Jul 01, 2021 08:01 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Zionis Israel Yair Lapid tiba di Uni Emirat Arab dalam kunjungan resmi, Rabu (29/06/2021).

Selama perjalanan dua hari, Lapid akan meresmikan kedutaan rezim Zionis di Abu Dhabi dan konsulatnya di Dubai.

Menteri Luar Negeri Zionis Israel Yair Lapid

Poin pertama dari perjalanan ini adalah kunjungan resmi pertama seorang pejabat rezim Zionis ke Uni Emirat Arab sejak pengumuman perjanjian normalisasi pada Maret 2020 dengan mediasi Amerika Serikat.

Poin kedua tentang perjalanan ini adalah bahwa pesawat Lapid terbang di atas Arab Saudi untuk mencapai Uni Emirat Arab. Hal ini menunjukkan bahwa Riyadh juga mendukung normalisasi hubungan antara rezim reaksioner Arab dan rezim Zionis. Bahkan dapat dikata persetujuan dan lampu hijau ini dengan tujuan membuka jalan bagi Riyadh sendiri untuk memasuki normalisasi hubungan dengan Tel Aviv di masa depan tanpa masalah.

Sebelumnya, mantan Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan melakukan kunjungan ke UEA Maret lalu. Bila itu terjadi, ia menjadi perdana menteri Israel pertama yang melakukan kunjungan semacam itu. Namun sesuai dengan klaim pihak zionis, kunjungan itu dibatalkan karena perselisihan dengan Yordania soal melintasi wilayah udaranya.

Poin ketiga dari perjalanan ini adalah bahwa satu hari setelah pertemuan Presiden Rezim Zionis, Reuvin Rivlin, dengan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berlangsung di Gedung Putih, ia membahas kebijakan pendahulunya Donald Trump yang menyatakan dukungannya dalam normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan rezim Zionis.

Selain itu, tindakan UEA ini, bersama dengan beberapa negara Arab lainnya, bak tusukan belati ke punggung rakyat Palestina dan perjuangan Palestina, yang harus ditanggung oleh mereka dari kaum muslimin.

Menurutnya, Amerika Serikat mendukung penuh normalisasi hubungan antara Zionis Israel dengan negara-negara Timur Tengah dan Afrika, yang menunjukkan bahwa kebijakan AS terhadap rezim Zionis belum berubah.

Poin keempat menyangkut periode waktu. Dengan kata lain, Lapid melakukan perjalanan ini sambil menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Naftali Bennett, pemimpin "Partai Yamina" selama dua tahun. Sebenarnya, pergerakan rezim Zionis ini bertujuan untuk menarik dukungan Amerika Serikat dan rezim-rezim reaksioner regional bagi kabinet Zionis yang rapuh. Kabinet yang berusaha memulihkan reputasi rezim Zionis dalam menghadapi serangan rudal yang mengerikan, yang telah meneror semua kota-kota Zionis.

Sementara rezim-rezim reaksioner Arab telah mengaitkan keamanan mereka dengan keamanan rezim Zionis, di mana Perlawanan dengan melakukan serangan rudal dan menciptakan kepanikan di seluruh pemukiman dan kota-kota Zionis, dan mempertanyakan apa yang disebut sistem Iron Dome, telah menciptakan perimbangan baru dari sisi kekuatan dan pencegahan.

Hal ini menciptakan situasi baru di mana tidak hanya Zionis, tetapi juga rezim-rezim ini, yang telah berlindung pada Zionis untuk bertahan hidup, menjadi ketakutan. Oleh karena itu, Lapid dalam perjalanan ini berusaha untuk kembali meyakinkan rezim-rezim ini untuk mempengaruhi dan mengeksploitasi mereka.

Negara-negara Arab pesisir Teluk Persia dan rezim Zionis Israel

Dalam hal ini, apa yang UEA dan beberapa negara Arab yang telah memisahkan diri dari rakyatnya dan bersandar pada tembok rapuh Zionis harus tahu bahwa, seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman normalisasi hubungan rezim ini dengan Mesir dan Yordania, penampilan semacam itu tidak akan memberi mereka keamanan.

Rezim Zionis Israel tidak akan bisa menjadi pihak yang dipercaya bagi mereka. Selain itu, tindakan UEA ini, bersama dengan beberapa negara Arab lainnya, bak tusukan belati ke punggung rakyat Palestina dan perjuangan Palestina, di mana mereka harus menanggung balasannya dari kaum muslimin.

Tags