May 20, 2021 20:15 Asia/Jakarta
  • Warga Qom menggelar pawai mobil untuk mendukung Palestina dan mengecam pembonan di Kabul, 17 Mei 2021.
    Warga Qom menggelar pawai mobil untuk mendukung Palestina dan mengecam pembonan di Kabul, 17 Mei 2021.

Warga Qom, Republik Islam Iran menggelar pawai mobil untuk mendukung rakyat Palestina dan mengecam kejahatan rezim Zionis Israel di Jalur Gaza. Mereka juga mengecam serangan bom terbaru di Kabul, ibu kota Afghanistan.

Sekitar 68 orang, sebagian besar siswi meninggal dunia secara tragis saat tiga ledakan berturut-turut mengguncang distrik Dasht-e-Barchi, Kabul barat, Afghanistan. Serangan bom yang terjadi di depan sekolah Sayyid al-Shuhada pada hari Sabtu, 8 Mei 2021  itu juga menyebabkan sedikitnya 165 orang terluka.

Sementara di Palestina, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa jumlah warga Gaza yang gugur syahid dalam serangan Israel telah mencapai 227 orang.

"Dalam 10 hari terakhir sejak dimulainya serangan rezim Zionis, 227 warga Gaza telah gugur, termasuk 64 anak-anak, 38 wanita dan 17 orang lanjut usia," kata juru bicara Kemenkes Palestina di Gaza, Dokter Ashraf al-Qidra, Rabu (19/5/2021) malam.

"Selama periode itu, 1.630 warga Palestina terluka, termasuk 470 anak-anak dan 310 wanita," tambahnya seperti dilaporkan kantor berita Ma'an Palestina.

Dia menyatakan keprihatinan yang serius atas nasib 50.000 warga Gaza yang kehilangan tempat tinggal mereka.

"Kondisi kesehatan dan kehidupan di 52 pusat penunjang, tidak layak dan hal ini dapat memicu dimulainya gelombang ketiga Corona di Gaza serta penyebaran penyakit infeksi dan kulit, yang akan menyulitkan tenaga kesehatan," jelas Dokter al-Qidra.

Dia meminta bantuan segera senilai 46 juta dolar untuk membantu sektor medis Gaza, dan menurutnya, bantuan tersebut diperlukan sekarang untuk menyediakan obat-obatan dan peralatan medis di Jalur Gaza.

Sementara itu, pejabat senior Kemenkes Palestina di Gaza, Yousef Abu al-Rish mengatakan rezim Zionis telah menghancurkan satu-satunya laboratorium untuk pengujian Covid-19 di wilayah tersebut.

"Serangan Israel di kementerian kesehatan dan klinik Remal Gaza menyebabkan beberapa staf yang bekerja di laboratorium tes Covid-19, terluka," tambahnya.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Selasa (18/5/2021) menyatakan lebih dari 52.000 orang mengungsi akibat pengeboman rumah-rumah warga Palestina di Gaza.

"Warga Palestina yang terlantar saat ini mencari perlindungan di 50 sekolah milik UNRWA di Gaza dan menghadapi banyak kendala, termasuk kekurangan obat-obatan dan makanan," kata OCHA dalam pernyataannya.

Menurut laporan PBB, lebih dari 100 apartemen hancur total, sedikitnya 300 unit rumah rusak parah, dan sekitar 50 fasilitas pendidikan, termasuk sekolah, taman kanak-kanak dan gedung Kementerian Pendidikan Jalur Gaza, rusak akibat serangan rezim Zionis di wilayah tersebut.

Rezim Zionis bahkan tidak peduli dengan pusat-pusat medis, dan sejauh ini telah menghancurkan enam rumah sakit, dua klinik dan satu fasilitas milik Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza.

PBB mengatakan operasional listrik di Gaza telah berkurang dari delapan jam per hari menjadi kurang dari enam jam. Kondisi ini telah mengganggu sistem perawatan kesehatan, pasokan air bersih dan fasilitas vital lain yang bergantung pada listrik.  (RA)

 

Tags