Jul 07, 2021 09:12 Asia/Jakarta

Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah dalam pidatonya Senin (05/07/2021) malam mengutip langkah AS memblokir situs-situs yang berafiliasi dengan Perlawanan dan menjelaskan beberapa alasan utamanya.

Pada malam hari tanggal 22 Juni, Departemen Kehakiman AS memblokir situs beberapa jaringan Perlawanan, termasuk al-Alam, Press TV dan al-Masirah. Banyak tokoh, kelompok dan media bereaksi terhadap langkah pemerintah AS, dan menyebutnya sebagai pelanggaran kebebasan berekspresi.

Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah

Sayid Hassan Nasrallah, dalam pidatonya Senin malam, menunjukkan aspek lain dari perang media musuh ini. Nasrallah menyebutkan tiga faktor: ekspos, kredibilitas konten, dan pengaruh media Perlawanan sebagai alasan utama babak baru perang media Amerika Serikat.

Sayid Hassan Nasrallah mengatakan, salah satu alasan utama langkah AS adalah pengungkapan substansi kebijakan Washington di kawasan Asia Barat oleh media-media Perlawanan. Dalam hal ini, merujuk pada dua isu fitnah ISIS dan peran Amerika Serikat dalam kebijakan Israel.

Sekretaris Jenderal Hizbullah di Lebanon percaya bahwa "salah satu tujuan fitnah hitam atau Daesh (ISIS) adalah untuk melupakan masalah Palestina". Media perlawanan telah memainkan peran penting dalam mengungkap kebijakan dan tujuan pemerintah AS ini.

Sekjen Hizbullah juga mengatakan bahwa agresi Zionis Israel terhadap Palestina dan negara-negara lain dilakukan dengan dukungan AS, seraya mencatat bahwa kebijakan media-media Poros Perlawanan adalah untuk mengekspos peran AS dalam kejahatan Israel.

“Wacana Perlawanan didasarkan pada hakikat, fakta lapangan dan emosional bangsa dan musuh. Kami tahu dan mengakui kekuatan musuh, dan kami bekerja untuk melawan dan melemahkannya,” kata Nasrallah.

"Musuh sedang mencoba untuk menutup jaringan satelit dan situs internet karena pengaruh media-media ini," kata Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon.

Faktor lain dalam tindakan AS, menurut Sayid Hassan Nasrallah, adalah kredibilitas perilaku dan konten yang dihasilkan oleh media Perlawanan. Sejatinya, kredibilitas konten yang dihasilkan mengekspos wajah dan kebijakan Amerika ke opini publik serta mengurangi pengaruh Amerika dan wacana medianya di kawasan.

Kredibilitas konten media Perlawanan juga telah menyebabkan kekalahan perang psikologis musuh melawan perlawanan.

“Kami tidak menggunakan ilusi dan kebohongan dalam perang psikologis kami, dan salah satu kekuatan terpenting dari media yang berorientasi Perlawanan adalah kejujuran dalam mentransfer berita dan peristiwa,” kata Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, mengacu pada kekalahan perang psikologis musuh.

Sayid Hassan Nasrallah menganggap faktor ketiga dari tindakan AS dalam memblokir situs-situs yang berafiliasi dengan Poros Perlawanan adalah efektivitas media tersebut.

Musuh-musuh Perlawanan selalu berusaha menodai citra Perlawanan dengan menempuh kebijakan “distorsi”. Di Lebanon, Hizbullah diperkenalkan sebagai yang bertanggung jawab atas berbagai masalah yang ada.

Mereka menyerang al-Hashd al-Shaabi di Irak. Sementara di Yaman, mereka menuding Gerakan Ansarullah sebagai yang bertanggung jawab atas berlanjutnya perang, tanpa memperhatikan kebijakan Ansarullah dalam mempertahankan independensi dan merebut kembali daerah-daerah Yaman.

Televisi al-Masirah

Media-media Perlawanan bukan hanya menentang kebijakan ini, tetapi juga memainkan peran dalam kemenangan Perlawanan.

"Musuh sedang mencoba untuk menutup jaringan satelit dan situs internet karena pengaruh media-media ini," kata Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon.

Tags