Sep 28, 2022 11:42 Asia/Jakarta
  • PM Malaysia Bertemu Presiden UEA, Ini Isu yang Dibahas

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk membahas kerja sama baru mulai dari ketahanan pangan hingga energi baru terbarukan (EBT).

Ismail Sabri di akun media sosialnya hari Rabu (28/9/2022) menyinggung pertemuan dengan Presiden UEA dengan mengatakan, "Yang Mulia Sheikh Mohamed dan saya membahas beberapa perkembangan di arena regional dan internasional dan bertukar pandangan tentang isu-isu yang menjadi kepentingan bersama,".

Dalam pertemuan yang terjadi di kediaman Presiden Uni Emirat Arab (UEA) tersebut keduanya sepakat untuk memperkuat hubungan bilateral dua negara ke arah kemitraan strategis. Kemitraan tersebut mencakup bidang ekonomi, investasi dan perdagangan, EBT, ketahanan pangan, serta minyak dan gas (migas).

"Alhamdulillah, perdagangan antara Malaysia dan UEA telah meningkat 90,4 persen selama delapan bulan pertama tahun 2022, yaitu 6,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp93,155 triliun (RM25,60 miliar). Dengan data periode delapan bulan ini, tahun 2022 diperkirakan akan mencatatkan nilai tertinggi," ujar dia.

Selain membahas tentang hubungan bilateral dua negara, Ismail Sabri mengatakan juga telah menyampaikan harapannya agar UEA sebagai anggota tidak tetap baru Dewan Keamanan PBB berperan aktif dalam menyoroti isu-isu internasional seperti Palestina dan Myanmar terutama mengenai pengungsi Rohingya  dan lainnya, demi perdamaian regional.

"Semoga hubungan persaudaraan Malaysia-UEA terus berkembang dan langgeng untuk kepentingan rakyat kedua negara," ujar dia.

Hubungan bilateral Malaysia-UEA berusia 40 tahun. Pada 2021, UEA menjadi mitra dagang terbesar Malaysia, tujuan ekspor kedua dan sumber impor terbesar kedua di antara negara-negara Asia Barat.

Nilai total perdagangan Malaysia dengan UEA meningkat sebesar 7,9 persen menjadi RM22,29 miliar atau 5,38 miliar dolar AS (sekitar Rp73,34 triliun) dibandingkan dengan RM20,65 miliar atau 4,93 miliar dolar AS (sekitar Rp67,912 triliun) pada 2020.(PH)

Tags