Jul 18, 2021 22:07 Asia/Jakarta
  • Warga Ramallah Tuntut Abbas Mundur
    Warga Ramallah Tuntut Abbas Mundur

Warga Palestina menggelar aksi demo di Tepi Barat Sungai Jordan menuntut pembubaran Otorita Ramallah dan pelengseran Mahmoud Abbas.

Sejak tahun 1993 pemerintahan Otorita Ramallah Palestina dibentuk berdasarkan kesepakatan Oslo dan dua kali warga di Tepi Barat menggelar demonstrasi anti-pemerintahan ini secara besar-besaran. Demo pertama tahun 2012 saat warga Tepi Barat berdemo menentang pemerintahan ini.

Saat itu, tuntutan terpenting demonstran adalah memprotes kenaikan harga bahan pokok, khususnya bahan bakar dan transportasi. Ketika itu, aksi demo setelah enam bulan berlangsung akhirnya redam setelah penanganan sejumlah harga.

Sementara demonstrasi saat ini tercatat aksi demo kedua menentang Otorita Ramallah. Perbedaan demonstrasi saat ini dengan demo tahun 2012 adalah demo tahun 2012 dengan mudah diredam setelah kontrol sejumlah harga, tapi di demo kali ini, warga Tepi Barat di aksinya meneriakkan slogan anti-Mahmoud Abbas dan Otorita Ramallah, serta untuk pertama kalinya mereka menuntut pembubaran pemerintahan ini.

Mahmoud Abbas

Ada sejumlah alasan demo anti-Otorita Ramallah ini meletus. Rakyat Palestina tidak puas dengan sikap damai Otorita Ramallah dengan Israel dan menilanya tidak menjamin kepentingan mereka. Rezim Zionis Israel selama beberapa bulan terakhir mulai melakukan kekerasan terhadap warga Palestina di Quds pendudukan dan Tepi Barat, di mana kekerasan ini juga menjadi pemicu perang 12 hari di bulan Mei.

Selain itu, Otorita Ramallah hanya mengirim surat ke sejumlah organisasi internasional saat menyikapi kejahatan Israel terhadap warga Palestina di Quds dan Tepi Barat. Pemerintahan ini selama perang 12 hari bukan saja tidak mendukung faksi muqawama di Tepi Barat, bahkan melanjutkan perundingan rahasia dan kerja sama keamanan dengan Israel.

Faktor lain yang memicu demonstrasi anti-Otorita Ramallah di Tepi Barat adalah tingkat kekerasan yang dilakukan pemerintahan ini terhadap kritikus dan kubu yang tidak puas. Puncak kekerasan tersebut dilakukan terhadap Nizar Banat, kritikus Otorita Ramallah di mana kekerasan ini berujung pada gugurnya Banat. Kejahatan Banat adalah memprotes Otorita Ramallah dan tuntutan kepada Uni Eropa untuk memutus bantuan kepada pemerintah Palestina ini karena menangguhkan pemilu parlemen dan presiden.

Setelah gugurnya Nizar Banat, warga kota Ramallah di Tepi Barat menggelar konsentrasi di Bundaran al-Manarah menuntut pelaku teror terhadap aktivis ini dihukum dan pengunduran diri pemerintah serta komandan kemanana Otorita Ramallah.

Unit keamanan Otorita Ramallah dengan pakaian preman menyerang demonstran di Ramallah dan melukai sejumlah warga. Teladan dan perilaku kekerasan ini mendorong berlanjutnya aksi demo anti-Otorita Ramallah dan tuntutan pengunduran diri Mahmoud Abbas, karena demonstran Palestina meyakini bahwa Abbas telah kehilangan legalitasnya.

Faktor lain terkait berlanjutnya aksi demo anti-Otorita Ramallah adalah penangguhan pemilu parlemen dan presiden. Rencannaya setelah 15 tahun, akan digelar pemilu parlemen pada 22 Mei, pemilu presiden pada 31 Juli dan pemilu Dewan Nasional Palestina pada 31 Agustus 2021.

Setelah posisi unggul Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) mulai terlihat, Mahmoud Abbas dengan dalih bahwa Israel menolak penyelenggaraan pemilu di Quds pendudukan, mengumumkan penangguhan pemilu parlemen dan dua pemilu lainnya tidak akan digelar. Perilaku ini menjadi faktor pemicu demonstrasi menentang Otorita Ramallah, khususnya presiden pemerintahan ini. Rakyat meyakini dengan penangguhan pemilu, tidak ada ufuk politik yang jelas dan proses tidak digelarnya pemilu setelah 15 tahun masih akan berlanjut. (MF)

 

Tags