Feb 28, 2021 10:46 Asia/Jakarta

Washington terus melakukan aksi-aksi agresornya di Suriah. Kali ini, jet-jet tempur AS membom berbagai wilayah di timur negara ini.

Pentagon dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (25/02/2021) mengatakan bahwa jet-jet tempur militer AS telah membom berbagai posisi milik kelompok Muqawama di Suriah timur atas perintah Presiden AS Joe Biden. Amerika Serikat mengklaim bahwa serangannya terhadap posisi perlawanan di perbatasan Suriah-Irak adalah sebagai tanggapan atas serangan baru-baru ini di pangkalan AS di Irak, termasuk bandara Erbil.

Amerika Serikat menyalahkan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran atas serangan tersebut. Berbagai bukti menunjukkan bahwa serangan di bandara Erbil, seperti dugaan serangan terhadap kedutaan AS di Baghdad, adalah alasan yang meragukan yang digunakan untuk membenarkan kehadiran AS di negara itu. Karena Parlemen Irak telah memutuskan agar militer AS harus keluar dari negara ini.

Kota al-Bukamal

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengutuk serangan ilegal dan agresif AS di Suriah. Ia menyebut tindakan pemerintahan AS yang baru sebagai pelanggaran yang jelas terhadap kedaulatan Suriah, integritas teritorial dan pelanggaran hukum internasional. Aksi ini telah memperburuk konflik militer dan akan ada lebih banyak instabilitas di kawasan.

Jubir Kemenlu Iran mencatat bahwa pasukan teroris sedang dilatih di pangkalan ilegal Amerika di tanah Suriah dan bahwa Amerika Serikat menggunakannya sebagai alat. Khatibzadeh menjelaskan, "Pasukan Amerika selama beberapa tahun terkakhir telah memasuki wilayah Suriah secara ilegal dan menduduki tanah negara ini serta mencuri sumber alam termasuk minyak yang menjadi milik rakyat Suriah."

Amerika Serikat dan rezim Zionis telah berulang kali mengebom posisi kekuatan perlawanan di berbagai wilayah Suriah, Irak dan Lebanon yang tidak memiliki nilai militer. Langkah agresi itu dilakukan pada saat banyak kalangan politik mengharapkan Joe Biden berperilaku berbeda dari kebijakan Trump. Bagi mereka, Biden tidak mau melanjutkan ketegangan dan konflik di kawasan, bahkan salah satu alasan kegagalan Trump dalam pemilu presiden AS adalah tentang pendekatan ini.

Mengingat hal ini, Amerika Serikat tampaknya melakukan tindakan gangguan ini dengan tujuan mengirim sinyal untuk bernegosiasi dan berusaha membawa Iran ke meja perundingan. Skenario negosiasi yang berulang oleh Amerika Serikat dimulai dengan penarikan diri Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir.

Berbagai sikap Trump, yang diikuti dengan pernyataan Joe Biden, masih dapat dinilai dalam hal ini, yang menjadi titik kesamaan mereka untuk membuat alasan demi menyampaikan masalah ini. Namun dengan mencermati keterikatan kuat Amerika Serikat pada rezim Zionis, wajar bila presiden AS enggan mengubah perilaku masa lalu Amerika di kawasan.

Sekaitan dengan hal ini, Hassan Hanizadeh, pakar urusan internasional mengatakan, "Donald Trump dan tim intinya, yang terdiri dari Pompeo dan John Bolton, melalui tindakan mereka selama tiga tahun terakhir telah menutup jalan bagi setiap negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tentang berbagai masalah, seperti masalah regional dan global serta masalah kedua pihak. Langkah yang dapat dikatakan paling penting dari semua itu adalah penarikan diri Amerika Serikat dari JCPOA, peningkatan sanksi, larangan ekspor minyak Iran dan lain-lain. Atas dasar ini, harus dikatakan bahwa selama Amerika Serikat tidak mengambil langkah-langkah nyata untuk mengungkapkan niat baik terhadap Iran, segala kemungkinan negosiasi antara kedua belah pihak adalah negatif."

Joe Biden, Presiden Amerika Serikat

Tesis negosiasi Biden juga tentang tekanan ekonomi-keamanan maksimum. Konsekuensi dari pendekatan ini untuk Amerika Serikat hanya menjamin kepentingan satu pihak. Wajar jika setiap negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat memerlukan ketentuan prasyarat seperti pencabutan sanksi sepenuhnya dan kemudian kembali ke JCPOA, menahan diri untuk tidak ikut campur di kawasan, dan menggunakan metode agresif serta tidak mengakui kesalahan masa lalu.

Sejauh ini, Amerika Serikat bukan hanya tidak melakukan tindakan apa pun dalam hal ini, bahkan dengan aksi-aksi mengganggu secara periodik justru hanya berusaha menunjukkan posisi superiornya dengan menciptakan agitasi keamanan dan gerakan militer di kawasan.

Tags