Jan 22, 2021 21:01 Asia/Jakarta
  • Mahmoud Vaezi
    Mahmoud Vaezi

Dinamika Iran sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai kesiapan Iran menghadapi situasi apapun di era Biden.

Selain itu tentang pertemuan antara menlu Iran dan Irlandia membahas masa depan JCPOA, pernyataan menteri perminyakan Iran mengenai kegagalan Trump mencegah ekspor minyak Iran, rencana produksi 30 ribu megawatt listrik bertenaga nuklir, target memproduksi 25 juta dosis vaksin Corona, kesiapan Iran membantu Irak menangani terorisme, dan angkatan darat Iran menggelar manuver militer di pantai Makran.

 

Presiden AS, Joe Biden

 

Hadapi Biden, Iran Siap untuk Situasi Apapun

Kepala Staf Kepresidenan Iran Mahmoud Vaezi, mengatakan sikap pemerintahan Biden pasti akan berbeda dengan perilaku pemerintahan Trump dalam berurusan dengan Tehran.

Vaezi dalam wawancara eksklusif dengan Iran Press, Rabu (20/1/2021), menuturkan Trump mengadopsi sikap ekstrem terhadap Iran selama empat tahun terakhir dan juga memiliki perilaku yang tidak rasional terhadap para tetangga Amerika, Eropa, dan Asia.

"Perilaku Trump tidak sejalan dengan diplomasi politik. Atas alasan ini, perilaku pemerintahan Biden akan berbeda," tambahnya.

Vaezi mengatakan pemerintahan Biden mulai menjabat malam ini dan Tehran sedang menunggu untuk melihat bagaimana pendekatan pemerintahan baru AS di hadapan Iran.

"Iran siap menghadapi situasi apapun dan hal yang penting bagi Tehran adalah pencabutan sanksi dan normalisasi kondisi untuk hubungan Iran dengan dunia sehingga dapat dengan mudah mengekspor produknya ke pasar dunia," tegasnya.

Dia menandaskan bahwa Iran juga harus bisa mengimpor kebutuhan pokok dan memiliki hubungan perbankan yang normal seperti di masa lalu.

 

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif

 

Menlu Iran dan Irlandia Bahas Masa Depan Perjanjian Nuklir JCPOA

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan implementasi penuh perjanjian nuklir JCPOA bergantung pada pencabutan sanksi.

Hal itu disampaikan Zarif dalam pembicaraan via konferensi video dengan Menteri Luar Negeri Irlandia, Simon Coveney pada Rabu (20/1/2021).

Sebelum ini, pemerintah Irlandia menyatakan akan berusaha untuk mempertahankan perjanjian nuklir 2015 yang dicapai antara Iran dan kekuatan utama dunia.

Sejak awal, jelas Zarif, Iran telah memenuhi semua kewajibannya berdasarkan JCPOA. Namun, setelah Amerika Serikat keluar dari perjanjian ini dan juga ketidakmampuan Eropa untuk melaksanakan kewajibannya secara penuh, Iran memilih mengurangi komitmennya sesuai dengan Pasal 36 JCPOA.

Dia juga mengucapkan selamat kepada Irlandia karena terpilih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2021-2022.

Menlu Iran menegaskan bahwa AS dengan menjatuhkan sanksi ilegal khususnya dalam beberapa tahun terakhir, telah melanggar ketentuan Piagam PBB dan perjanjian internasional, dan ini telah merusak multilateralisme.

“Diharapkan kepada semua negara, terutama anggota Dewan Keamanan PBB untuk melakukan upaya konstruktif demi perdamaian dan keamanan internasional,” imbuhnya.

Zarif menilai Iran dan Irlandia memiliki pandangan yang dekat dalam banyak isu penting regional seperti, masalah perlucutan senjata dan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Yaman dan Suriah.

Dia juga menyambut baik langkah pemerintah Irlandia untuk membuka kembali kedutaannya di Tehran.

Sementara itu, Simon Coveney juga memandang hubungan antara Iran dan Irlandia sangat penting.

Dia mengatakan kedutaan Irlandia di Tehran dan di beberapa negara lain ditutup dalam beberapa tahun terakhir karena masalah keuangan dan sekarang kami berusaha untuk membukanya kembali secepat mungkin.

 

Bijan Namdar Zanganeh

 

Zanganeh: Trump Gagal Cegah Iran Ekspor Minyak

Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh mengatakan Donald Trump gagal menekan ekspor minyak Iran ke titik nol meskipun telah melakukan upaya total.

Hal itu disampaikan Zanganeh pada acara pembukaan pameran minyak, gas, dan petrokimia Iran ke-25 di Tehran, Jumat (22/1/2021) seperti dilaporkan IRNA.

"Musuh berusaha menekan ekspor minyak Iran ke titik nol, namun bukan hanya gagal melakukan itu, ekspor produk-produk minyak kami justru mencapai angka tertinggi dalam sejarah," ungkapnya.

Zanganeh menjelaskan bahwa di tengah pandemi virus Corona, Iran tetap melakukan ekspor minyak dengan menjaga protokol kesehatan, dan gangguan musuh tidak mampu menciptakan hambatan di bidang ini.

"70 persen dari peralatan yang dibutuhkan oleh industri minyak Iran juga diproduksi oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri," ujarnya.

 

 

Iran Siap Produksi 25 Juta Dosis Vaksin Corona

Kepala Komite Ilmiah Satgas Penanganan Covid-19 Iran, Mostafa Ghanei mengatakan Republik Islam sedang melaksanakan rencana produksi 25,5 juta dosis vaksin Corona oleh perusahaan dalam negeri.

