Okt 22, 2021 16:23 Asia/Jakarta
  • Acara peresmian gedung baru Sekretariat ASEAN di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (dok)
    Acara peresmian gedung baru Sekretariat ASEAN di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (dok)

Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah mengatakan, ASEAN harus melakukan "telaah nurani" pada kebijakan non-intervensi yang diterapkannya selama puluhan tahun, mengingat kondisi kritis di Myanmar saat ini.

Lebih dari 1.000 warga sipil dilaporkan tewas dalam tindakan keras terhadap oposisi dan aksi protes sejak kudeta 1 Februari lalu.

"Saya mengingatkan bahwa ASEAN terdiri dari 10 negara anggota. Meskipun masalah di Myanmar adalah lokal dan nasional, itu berdampak pada kawasan, dan kita juga harus mengakui kekhawatiran sembilan negara anggota lainnya," kata Saifuddin dalam dialog virtual tentang situasi HAM di Myanmar, Kamis (21/10/2021).

"Saya juga menyatakan fakta bahwa kita tidak dapat menggunakan prinsip non-intervensi sebagai tameng untuk menghindari masalah yang ditangani," tambahnya seperti dikutip dari laman Republika.

Ini adalah sebuah kritik yang jarang dilakukan oleh seorang menteri luar negeri ASEAN terhadap salah satu prinsip persemakmuran itu.

Menlu Malaysia menegaskan, prinsip non-intervensi telah berkontribusi pada ketidakmampuan ASEAN untuk membuat keputusan yang efektif dengan cepat.

Dia lantas mengusulkan langkah menuju kebijakan baru tentang keterlibatan konstruktif, yang disebutnya prinsip non-indiferen. (RM)

Tags