Sep 16, 2022 20:28 Asia/Jakarta
  • mata uang ringgit Malaysia
    mata uang ringgit Malaysia

Ringgit tergelincir lebih jauh ke level terendah baru selama 24 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan pada hari Rabu (14/9/2022).

Pergerakan ringgit tersebut sejalan dengan harga minyak yang lebih rendah karena lebih banyak investor beralih ke aset safe-haven. Pada pagi hari waktu setempat, mata uang Negeri Jiran tersebut turun ke level 4,5200/5220 melawan greenback dari 4,5070/5085 pada penutupan kemarin.
 
Tertekannya ringgit memunculkan spekulasi bahwa Malaysia berisiko tersengat resesi.
 
Menteri Keuangan Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz menegaskan bahwa Malaysia tidak mengalami krisis ekonomi hanya karena ringgit diperdagangkan pada level rendah terhadap greenback.
 
Dia menjelaskan bahwa kinerja ringgit harus dilihat secara holistik, tidak hanya dibandingkan dengan dolar AS, karena mata uang lokal juga telah menguat terhadap mata uang lainnya. Ringgit memang diperdagangkan lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama.
 
Mata uang tersebut menguat terhadap dolar Singapura menjadi 3,2153/2174 dari penutupan Selasa (13/9/2022) di 3,2320/2333 dan terapresiasi terhadap yen Jepang menjadi 3,1282/1301 dari sebelumnya 3,1690/1703.
 
Itu juga telah menguat terhadap pound Inggris pada level 5,1989/2012 dari level 5,2768/2786 kemarin. Ringgit juga meningkat terhadap euro menjadi 4,5105/5125 dari sebelumnya 4,5818/5833.
 
Trader ActivTrades Dyogenes Rodrigues Diniz mengatakan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada 8,3 persen, dibandingkan perkiraan 8,1 persen.
 
"Pembacaan yang lebih tinggi ini membuat investor bertanya-tanya tentang seberapa besar kenaikan suku bunga yang bisa kita lihat pada pertemuan Federal Reserve berikutnya pada 21 September," paparnya dikutip dari Bernama dan Channel News Asia.
 
"Sebelum rilis data CPI, pasar memperkirakan kenaikan 0,50 hingga 0,75, tetapi sekarang banyak yang menaikkan perkiraan mereka menjadi 0,75 persen hingga kenaikan 1 persen," katanya.
 
Diniz mengatakan pasar telah merespons data dengan kuat, menghasilkan apresiasi kuat lainnya dari dolar AS terhadap mata uang lainnya. (CNBC Indonesia)

Tags