Des 05, 2021 13:16 Asia/Jakarta
  • Foto Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Zuraida Kamaruddin (kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto.
    Foto Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Zuraida Kamaruddin (kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto.

Indonesia dan Malaysia yang tergabung dalam Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit atau CPOPC sepakat menerapkan strategi untuk menghadapi kampanye negatif oleh pasar di Eropa terkait minyak kelapa sawit. Salah satu strategi yang digulirkan adalah kampanye produk kelapa sawit berkelanjutan.

Hal itu mengemuka dalam Pertemuan Tingkat Menteri Ke-9 CPOPC yang dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Datuk Zuraida Kamaruddin di Jakarta, Sabtu (4/12/2021).

Airlangga mengemukakan, CPOPC saat ini beranggotakan Indonesia dan Malaysia yang menguasai 85 persen pasar minyak kelapa sawit dunia. Rencana bergabungnya empat negara yang saat ini berstatus negara pengamat untuk menjadi anggota tetap CPOPC, yakni Kolombia, Papua Niugini, Honduras, dan Ghana, dinilai akan memperkuat penguasaan pasar minyak kelapa sawit di dunia menjadi 92 persen, serta kampanye kelapa sawit berkelanjutan.

Saat ini, CPOPC fokus pada minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan makanan. Ekspor minyak kelapa sawit ke Eropa terus meningkat walau ada upaya beberapa negara produsen untuk mengeluarkan kelapa sawit dari produk mereka. Namun, CPOPC akan terus mengampanyekan minyak kelapa sawit berkelanjutan dan menugaskan beberapa konsultan publik di Eropa.

Selain itu, CPOPC mengadopsi kerangka prinsip global untuk minyak kelapa sawit berkelanjutan dengan melibatkan kemitraan internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk percontohan pengembangan minyak nabati yang berkelanjutan. Ini sejalan dengan program prioritas untuk meningkatkan penerimaan minyak kelapa sawit secara global, termasuk oleh produsen minyak nabati lainnya.

Datuk Zuraida mengatakan, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen utama kelapa sawit dunia harus bersinergi dan memperkuat aksi yang harmonis dan senada untuk memudahkan dalam menangani isu kampanye negatif dari negara-negara Barat. Pasar sawit global harus bisa dilanjutkan dengan cara-cara yang lestari dan memberikan produk yang lebih berkualitas.

”Kita harus menangkis persepsi-persepsi yang kurang tepat dan banyaknya asumsi tanpa data yang akurat,” ujar Zuraida. (Sumber: Kompas.com)

Tags