Jul 18, 2021 08:52 Asia/Jakarta

Menyusul pengumuman pengunduran diri Saad al-Hariri, Pemimpin Gerakan 14 Maret Lebanon, dari pembentukan kabinet di negara ini, beberapa gerakan pro-Barat di Lebanon, yang beroperasi dengan dukungan keuangan dan propaganda Arab Saudi dan UEA, berdasarkan skenario yang telah direncanakan menuduh Poros Perlawanan menghalangi pembentukan pemerintahan di Lebanon.

Tuduhan itu muncul ketika Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrallah, dalam pidatonya pada awal 4Juli, mengungkap konspirasi Washington dan beberapa sekutunya di dalam Lebanon serta mengumumkan bahwa Amerika Serikat sedang merencanakan fitnah di Lebanon.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon Sayid Hassan Nasrallah

Saad al-Hariri mengundurkan diri setelah sembilan bulan ditugaskan membentuk kabinet atas prakarsa Prancis. Sementara al-Hariri telah pergi ke istana presiden lebih dari 20 kali selama periode ini dan bertemu dengan Michel Aoun, tetapi dalam praktiknya ia tidak berbuat apa-apa untuk menyelesaikan kondisi krisis ekonomi dan mata pencaharian warga Lebanon.

Al-Hariri membiarkan semua ini terjadi untuk menyiapkan sarana skenario kerusuhan di Lebanon. Skenario yang direncakan oleh Amerika Serikat, Arab Saudi dan rezim Zionis. Skenario yang dirancang dua pekan lalu oleh Edy Cohen, penasihat Benjamin Netanyahu, mantan Perdana Menteri Rezim Zionis, seorang Yahudi keturunan Lebanon, dengan tujuan menghasut rakyat Lebanon melawan pemerintah dan Hizbullah.

Edy Cohen secara eksplisit dan kasar mengekspos tujuan rencanya. Ia menghasut rakyat Lebanon untuk turun ke jalan dan menggambarkan mereka sebagai "rakyat pengecut". Ia berkata kepada mereka, "Tunggu apa lagi? Bukankan kalian sudah tidak memiliki listrik, bensin dan roti? Jadi kapan kalian bangkit?"

"Fitnah Amerika Serikat menyerang bagian mana pun dari kawasan di mana ada kehormatan dan Perlawanan, dan bahwa semua penderitaan di Lebanon saat ini secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh Amerika Serikat," ungkap Sayid Hashim Safi al-Din.

Dengan demikian, situasi Libanon saat ini adalah hasil dari upaya agen-agen asing yang dieksekusi anasir internal dengan tujuan menciptakan kekacauan dan krisis di negara itu. Kenyataan yang ditunjukkan oleh Sayid Hashim Safi al-Din, Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Lebanon, pada hari Jumat (16/07/2021).

"Fitnah Amerika Serikat menyerang bagian mana pun dari kawasan di mana ada kehormatan dan Perlawanan, dan bahwa semua penderitaan di Lebanon saat ini secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh Amerika Serikat," ungkap Sayid Hashim Safi al-Din.

Lebanon telah menghadapi krisis keuangan dan ekonomi yang parah dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai akibatnya, krisis ini telah menyebabkan protes publik yang meluas terhadap korupsi lembaga-lembaga pemerintah dan Saad al-Hariri yang tidak berbuat apa-apa. Akhirnya, Amerika Serikat turut memainkan peran penting dalam memperburuk krisis ekonomi negara itu dengan menjatuhkan sanksi yang tidak adil kepada pejabat Hizbullah dan Lebanon.

Sejalan dengan upaya AS, beberapa ahli di kawasan dan di kalangan domestik percaya bahwa Saad al-Hariri mundur dari kabinet karena tekanan dari Arab Saudi. Hal itu dilakukannya untuk membuka jalan bagi implementasi rencana AS-Saudi. Surat kabar Lebanon al-Binaa baru-baru ini juga merujuk pada skenario ini menulis, "salah satu alasan utama untuk tidak membentuk kabinet Lebanon yang baru adalah campur tangan asing".

Amerika Serikat dan Arab Saudi

Kantor berita al-Nashra baru-baru ini melaporkan bahwa Arab Saudi telah mengirim pesan negatif kepada presiden Lebanon melalui Saad Hariri, dan terus bersikeras untuk menerapkan tuntutan Riyadh dan mengusir tokoh-tokoh Perlawanan, termasuk Hizbullah, dari kabinet Lebanon.

Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa krisis di Lebanon saat ini adalah hasil dari skenario jahat yang direncanakan oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk menghasut di Lebanon dan menyerang Perlawanan.(SL)

Tags