Jul 15, 2021 20:04 Asia/Jakarta
  • Transformasi Asia Barat, 15 Juli 2021

Dinamika Asia Barat sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai friksi Arab Saudi dan UEA.

Selain itu, Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Irak atas insiden kebakaran di rumah sakit Al Husein, jenderal rezim Zionis mengakui kekuatan militer Hizbullah 10 kali lipat Hamas, Hizbullah mengungkapkan kunci keberhasilan Palestina dalam perang Gaza, terjadi ledakan di kilang minyak Ashdod, menhan Yaman menyatakan Saudi hanya mempunyai satu pilihan mengakui kalah, dan rezim Al Khalifa semakin represif terhadap Rakyat Bahrain

 

 

Friksi antara Saudi dan UEA Meningkat

Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang selama ini akur belakangan sedikit renggang karena ada peningkatan perbedaan dalam menyikapi dinamika regional.

Pertama, indikasi perselisihan awal terlihat pada 2019, ketika UEA memutuskan untuk menarik pasukannya dari koalisi pimpinan Saudi di Yaman selatan. Langkah UEA tersebut menyebabkan Riyadh sendirian dalam perang yang mahal di Yaman. Selain itu, Abu Dhabi juga menjadi gangguan bagi Riyadh dengan mendukung pasukan Dewan Transisi Selatan yang menantang pemerintahan dukungan Saudi di Yaman Selatan.

Kedua, indikasi lain dari perbedaan antara UEA dan Arab Saudi dalam masalah Qatar. Al-Saud meredakan ketegangan dengan Qatar tanpa persetujuan dari UEA, Bahrain dan Mesir. Pakar Arab, Abdul Bari Atwan menilai UEA merasa ditipu Arab Saudi dalam masalah ketegangan dengan Qatar. Muhammed bin Salman, yang tidak puas dengan penarikan pasukan Emirat dari Yaman selatan, tampaknya telah menanggapi tindakan UEA melalui pemulihan hubungan dengan Qatar.

Ketiga, indikasi meningkatnya ketegangan antara UEA dan Arab Saudi berkaitan dengan normalisasi hubungan dengan Israel. UEA adalah negara Arab pertama di kawasan Teluk Persia yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada September 2020. Abu Dhabi memandang Riyadh juga akan bergerak menuju normalisasi hubungan dengan Tel Aviv. Muhammed bin Salman bahkan bertemu dengan mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Arab Saudi, tetapi faktanya Riyadh tidak bergerak menuju normalisasi hubungan dengan Tel Aviv, yang membuat Abu Dhabi tidak senang.

Keempat, indikasi lainnya dari eskalasi perselisihan antara UEA dan Arab Saudi lebih jelas dari tiga tanda lainnya terlihat pada pertemuan OPEC Plus. Perbedaan antara dua produsen utama OPEC ini meningkat pada pertemuan OPEC Plus baru-baru ini yang diangkat ke publik di televisi.

 

Paus Fransiskus

 

Paus Fransiskus Sampaikan Belasungkawa kepada Rakyat Irak

Pemimpin Katolik Dunia, Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa yang terdalam atas terjadinya musibah kebakaran rumah sakit Al Hossein di Irak.

Situs resmi Vatikan melaporkan, Paus Fransiskus, Pemimpin Umat Katolik Dunia dalam pesannya yang disampaikan hari Selasa (13/8/2021), mengungkapkan kesedihannya atas kebakaran di ruang khusus penanganan pasien  Covid-19 di Rumah Sakit Al-Hussein di Nasiriyah, Irak, dan mendoakan korban, keluarga dan orang-orang yang berduka dalam musibah ini.

Di akhir pesan, Paus Fransiskus tetap mengingatkan supaya bersabar, menjaga ketenangan dan kuat serta terus mengingat berkah Tuhan di tengah musibah yang menimpa.

Jumlah korban tewas akibat kebakaran di bagian pasien Covid-19 Rumah Sakit Al-Husein di kota Nasiriyah bertambah menjadi 108 orang, dan melukai sejumlah lainnya.

 

 

Jenderal Zionis Akui Kekuatan Militer Hizbullah 10 Kali Lipat Hamas

Seorang jenderal Zionis mengakui kekuatan Hizbullah Lebanon lebih dari sepuluh kali lipat Hamas, sehingga pasukan Israel harus memiliki kesiapan tinggi untuk menghadapinya.

Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth Senin (12/7/2021) melaporkan, Eli Zamir, Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rezim Zionis pada Minggu malam mengingatkan bahwa tentara rezim Zionis hanya memiliki kemampuan dan kesiapan minimum untuk menghadapi ancaman di berbagai bidang.

Berbicara pada upacara perpisahannya, jenderal rezim Zionis ini menilai kesiapan tentara Israel saat ini minimal dan membutuhkan dukungan kuantitatif dan kualitatif untuk dapat menetralisir ancaman dari berbagai arah.

“Kita mungkin harus mengobarkan perang  yang kompleks dan sulit serta berlarut-larut, dengan tantangan internal, baik di tingkat perbatasan maupun di medan perang itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus memastikan tekad, kesinambungan, dan penyediaan pasukan cadangan yang kuat," ujarnya.

Jenderal rezim Zionis ini menambahkan bahwa serangan baru-baru ini di Gaza terjadi ketika pihak Hizbullah tenang, tetapi kita tahu bahwa front ini (Hizbullah) memiliki kekuatan lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan Hamas.

Sistem Iron Dome Israel juga tidak efektif dalam mencegat roket dan rudal yang ditembakkan oleh kelompok perlawanan Palestina selama perang 12 hari baru-baru ini.

