Jul 23, 2021 15:36 Asia/Jakarta

Sejumlah pejabat dari beberapa negara di wilayah Timur Tengah, termasuk pejabat Irak, telah menjadi target perangkat mata-mata Pegasus Israel.

Aksi spionase selalu menjadi salah satu metode penyusupan dan pencurian informasi dari negara lain. Metode ini masih digunakan sampai sekarang dan Israel dikenal luas sebagai rezim yang kerap memata-matai pejabat negara lain.

Spyware Pegasus adalah perangkat lunak buatan Israel yang dipakai untuk meretas ponsel. Penggunaan Pegasus oleh Israel pertama kali terbongkar pada 2016, ketika ponsel milik aktivis Uni Emirat Arab (UEA), Ahmed Mansoor diretas. Ia kemudian ditangkap oleh pemerintah UEA dan dijebloskan ke penjara sampai sekarang.

Investigasi bersama yang dilakukan oleh konsorsium organisasi berita termasuk, Reuters, The Washington Post, The Wall Street Journal, Aljazeera, dan The Guardian menunjukkan bahwa 50.000 nomor ponsel, termasuk milik pejabat pemerintah, terutama di negara-negara Arab, telah diretas oleh rezim Zionis menggunakan spyware Pegasus.

Meskipun perusahaan Israel NSO, yang merancang perangkat lunak Pegasus, menolak laporan tersebut, namun hasil investigasi ini tidak bersumber dari spekulasi media, tetapi merupakan sebuah penelitian bersama yang dilakukan oleh media-media besar dunia.

Israel juga terbukti memberikan perangkat lunak tersebut ke negara-negara yang memiliki hubungan terbuka dan rahasia dengan mereka. Para pemimpin negara-negara itu juga memanfaatkan Pegasus untuk memata-matai aktivis dan kritikus di dalam negeri.

Negara-negara yang paling banyak menggunakan perangkat lunak ini mencakup Azerbaijan, Bahrain, Hungaria, India, Kazakhstan, Meksiko, Maroko, Rwanda, Arab Saudi, dan UEA.

NSO Group Technologies.

Menurut laporan konsorsium organisasi berita yang menyelidiki Pegasus, sejumlah anggota keluarga kerajaan di negara-negara Arab, setidaknya 65 eksekutif bisnis, 85 aktivis hak asasi manusia, 189 jurnalis dan lebih dari 600 politisi dan pejabat pemerintah, telah menjadi korban peretasan dengan menggunakan Pegasus.

Statistik ini menunjukkan bahwa Israel dan negara-negara pengguna Pegasus sedang mengejar tujuan tertentu, yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Perangkat lunak ini dipakai untuk menekan oposan dan kritikus, mempengaruhi dan menekan pejabat negara lain, serta untuk mencegah penyebaran informasi secara bebas oleh media dan aktivis.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman termasuk salah satu penguasa yang banyak menggunakan perangkat lunak Pegasus.

Salah satu tokoh kunci yang menjadi korban Pegasus adalah Khadija Genghis, tunangan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, yang dibunuh pada Oktober 2018 di Turki. Khadija dimata-matai oleh rezim Saudi, karena ia sangat vokal menyuarakan pengusutan kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

Lebih buruk lagi, Israel menggunakan Pegasus untuk meretas ponsel para pejabat negara lain. Beberapa petinggi Irak termasuk Presiden Barham Saleh, Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi, Ali al-Araji, seorang pejabat tinggi militer, dan Sayid Ammar al-Hakim, pemimpin Gerakan Kebijaksanaan Nasional Irak, termasuk di antara tokoh yang dimata-matai oleh Israel dengan perangkat lunak Pegasus.

Jelas bahwa tindakan Israel memata-matai pejabat negara lain, tidak dapat diterima dan melanggar hukum internasional. Menanggapi aksi spionase rezim Zionis ini, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan jika laporan tersebut dikonfirmasi, (tindakan itu) sama sekali tidak dapat diterima dan bertentangan dengan semua hukum Uni Eropa. (RM)

Tags