May 09, 2021 18:33 Asia/Jakarta
  • Foto Syahid Jenderal Qasem Soleimani (kiri) dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis.
    Foto Syahid Jenderal Qasem Soleimani (kiri) dan Syahid Abu Mahdi al-Muhandis.

Situs Yahoo News pada Sabtu (8/5/2021) malam, mengungkap temuan baru serangan teror Amerika Serikat terhadap Komandan Pasukan Quds IRGC Iran, Syahid Jenderal Qasem Soleimani di Bandara Internasional Baghdad.

Laporan itu menjelaskan temuan-temuan baru seperti, keterlibatan pasukan Delta Force AS dalam operasi teror tersebut dan keterlibatan dinas intelijen Israel dari dekat.

Operasi tersebut diyakini akan mempengaruhi posisi strategis pemerintahan Presiden Joe Biden di kawasan pada tahun-tahun mendatang.

Yahoo News telah mewawancarai 15 pejabat AS saat ini dan mantan pejabat, di mana mereka mengungkapkan rincian baru tentang pembunuhan Jenderal Soleimani dan penilaian jangka panjang yang dilakukan pemerintahan Trump tentang pembunuhan komandan Pasukan Quds dan para pejabat tinggi Iran lainnya serta pemimpin kelompok-kelompok afiliasinya.

Laporan ini menunjukkan operasi yang lebih rumit dari yang diperkirakan sebelumnya dan mereka memiliki daftar nama orang-orang yang berpotensi menjadi target pembunuhan.

Mantan Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS, Christopher Miller mengatakan bahkan jika itu tidak dimaksudkan untuk memicu ketegangan, tetapi faktanya ini adalah operasi yang jauh lebih ambisius daripada membunuh seorang jenderal.

“Ada daftar lengkap dari nama orang-orang yang direncanakan oleh militer AS untuk dibunuh,” tambahnya.

Presiden AS waktu itu, Donald Trump dalam sebuah tindakan kriminal memerintahkan pembunuhan Jenderal Soleimani dan rombongannya.

Acara haul pertama Syahid Soleimani di lokasi serangan teror di dekat Bandara Baghdad.

Jenderal Soleimani dan Wakil Ketua Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, bersama dengan delapan pengawal mereka, gugur syahid dalam serangan udara yang dilakukan pasukan teroris AS di dekat Bandara Internasional Baghdad pada Jumat dini hari, 3 Januari 2020.

Yahoo News menjelaskan bahwa rencana pembunuhan Jenderal Soleimani sudah ada sejak awal pemerintahan Trump. Setelah Mike Pompeo memimpin CIA pada 2017, ia mengadakan pertemuan dengan sekelompok petinggi CIA, termasuk pusat misi kontraterorisme CIA dan pusat kegiatan khusus militan, untuk membahas rencana pembunuhan Jenderal Soleimani.

Di tahun yang sama, Pompeo mambawa rencana pembunuhan pejabat tertinggi militer Iran sebagai bagian dari strategi potensial pada pertemuan Dewan Keamanan Nasional AS.

Pembahasan tentang teror Jenderal Soleimani di Gedung Putih dimulai pada musim panas 2018, hampir bersamaan dengan keputusan pemerintah AS mengumumkan penarikan dirinya dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan memberlakukan kembali sanksi sebagai bagian dari kebijakan tekanan maksimum.

Informasi baru ini menunjukkan bahwa pemerintahan Trump telah memikirkan rencana teror sejak lama. Di samping itu, AS juga bermaksud membunuh lebih banyak komandan Iran dalam program terornya.

Donald Trump (kiri) dan Mike Pompeo.

AS selama ini mengklaim bahwa Jenderal Soleimani datang ke Irak dengan tujuan menyusun serangan terhadap Amerika dan pangkalan mereka, sehingga serangan udara dilakukan sebagai pencegahan. Namun, klaim ini dibantah oleh para pejabat senior Irak.

Pada 5 Januari 2020, Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi menyampaikan dalam pertemuan dengan parlemen bahwa Jenderal Soleimani tiba di Baghdad untuk menyampaikan pesan Iran kepada Arab Saudi.

Menurut laporan Yahoo News, para pejabat senior Pentagon dan CIA sangat mengkhawatirkan tentang konsekuensi pembunuhan Jenderal Soleimani.

Hal ini bukan tidak berdasar, karena Iran juga membuktikan bahwa ia punya kekuatan dan keberanian untuk melawan tindakan kriminal AS dengan meluncurkan serangan rudal skala besar di pangkalan Ain al-Assad, yang merupakan salah satu tindakan pertama yang diambil sebagai bagian dari pembalasan. (RM)

Tags