May 24, 2022 20:35 Asia/Jakarta
  • Tajuddin Abdul Rahman, Malaysia
    Tajuddin Abdul Rahman, Malaysia

Anggota Parlemen Malaysia untuk Pasir Salak, Tajuddin Abdul Rahman telah menepis kritik atas pengangkatannya sebagai duta besar (dubes) untuk Indonesia, sambil mencatat bahwa beberapa dari apa yang dikatakan terhadap dirinya tidak adil.

Dilansir dari Channel NewsAsia (CNA), Minggu (23/5/2022), keputusan Putrajaya untuk memilih politisi kontroversial berusia 74 tahun dan mantan chairman perusahaan transportasi umum Prasarana untuk menggantikan diplomat senior Zainal Abidin Bakar itu telah banyak dikritik.
 
Media Malaysia, Utusan Malaysia, melaporkan Tajuddin telah mengatakan bahwa dirinya lebih nyaman berdiam diri untuk saat ini, dan hanya akan berkomentar pada waktu yang tepat.
 
Dia, bagaimanapun telah mengambil hati beberapa kritik dan tuduhan, yang dia katakan tidak adil kepadanya. “Saya tidak ingin membuat pernyataan apa pun karena banyak yang telah menulis begitu banyak, beberapa di antaranya tidak adil bagi saya," ungkap Tajuddin, lapor harian Malaysia itu.
 
“Mereka tidak mengenal saya, tetapi hanya sebagai orang tua padahal sebenarnya saya telah mengabdi kepada pemerintah, negara, dan masyarakat selama lebih dari 45 tahun, sejak usia 25 tahun,” tambah dia.
 
“Saya akan diam untuk saat ini dan hanya akan berbicara ketika saatnya tiba,” tambahnya, usai menghadiri open house Hari Raya di Kuala Terengganu pada Jumat (2/5/2022), menurut Utusan. Tajuddin dilaporkan telah mengatakan bahwa dirinya akan berangkat ke Indonesia pekan ini ketika dia akan mengambil jabatannya sebagai duta besar.
 
PM Ismail Sabri: Pengangkatan Tajuddin disetujui Jokowi 
 
Perdana Menteri (PM) Malaysia, Ismail Sabri Yaacob, mengonfirmasi pada Rabu (18/5/2022), bahwa penunjukan baru Tajuddin sebagai dubes untuk Indonesia telah disetujui oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) Ismail Sabri mencatat bahwa Tajuddin telah menerima surat dari presiden Indonesia atas penunjukan tersebut.
 
“Kami telah sepakat untuk menunjuk (Tajuddin sebagai duta besar) dan Indonesia juga telah menyetujuinya,” kata Ismail Sabri dikutip dari Bernama. Dia juga menunjukkan bahwa Tajuddin adalah seorang politisi berpengalaman. PM Malaysia mengatakan bahwa semua orang harus menunggu sampai dia memulai tugasnya sebagai dubes untuk Indonesia.
 
Kritik-kritik terhadap Tajuddin 
 
Tajuddin, yang menjabat sebagai ketua Prasarana Malaysia Berhad, sebuah perusahaan transportasi umum milik pemerintah, dikritik karena penanganannya terhadap tabrakan Light Rail Transit (LRT) di Kuala Lumpur pada tahun lalu. Dalam konferensi pers setelah kecelakaan di dekat KLCC, Tajuddin dilaporkan mengatakan bahwa kecelakaan yang menyebabkan lebih dari 210 penumpang terluka adalah dua kereta yang "berciuman".
 
Layanannya sebagai ketua Prasarana dihentikan dengan segera menyusul kritik publik atas perilakunya selama konferensi pers. Dia tidak asing dengan kontroversi. Tajuddin juga pernah menyebut anggota parlemen Muar Syed Saddiq Abdul Rahman sebagai "anak" selama debat parlemen yang panas pada 2020.
 
Pada tahun 2015, ketika menjabat sebagai wakil menteri pertanian, dia mengatakan bahwa komunitas Tionghoa akan "ditampar" jika mereka mencari bantuan dari luar negeri atas belibis mereka. Berita tentang penunjukan Tajudin menarik reaksi keras dari oposisi di Malaysia, dengan beberapa meminta penunjukan itu untuk ditarik.
 
Anggota parlemen dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) Sim Tze Tzin telah meminta Ismail Sabri untuk menjelaskan keputusan pemerintah mengangkatnya, dengan mengatakan bahwa Tajuddin tidak layak untuk mengisi posisi penting seperti itu.
 
Anggota parlemen PKR lainnya Maria Chin Abdullah juga mempertanyakan apakah dengan penunjukan itu, Tajuddin juga akan mundur sebagai anggota parlemen Pasir Salak.
 
"Jika Tajuddin tidak mundur sebagai anggota parlemen, itu berarti dia tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki pandangan jauh ke depan apabila tidak memikirkan pemilihnya," kata Maria Chin seperti dikutip oleh Free Malaysia Today.
 
Sementara itu, sebuah petisi online untuk menola penunjukkan Tajuddin sebagai dubes Malaysia untuk Indonesia telah dimulai pekan lalu oleh sebuah kelompok yang menyebut diri mereka sebagai Bangsa Malaysia. Petisi ini dilaporkan telah mengumpulkan lebih dari 20.000 tanda tangan sejauh ini.
 
Di Jakarta, Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan bahwa penjukkan Tajuddin sebagai Dubes Malaysia untuk Indonesia adalah hak prerogatif pemerintah Malaysia.
 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah, mengatakan Indonesia ingin menjauh dari urusan dalam negeri Malaysia. “Kami menyadari berbagai komentar di media lokal terkait dengan dinamika politik domestik Malaysia. Jangan sampai kita terlibat,” katanya. (kompas.com)

Tags