 

Sheikh Naim Qassem

 

Hizbullah Ungkapkan Kunci Keberhasilan Palestina dalam Perang Gaza

Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem mengungkapkan kerja sama intelijen Hizbullah dengan gerakan perlawanan Palestina selama pertempuran Pedang Al Quds.

Sheikh Naim Qassem dalam sebuah acara TV "Hatta Al-Quds", yang ditayangkan jaringan berita Al-Mayadeen hari Kamis (8/7/2021) mengatakan dalam pertempuran Pedang Quds terjadi kerja sama erat intelijen antara Hizbullah dan front perlawanan Palestina yang mempengaruhi keberhasilan dalam perang tersebut.

"Sejak Intifada, bangsa Palestina telah meningkatkan kemampuan mereka dan meraih kemenangan," ujar Wakil Sekjen Hizbullah Lebanon.

Mengenai kemampuan perlawanan dalam menghadapi rezim Zionis, Sheikh Qassem menegaskan, "Kami melihat beberapa hasil perlawanan dalam pertempuran Pedang Quds yang berada di pihak Palestina,".

Wakil sekretaris jenderal Hizbullah memandang kebanyakan orang di Palestina meyakini perlawanan sebagai solusi, dan saat ini front perlawanan telah membentuk sistem pencegahan terhadap serangan musuh.

Pada 10 Mei, rezim Zionis melancarkan perang melawan Palestina di Tepi Barat dan Gaza, tetapi, bertentangan dengan harapannya, mendapat balasan rudal yang sengit dari pasukan perlawanan Palestina hingga rezim ini terpaksa mengakhirinya dengan gencatan senjata.

 

Kilang minyak Ashdod

 

Ledakan di Kilang Minyak Ashdod, Israel

Sumber media rezim Zionis Israel mengabarkan terjadinya ledakan di kilang minyak Ashdod yang terletak di utara Jalur Gaza, dan upaya pemadam kebakaran mengatasi insiden tersebut.

Ledakan yang berasal dari boiler atau pembangkit uap kilang minyak Ashdod itu terjadi pada Selasa (13/7/2021) sore. Segera setelah terdengar bunyi ledakan, pemadam kebakaran dikirim ke lokasi. Ledakan ini menyebabkan kebocoran bahan bakar di kilang minyak, dan pemadam kebakaran terus berusaha mengatasi masalah tersebut. Akan tetapi sampai sekarang penyebab ledakan belum dipublikasikan, dan pihak Israel mengklaim insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa. Sekitar dua bulan lalu juga terjadi ledakan hebat di salah satu pabrik pembuatan senjata canggih termasuk rudal, di Israel. 

 

Mohammed Nasser Al-Atefi

 

Menhan Yaman: Saudi Hanya Punya Satu Pilihan, Akui Kalah !

Menteri Pertahanan Yaman menekankan bahwa koalisi agresor Saudi tidak punya pilihan selain menerima kekalahan dan meninggalkan Yaman.

Kantor berita Saba hari Selasa (13/7/2021) melaporkan, Menteri Pertahanan Yaman Mohammed Nasser Al-Atefi pada Senin malam mengatakan bahwa kendali perang bersejarah dan menentukan melawan di negaranya tidak lagi berada di tangan para agresor, tetapi para komandan dan pemimpin revolusioner Yaman.

"Yaman memiliki kemampuan pertahanan dan ofensif di berbagai tingkat pelatihan, senjata dan taktik, bersama itikad baja rakyat Yaman yang tidak dipatahkan, dan dukungan umat Islam, teruitama yang berada di garis depan perlawanan," ujar menhan Yaman.

"Para agresor akan membayar harga yang mahal jika terus menggunakan kekuatannya untuk menyerang Yaman," tegasnya.

Di bagian lain statemennya, Al-Atefi mengungkapkan bahwa koalisi agresor telah menggunakan milisi teroris, terutama Al Qaeda dan Daesh untuk melawan rakyat Yaman.

Arab Saudi, dengan dukungan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain, telah melancarkan invasi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan melakukan blokade darat, laut dan udara terhadap negara tetangganya itu.

Pecahnya perang yang disulut oleh Arab Saudi dan sekutunya di Yaman sejauh ini telah menewaskan lebih dari 16.000 warga Yaman, melukai puluhan ribu orang, dan membuat jutaan warga Yaman mengungsi.

  

 

Ini Bukti Rezim Al Khalifa Semakin Represif terhadap Rakyat Bahrain

Rezim Al-Khalifa semakin represif terhadap rakyatnya sendiri yang ditangkap karena melancarkan aksi unjuk rasa sejak 2011.

The Independent menerbitkan sebuah laporan yang dirilis oleh lembaga Inggris yang bekerja dengan organisasi hak asasi manusia Bahrain tentang eskalasi penyiksaan yang meningkat enam kali lipat terhadap para pengunjuk rasa dan tahanan politik.

Sejak awal protes di Bahrain pada 2011, hukuman mati di Bahrain telah meningkat 600 persen dan penggunaan penyiksaan meningkat tajam.

Ahmed al-Wada'i, direktur Institut Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Bahrain menyebut tindakan rezim Al Khalifa sebagai bentuk balas dendam.

Pada saat yang sama pemerintah Inggris sedang melatih lembaga-lembaga di Bahrain untuk memfasilitasi hukuman mati terhadap tahanan politik di negara itu.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia ini menekankan bahwa London harus mengutuk penerbitan hukuman mati dan penyiksaan terhadap tahanan politik di Bahrain serta mengambil tindakan yang diperlukan terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan ketidakadilan yang dilakukan rezim Al Khalifa terhadap rakyatnya sendiri.(PH)

 

 

 

Tags