Jun 21, 2021 11:31 Asia/Jakarta

Sayid Ebrahim Raisi telah ditetapkan sebagai pemenang pemilu presiden Iran pada 19 Juni lalu, sekarang muncul pertanyaan seperti apa kebijakan luar negeri Iran di Asia Barat (Timur Tengah) di bawah pemerintahan Raisi?

Pemerintah baru Republik Islam Iran yang dipimpin oleh Raisi akan mulai bekerja pada Agustus mendatang.

Dari segi pemikiran dan orientasi politik, Raisi diketahui dekat dengan kubu konservatif Iran. Di bidang politik luar negeri, kubu konservatif tidak mempercayai Barat khususnya Amerika Serikat, bergerak untuk menetralisir sanksi, dan mereka percaya pada independensi dan martabat negara.

Kalangan konservatif Iran percaya pada negosiasi dan dialog, tetapi untuk menyelesaikan persoalan negara, Tehran tidak boleh hanya bergantung pada negosiasi.

Dalam kebijakan regional, kelompok konservatif percaya pada perlawanan, memprioritaskan penguatan hubungan dengan semua negara di kawasan. Mereka percaya bahwa rezim Zionis Israel adalah musuh Iran, dan mereka juga percaya intervensi AS di kawasan harus dilawan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa kebijakan pemerintahan baru Iran mengenai wilayah Asia Barat memiliki tiga fokus utama.

Warga Iran merayakan kemenangan Sayid Ebrahim Raisi dalam pemilu presiden Iran ke-13.

Fokus pertama adalah memperkuat poros perlawanan di kawasan untuk melawan rezim Zionis. Semua kelompok perlawanan menyambut baik kemenangan Sayid Ebrahim Raisi dalam pemilu presiden Iran.

Menanggapi kemenangan Raisi di Iran, Kementerian Luar Negeri rezim Zionis menggunakan diksi yang bersumber dari keprihatinan besar Israel atas munculnya sebuah pemerintah di Iran yang percaya pada resistensi.

Menyusul kemenangan faksi-faksi perlawanan Palestina dalam perang terbaru di Gaza, Raisi dalam sebuah pesan kepada mereka mengatakan, “Rudal-rudal perlawanan telah menyingkap kerentanan keamanan rezim Zionis lebih dari sebelumnya, dan tekad kuat rakyat Palestina mampu mengalahkan sistem pertahanan Israel yang berlapis-lapis.”

Fokus kedua kebijakan regional pemerintahan Raisi adalah memperkuat hubungan dengan semua negara di kawasan termasuk Arab Saudi. Ia juga menaruh perhatian pada masalah Dunia Islam, tetapi ia menolak sektarianisme, baginya negara-negara Muslim harus dirangkul tanpa mempertimbangkan Syiah atau Sunni.

Dalam pandangan presiden terpilih Iran dan kubunya, kepentingan negara dapat dipenuhi dengan cara mempererat hubungan khususnya di bidang ekonomi dengan negara tetangga dan kawasan.

Raisi saat mendaftar sebagai kandidat presiden Iran, menuturkan kebijakan luar negeri adalah sebuah sistem interaksi dengan semua negara, terutama para tetangga. Kami akan berinteraksi dengan mereka yang tidak memiliki permusuhan dengan cara yang ramah dan bermartabat.

Oleh karena itu, prioritas pemerintahan mendatang Iran adalah berinteraksi dengan negara tetangga dan negara-negara di wilayah Asia Barat, Asia Tengah, dan Kaukasus.

Fokus ketiga kebijakan luar negeri pemerintah baru Iran adalah melawan campur tangan AS di kawasan. Raisi tidak menentang negosiasi dengan Washington, tetapi ia percaya bahwa ekonomi negara tidak membutuhkan lampu hijau dari AS. Menurutnya, intervensi AS di kawasan bukan hanya tidak memberikan rasa aman, tetapi merupakan salah satu pemicu utama ketidakamanan yang meluas di Asia Barat.

Sayid Ebrahim Raisi – seperti semua orang Iran – menganggap pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh pemerintah AS sebagai sebuah kejahatan. Ia percaya bahwa balasan yang kuat terhadap kejahatan ini adalah mengusir pasukan AS dari wilayah Asia Barat. (RM)

Tags