan wakil tetap Republik Islam Iran untuk PBB di Jenewa menyebut Arab Saudi sebagai pemimpin koalisi untuk perang dan agresi terhadap tetangganya dan gudang senjata destabilisasi terbesar di kawasan. Selain itu, pengalaman menunjukkan bahwa negara tersebut menyalahgunakan pertemuan dan pembahasan Konferensi Perlucutan Senjata hanya untuk memutarbalikkan opini publik dan untuk menjustifikasi kesalahan dan kejahatannya di Yaman.

Peran destruktif Arab Saudi di kawasan, dukungannya terhadap terorisme dan ekstremisme, serta aktivitas nuklirnya yang tidak konvensional di luar pengawasan para pengawas dan inspektur IAEA adalah alasan kuat untuk prihatin tentang kehadirannya di konferensi yang bertanggung jawab untuk memantau risiko pelucutan senjata. Jelas, dengan latar belakang dan alasan tersebut, masuknya Arab Saudi sebagai anggota peninjau dalam Konferensi Perlucutan Senjata tidak konstruktif dan bertentangan dengan tujuan dan misi organisasi internasional ini.

Kejahatan perang Arab Saudi di Yaman

Dari sudut pandang ini, penolakan Iran terhadap keanggotaan dua elemen berbahaya dan merusak dalam Konferensi Perlucutan Senjata, justru berjasa bagi perdamaian dan untuk melindungi keamanan regional, serta untuk mempertahankan posisi dan reputasi Konferensi Perlucutan Senjata sebagai satu-satunya badan multilateral internasional di bidang perlucutan senjata.

Tags