Jul 06, 2021 09:33 Asia/Jakarta

Dalam beberapa hari terakhir, sumber-sumber berita telah melaporkan kelanjutan dan bahkan peningkatan jumlah eksekusi di Arab Saudi, di mana kepala terdakwa dipenggal secara brutal. Sementara negara-negara Barat serta organisasi dan lembaga internasional mengabaikan kejahatan tersebut karena menerima dolar minyak mereka dari Riyadh, dan dalam bentuk kebijakan ganda, justru mengkritik negara lain.

Terkait hal ini, situs Saudileaks baru-baru ini mengungkapkan bahwa hukuman mati di Arab Saudi selama enam bulan pertama tahun ini (2021) meningkat dibandingkan tahun lalu, Sejak Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi, mengambil alih kekuasaan di Arab Saudi pada tahun 2017, ia mencoba untuk menunjukkan wajahnya mewakili seorang tokoh progresif.

Proses hukuman mati tanpa melewati pengadilan di Arab Saudi

Dalam hal ini, Bin Salman mengambil beberapa tindakan dangkal dan dramatis seperti membolehkan perempuan mengemudi, dan bahkan mengklaim bahwa dirinya berusaha untuk mengurangi jumlah eksekusi mati di negara ini.

Namun peristiwa berikutnya termasuk pembunuhan brutal jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul serta penangkapan dan eksekusi aktivis media sosial dan bahkan penangkapan massal pangeran Saudi untuk menarik tebusan dari mereka, telah membuka kedok Bin Salman yang sebenarnya. Sekarang citra Bin Salman menjadi seorang anti-kemanusiaan, tapi itu tidak cukup untuk menggerakkan lembaga-lembaga internasional.

Dalam konteks ini, Organisasi Hak Asasi Manusia Eropa-Saudi baru-baru ini mengumumkan bahwa pihak berwenang Saudi telah mengeksekusi mati 838 orang dari tahun 2015 hingga April 2021. Sementara itu, menurut laporan organisasi yang sama, angka yang tercatat sejak awal 2021 menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah eksekusi yang dilakukan pada akhir tahun ini akan berkali-kali lipat dari tahun lalu.

Arab Saudi mengeluarkan hukuman mati bagi para aktivis dan kritikus sosial, sementara komunitas internasional dan negara-negara Barat menutup mata terhadap tindakan Al Saud dan justru mengkritik negara lain. Media-media Saudi juga mengkritik perlakuan beberapa pemerintah terhadap para perusuh di beberapa negara di kawasan dan berusaha menunjukkan keburukan mereka.

Sejatinya, Putra Mahkota Saudi secara fisik menghapus para pengritiknya dengan sekecil kecurigaan dan berbagai alasan. Dalam hal ini, ada beberapa laporan yang baru dipublikasikan yang menunjukkan bahwa mantan Putra Mahkota Saudi Mohammed Bi Nayef juga telah disiksa dengan kejam sedemikian rupa sehingga ia tak dapat berjalan tanpa bantuan orang lain.

Sementara itu, sekalipun berbagai organisasi internasional memilih untuk bungkam, tapi beberapa yang lain, seperti Human Rights Watch, telah berulang kali mengkritik penumpasan kebebasan berekspresi, hukuman mati dan pemenjaraan para demonstran dan aktivis hak asasi manusia. Namun bagaimanapun juga, kasus-kasus Al Saud belum diangkat di forum internasional, termasuk Dewan Hak Asasi Manusia.

Arab Saudi menyerahkan setiap orang militer atau sipil kepada regu eksekusi dengan pedang atau tembakan dengan berbagai dalih. Pada saat yang sama, Riyadh memberi dukungan keuangan dan senjata kepada para pelaku subversif dan kelompok-kelompok teroris untuk menumbangkan sebuah negara atau membuat kekacauan di sana.

Dalam hal ini, ada berbagai laporan terbaru tentang eksekusi terhadap Fahd bin Turki bin Abdul Aziz, keponakan Raja Arab Saudi dan panglima tinggi pasukan negara ini di Yaman, dieksekusi oleh regu tembak karena merencanakan kudeta untuk menggulingkan Salman bin Abdul Aziz dan Mohammed bin Salman yang menjadi bukti bagi apa yang diklaim.

Fahd bin Turki bin Abdul Aziz, keponakan Raja Arab Saudi

Sejatinya, Putra Mahkota Saudi secara fisik menghapus para pengritiknya dengan sekecil kecurigaan dan berbagai alasan. Dalam hal ini, ada beberapa laporan yang baru dipublikasikan yang menunjukkan bahwa mantan Putra Mahkota Saudi Mohammed Bi Nayef juga telah disiksa dengan kejam sedemikian rupa sehingga ia tak dapat berjalan tanpa bantuan orang lain. (SL)

Tags