May 12, 2021 17:06 Asia/Jakarta
  • Rahbar Ayatullah Khamenei
    Rahbar Ayatullah Khamenei

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Selasa (11/5/2021) sore saat bertemu dengan perwakilan organisasi kemahasiswaan Iran yang digelar secara virtual mengungkapkan penyesalannya yang mendalam atas dua peristiwa terbaru paling pahit dan berdarah di dunia Islam, yakni Afghanistan dan Palestina. Rahbar juga mengutuk kejahatan tersebut.

Rahbar seraya mengisyaratkan kejahatan sadis dan zalim Zionis di Masjid Al Aqsa, Quds dan berbagai wilayah Palestina lainnya, memuji kebangkitan, resistensi dan tekad bangsa Palestina. "Zionis hanya memahami bahasa kekerasan, oleh karena itu bangsa Palestina harus memaksa penjahat ini menyerah dan menghentikan aksi brutalnya dengan meningkatkan kekuatan dan perlawanan," tegas Ayatullah Khamenei.

Kota Quds dan Masjid Al Aqsa sejak dua pekan lalu hingga kini menyaksikan serangan Zionis dan tentara rezim ilegal ini terhadap jamaah shalat di Masjid Al Aqsa dan warga Palestina.

Kondisi Quds, Tepi Barat dan Jalur Gaza akibat sikap keras kepala Israel melanjutkan pelanggarannya terhadap kesucian Masjid Al Aqsa telah mendorong faksi muqawama Palestina membalas kejahatan ini dengan menembakkan ratusan roket ke berbagai distrik Zionis di sekitar Jalur Gaza.

Bentrokan warga Palestina dan tentara Zionis di Masjid Al Aqsa

Jihad Islam Palestina, salah satu faksi muqawama Palestina saat membalas kejahatan Israel ini menarget Tel Aviv serta berbagai kota Israel lainnya.

Kejahatan Israel terhadap bangsa tertindas Palestina dan terulangnya aksi teroris di Afghanistan sepertinya tidak pernah berhenti, namun di mana akar dari kejahatan ini dapat dicari. Faktanya adalah akar dari berbagai krisis di dunia Islam mulai dari pembantaian sadis perempuan dan anak-anak di Afghanistan, Palestina dan Yaman serta arus pengungsian jutaan perempuan dan anak-anak adalah hasil dari kebijakan tamak, penjajahan dan dukungan kekuatan arogan dunia terhadap penjahat.

Dari perspektif Rahbar ini ada dua sisi penting yang sangat ditekankan:

Pertama, penekanan sisi kemanusiaan dari isu Palestina. Bangsa Palestina korban dari ketidakadilan dan kezaliman yang paling kentara di sejarah. Meski lebih dari enam dekade berlalu dari penjajahan, dunia tetap saja duduk sebagai penonton dari kejahatan Israel.

Rahbar seraya mengisyaratkan peristiwa pahit ini mengatakan, "Kejahatan ini terjadi di hadapan mata dunia dan semua pihak harus mengutuknya, dan menjalankan kewajiban mereka."

Sisi kedua dari pidato Rahbar adalah penekanan terhadap urgensitas dilanjutkannya gerakan muqawama sebagai solusi tunggal untuk merealisasikan hak-hak bangsa Palestina.

Ayatullah Khamenei di pidatonya seraya menjelaskan poin strategis ini, sebelumnya juga menilai solusi untuk membebaskan bangsa Palestina adalah resistensi dan muqawama. "Bangsa merupakan unsur dan berbagai organisasi Palestina harus membuat posisi AS dan Israel semakin sempit dengan jihad dan pengorbanan, serta seluruh dunia Islam harus mendukung perjuangan berani ini," tegas Ayatullah Khamenei.

Kini bangsa Palestina semakin bertekad untuk membela tanah airnya di hadapan penjajah. Seperti yang dtekankan Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyah bahwa faksi muqawama ini bertekad melanjutkan perjuangannya melawan Israel hingga rezim ini menghentikan seluruh pelanggaran dan aksi terorisnya di Quds serta Masjid Al Aqsa.

Majid Safataj, pakar politik seraya mengisyaratkan tujuan Israel melanjutkan kejahatannya terhadap rakyat Palestina mengatakan, "Pengalaman lebih dari tujuh dekade kezaliman bersejarah menunjukkan bahwa penjajah Quds tidak pernah bersedia menyerahkan hak bangsa Palestina. Solusi tunggal mengakhiri kondisi ini adalah melanjutkan muqawama untuk memaksa penjajah menerima hukum internasional dan mengikuti prinsip hak menentukan nasib sendiri oleh bangsa Palestina."

Tak diragukan lagi dalam situasi sejarah yang sensitif ini, dukungan terhadap bangsa tertindas Palestina untuk membebaskan diri dari ketertindasan ini sebuah tugas kemanusiaan, agama dan moral serta seluruh umat manusia sebagai anggota komunitas internasional harus menjalankan kewajiban ini. (MF)

 

Tags