Jul 04, 2021 08:45 Asia/Jakarta

Serangan artileri koalisi Saudi di provinsi Saada, Yaman utara, telah menewaskan dan melukai 92 orang.

Agresi koalisi Saudi terhadap Yaman akan segera melewati bulan ke-76. Pada bulan lalu, perang terhadap Yaman diperkirakan akan bergerak ke arah penghentian atau pengurangan serangan harian, tetapi intensitas serangan ternyata meningkat, terutama di bagian utara negara itu.

Serangan udara koalisi Saudi ke Yaman

Dalam serangan artileri koalisi Saudi pada hari Kamis dan Jumat saja (1 dan 2 Juli), 100 warga sipil tewas dan terluka. Sedikitnya 12 orang tewas dan 80 terluka dalam serangan artileri oleh koalisi agresor Saudi di daerah pasar al-Raqu di kota Munabih di provinsi Saada Jumat malam (2 Juli). Koalisi Saudi juga menargetkan daerah al-Raqu dengan roket dan artileri pada hari Kamis, yang menewaskan dua orang Yaman dan melukai enam lainnya.

Serangan itu terjadi saat koalisi Saudi melanjutkan pengepungannya di Yaman.

"Larangan kapal yang membawa bahan bakar ke pelabuhan al-Hudaidah, meskipun memiliki izin, adalah genosida. Jutaan anak yang sakit berada dalam risiko kematian massal akibat blokade Yaman yang terus berlanjut dan penolakan masuknya obat-obatan," kata Amer al-Marani, Menteri Transportasi Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman, memperingatkan pengepungan yang terus berlanjut.

Pertanyaannya sekarang adalah apa penyebab babak baru serangan dan tidak efektifnya dialog politik?

Faktor pertama adalah bahwa Arab Saudi dan Amerika Serikat berusaha untuk bernegosiasi dengan persyaratan mereka sendiri dan hanya untuk menghentikan serangan militer. Sementara itu, Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman, yang mencakup Ansarullah dan sekutunya, selain menghentikan serangan dan mengakhiri pengepungan, menyerukan penarikan pasukan pendudukan dari Yaman.

Faktor ketiga dari kelanjutan serangan, karena peringatan tentang memburuknya situasi kemanusiaan di Yaman tidak menjadi langkah praktis untuk mencegah serangan.

Saudi menolak untuk meninggalkan Yaman karena mereka berusaha menduduki bagian-bagian penting Yaman selama perang enam tahun, seperti yang mereka lakukan pada dekade pertama abad ke-20, dengan menambahkan sebagian geografi negara itu ke wilayah Saudi.

Faktor kedua dalam kelanjutan serangan adalah bahwa Amerika Serikat membela tindakan Saudi ini. Dalam dua bulan pertama keberadaannya, pemerintah Biden mengkritik kelanjutan perang koalisi Saudi melawan Yaman dan bahkan mengumumkan akan mengakhiri dukungannya untuk Arab Saudi dalam perang ini. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Biden menjadi lebih selaras dengan koalisi Saudi terhadap Yaman.

Dalam hal ini, Kementerian Kehakiman AS pada 22 Juni melakukan tindakan permusuhan, dengan memblokir jaringan dan media Perlawanan termasuk situs resmi Hizbullah Irak, al-Alam, al-Masirah, al-Nabaa, al-Forat, Karbala, al-Luluah, al-Kawthar, al-Naeem, Paltoday, dan Afaq.

Media-media ini menjadi satu-satunya media informasi perang melawan kelompok teroris dan Perlawanan Yaman terhadap agresi pemerintah Saudi. Langkah pemerintah AS itu menjadi sinyal bagi koalisi Saudi untuk melanjutkan serangannya ke Yaman.

Faktor ketiga dari kelanjutan serangan, karena peringatan tentang memburuknya situasi kemanusiaan di Yaman tidak menjadi langkah praktis untuk mencegah serangan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan beberapa organisasi internasional telah berulang kali memperingatkan bahwa Yaman menghadapi krisis kemanusiaan terburuk dalam dua dekade pertama abad ke-21 sebagai akibat dari perang koalisi Saudi, tetapi PBB tidak melakukan apa pun untuk menghentikan perang. Dengan kata lain, kelambanan PBB adalah semacam konfirmasi serangan terhadap Yaman.

Tags