"Situs UNICEF telah memperkenalkan Iran sebagai salah satu negara produsen vaksin Corona," ujarnya di Tehran, Rabu (20/1/2021).

"Dari sembilan perusahaan Iran yang memproduksi vaksin Corona, tiga vaksin berada dalam fase uji klinis, dan vaksin bersama Institut Pasteur Iran dan Kuba juga siap menjalani uji klinis," jelasnya.

Soal alasan Iran memilih Kuba untuk memproduksi vaksin Covid-19, Ghanei menuturkan sistem kesehatan Kuba dari segi kesetaraan menempati urutan pertama di dunia dan negara tersebut adalah salah satu kekuatan dunia di bidang kedokteran.

"Di masa lalu, Kuba juga bekerja dengan Iran untuk mengembangkan vaksin hepatitis B, dan kedua negara memiliki rekam jejak yang baik dalam hubungan politik dan diplomatik," tegasnya.

 

Ali Akbar Salehi

 

Iran Targetkan Produksi 30 Ribu Megawatt Listrik Nuklir

Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Ali Akbar Salehi mengatakan prioritas utama lembaganya adalah memproduksi listrik tenaga nuklir.

"Tugas utama kami membangun pembangkit listrik. Iran membutuhkan antara 20 hingga 30 ribu megawatt listrik nuklir dan kapasitas ini harus diwujudkan," kata Salehi dalam wawancara dengan situs khamenei.ir pada hari Minggu (17/1/2021).

Dia menjelaskan bahwa saat ini Iran memproduksi 1.000 megawatt listrik tenaga nuklir. Dua reaktor lain sedang dibangun untuk menghasilkan 2.000 megawatt listrik, yang akan beroperasi dalam tujuh tahun ke depan.

Salehi juga menerangkan tentang perbedaan pembangkit listrik tenaga nuklir dan tenaga bahan bakar fosil. Menurutnya, setiap pembangkit listrik tenaga nuklir 1.000 megawatt menelan biaya 5 miliar dolar, tetapi ia bisa berumur hampir 70 tahun dan biaya operasional sekitar 100 juta dolar per tahun.

"Setiap reaktor membutuhkan 300 ton uranium alami per tahun dan Iran sejauh ini telah memiliki 40 ton. Jadi dibutuhkan banyak pekerjaan di sektor ini," kata kepala Organisasi Energi Atom Iran.

 

Saeed Khatibzadeh

 

Iran Siap Bantu Irak Tumpas Teroris

Juru bicara kementerian luar negeri Iran mengecam dua pengeboman teroris di ibu kota Irak yang menewaskan dan melukai sejumlah warga yang tidak bersalah.

Saeed Khatibzadeh menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban, pemerintah serta rakyat Irak, dan mendoakan orang-orang yang gugur serta kesembuhan yang terluka.

"Terorisme takfiri bernafas kembali dengan menargetkan Irak dan mencoba mengganggu perdamaian dan stabilitas negara ini yang dijadikan alasan untuk melanjutkan kehadiran pasukan asing," ujar jubir kemenlu Iran.

Tehran mendukung tindakan pemerintah Irak dan dinas keamanan dalam membangun keamanan serta menangkap dan menghukum para pelaku pemboman terbaru di Baghdad.

"Republik Islam Iran siap memberikan bantuan apapun kepada saudara-saudara Irak dalam perang melawan terorisme dan ekstremisme," tegasnya.

Juru bicara Kemendagri Irak, Khalid Al Mahna mengatakan, teroris pertama yang mengenakan sabuk bom berpura-pura sakit dan saat warga mengerubungi dirinya, ia langsung meledakkan diri.

Dua ledakan bom bunuh diri mengguncang sebuah pasar di kota Baghdad pada hari Kamis, yang menyebabkan sedikitnya 32 orang tewas dan 110 lainnya cidera.

 

Manuver militer Eghtedar-99

 

AD Militer Iran Gelar Manuver di Pantai Makran

Angkatan Darat Militer Republik Islam Iran menggelar manuver militer bersandi Eghtedar-99 di pantai Makran pada Selasa, 19 Januari 2021.

Latihan militer ini melibatkan brigade udara, pasukan khusus, pasukan reaksi cepat dan dukungan Angkatan Udara Iran. Komando Pasukan Khusus, Brigade ke-65 dikerahkan untuk melakukan operasi infiltrasi dan serangan terhadap barisan musuh.

Tim penyelam pasukan elit AD Militer Iran ini menunjukkan kemampuannya untuk melancarkan serangan menembus jauh ke dalam laut dan menghancurkan target AL musuh dan kelompok kedua menembus pangkalan musuh yang terletak di pantai.

Para komando ini mengandalkan berbagai keterampilan individunya, termasuk terjun bebas dan infiltrasi taktis dari darat, udara, dan laut.

Gangguan sistem kendali komando musuh, aksi di hutan dan sistem komunikasi di permukaan laut, serta operasi gabungan pasukan terjun payung Brigade ke-65 dengan dukungan berbagai helikopter di permukaan dan di perairan Laut Oman, menjadi salah satu taktik yang digunakan dalam manuver militer Eghtedar-99.

Helikopter serbu Bell 214  yang baru-baru ini dilengkapi peralatan terbang malam dan persenjataan baru, berhasil menyelesaikan operasi heliborne di malam hari dan mendukung serangan darat di pesisir pantai Makran. Di sisi lain pasukan reaksi cepat militer Iran juga turut diterjunkan dalam manuver ini.

Operasi heliborne malam hari digelar untuk meningkatkan kemampuan tempur dan serangan para tentara dan pilot di malam hari dengan peralatan serta persenjataan baru buatan dalam negeri.(PH)

 

 

 

 

 

 

Tags