Jul 21, 2021 08:31 Asia/Jakarta
  • Bendera Arab Saudi
    Bendera Arab Saudi

Para aktivis Saudi menyerukan demonstrasi pada hari Arafah untuk memprotes penderitaan tahanan politik Al Saud dan penindasan para kritikus dan aktivis, sementara pasukan keamanan Al Saud dikerahkan di jalan-jalan berbagai kota untuk memadamkan protes.

Situasi tapol dan merebaknya penindasan Al Saud menjadi dua alasan utama para aktivis Saudi menyerukan untuk menggelar demonstrasi massal. Ada lebih dari 30.000 tahanan politik di Arab Saudi, banyak di antaranya ditahan tanpa pengadilan.

Pasukan keamanan Arab Saudi sedang berpatroli

Alasan utama pemenjaraan mereka adalah karena mengkritik atau menentang Al Saud dan berbagai tindakan kekerasannya terhadap rakyat Saudi.

Bukan saja mereka tidak diadili dalam pengadilan yang adil, tetapi mereka juga disiksa dengan berbagai cara di penjara Al Saud.

Al-Quds al-Arabi baru-baru ini menulis, "Metode baru Arab Saudi untuk menyiksa tahanan politik dan tahanan kebebasan berekspresi tidak manusiawi dan bertentangan dengan semua prinsip dan hukum hak asasi manusia. Salah satu cara Arab Saudi adalah dengan menempatkan narapidana kriminal di sel tapol agar dapat mengganggu dan menyiksa mereka. Napi kriminal memukuli tahanan politik di Arab Saudi."

Kekerasan terhadap tapol juga meningkat di masa epidemi Corona. Menurut berbagai laporan, pemerintah Saudi mengirim tahanan politik ke sel isolasi dengan dalih mencegah penyebaran virus Corona, tetapi menolak untuk memberi mereka fasilitas kesehatan.

Hal yang sama juga sebenarnya terjadi pada tahanan politik perempuan, dan bahkan lebih parah lagi.

Situasi tahanan politik memicu protes di Arab Saudi. Situs Middle EastI menulis pada 19 Juli, "Perempuan Saudi berkampanye melalui internet minggu ini sebagai bentuk protes atas situasi para tahanan yang buruk di negara ini. Tujuan mereka untuk meningkatkan kesadaran tentang ancaman kesehatan perempuan di penjara-penjara Saudi karena kurangnya produk-produk kesehatan."

Para aktivis Saudi menyerukan demonstrasi pada hari Arafah untuk memprotes penderitaan tahanan politik Al Saud dan penindasan para kritikus dan aktivis, sementara pasukan keamanan Al Saud dikerahkan di jalan-jalan berbagai kota untuk memadamkan protes.

Para aktivis masyarakat sipil juga menyerukan demonstrasi untuk mendukung tahanan politik. Mereka menyerukan diakhirinya penindasan terhadap warga Saudi. Para pengunjuk rasa di media sosial telah menyarankan agar warga Saudi memposting tulisan mereka di dinding, menerbangkan balon, membakar ban, dan merobek gambar raja dan putra mahkota Saudi.

Alih-alih mengindahkan tuntutan rakyat, pemerintah Saudi telah mengerahkan pasukan keamanan di jalan-jalan di berbagai kota, termasuk di bagian timur provinsi al-Qatif yang mayoritas berpenduduk Syiah.

Situasi ini dan mengambil pendekatan keamanan terhadap para pengritik dan warga Arab Saudi yang memprotes sebagian besar disebabkan oleh sifat kekuasaan Al Saud di Arab Saudi.

Sayid Hashem Razavi, pakar urusan Saudi, mengatakan, "Tidak seorang pun di Arab Saudi dapat berpikir untuk mengkritik pemerintah, bahkan memikirkan masalah-masalah seperti ini dapat berujung penjara. Bila seorang kritikus melangkah lebih jauh, nasibnya akan sama seperti Jamal Khashoggi. Cara pemerintah menangani sangat kejam. Arab Saudi bahkan telah mengembalikan para pangeran yang melarikan diri. Tidak ada yang memiliki akses ke ruang politik Saudi, karena sangat tertutup, dan pemerintah memiliki respons yang ketat terhadap setiap langkah."

Bendera Arab Saudi di depan gedung PBB

Poin terakhir adalah bahwa kepasifan dan kebungkaman yang disertai dengan dukungan lembaga internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, dan kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat, menjadi faktor penting dalam melanggengkan dan mengintensifkan kekerasan pemerintah Saudi terhadap warga Saudi, termasuk tahanan politik.

Tags